Tuesday, October 13, 2015

Selamat datang Hasyim Junior...



Hei, apa kabar Oktober 2015. Semoga lo semua ngejalaninnya dengan penuh harapan baru, semangat baru dan niat yang baru demi masa depan besar yang lo mimpikan.
Banyak yang komen tulisan gue sebelumnya sedih, ada yang baca sampe nangis, bahkan ada yang baru baca judulnya dia udah gak mau lanjutin bacanya karena takut nangis. Makasi buat semua yang udah mampir walaupun menurut kenalan baru gue Riana Maulida yang sempet gue sotoyin dan untungnya dia gak ngambek, tulisan itu harusnya banyak yang komen. Tapi itu gak penting. Karena di sini yaaaa gue pure cuma mau berbagi yang kadang gue suka susah nyari telinga mana yang siap dengerin.
2015 menurut gue benar-benar tahun dimana gue mulai berkenalan dengan alam secara lebih luas. Di tahun ini gue nyicipin sedih, senang, susah, gembira, dan semua menjadi satu paket yang silih berganti. Atas semua yang gue jalani pada akhirnya gue bersyukur dengan segala apa yang ada. Pahit manisnya harus gue telan.
Banyak orang beresolusi dengan segudang mimpi dan harapan di tiap awal tahun, khususnya 2015 kemarin. Ada yang berncana nikah, ada yang pasang target bisa beranak pinak sebanyak mungkin, ada yang targetnya nembak gebetan di bawah pohon pisang, dan masih banyak lagi resolusi-resolusi yang orang-orang rencanakan pada umumnya. Sedangkan gue sendiri, gue gak sempet mikir resolusi apa yang harus jadi target gue di 2015 ini, tapi kenyataannya, rencana Allah lebih fantastis dan lebih besar dari ekspektasi yang gue bayangin, walaupun gue ngejalaninnya harus berdarah-darah dulu. Tapi paling enggak gue puas.
Udah ah, cukup prolognya, hehe… Intinya sekarang gue mau berbagi kesenangan. Kalau di April 2015 kemarin gue sempet berduka cita atas kepergian Bokap gue, tapi di Oktober 2015 ini gue kedatangan personil baru pelengkap keluarga besar gue. Dia anak adik gue, Fira.
Jadi ceritanya, waktu gue baru pulang sholat subuh, jalan kaki bareng ipar gue sambil ngobrol-ngobrol ringan, pas sampai di rumah nyokap gue teriak, “Fira pendarahan, Ki! Keluar cairan terus dari tadi.” Akhirnya gue langsung lapor ke sepupu gue yang dokter yang rumahnya hanya beberapa meter dari rumah gue. Dia pun langsung lari dan gue cepat-cepat nyiapin mobil.
Perlengkapan seadanya di bawa, tujuan pertama ke bidan 24 jam dekat rumah. Sesampainya di sana, ternyata tulisan 24 jam yang terpampang hanya logo. Karena pada kenyataannya, pagar tertutup rapat, lampu-lampu gelap, dan pos satpamnnya pun tidak ada yang jaga. Akhirnya ipar gue mutusin untuk tancap ke rumah sakit besar di jalan alternatif Cibubur. Gue pun langsung tancap gas ke sana.
Sampai di rumah sakit, adik gue langsung masuk IGD, lalu dilarikan ke kamar bersalin. Pemeriksaan pun dilakukan. Kemudian setelah prosesnya berjalan ternyata baru bukaan satu dan untuk sampai bukaan sepuluh kemungkinan masih lama, dan selama itu kondisi bayi harus di observasi.
Gak kebayang, perjuangan ibu buat ngelahirin anaknya, dan sekarang adik gue ngerasain sendiri. Detik demi detik menunggu hasil observasi dan bukaan demi bukaan. Gue berharap cuma satu waktu itu, kalaulah memang ditakdirkan lahir normal, semoga pas pembukaan 10 Jokowi gak usah sok-sok ikutan blusukan ngersesmiin pembukaannya. Yang ada ponakan gue gak jadi lahir,  gara-gara takut liat muka presidennya.
Akhirnya, karena estimasi dokter dan perawat yang bertanggung jawab, proses yang di jalanin adik gue bakalan lama, gue izin balik dulu karena masih harus ada yang diurus.
Sore harinya gue terus update perkembangan adik gue via telepon, dan hasilnya masih belum, masih pembukaan satu. Gue pun jalan ke rumah teman gue di bilangan Sawangan, Depok.
Waktu berjalan dan urusan gue pun kelar, pas jam 20.15, gue ditelepon nyokap, untungnya gue lagi berhenti dari motor sebentar buat ngecek update terbaru, “Fiki dimana? Fira mau Caesar jam 10, Mama mau ke rumah sakit sekarang.”
Posisi gue saat itu masih di daerah Margonda, yang kalau gue jalan normal, sampai di rumah paling cepat kisaran 30-45 menit lebih. Tanpa pikir panjang, gue langsung buru-buru ke rumah, dan Alhamdulillah, cuma 15-20 menit.
Gue cepat berbenah, dan langsung tancap ke ruma sakit bareng nyokap.
Di rumah sakit, adik gue udah dirapihin buat siap-siap masuk ruang operasi. Ruma sakit tempat adik gue bakalan Caesar, yaitu rumah sakit dimana Bokap gue kemarin pembuluh darah di otak. Yaa, kasarnya, di rumah sakit itu Bokap gue meninggal, dan di rumah sakit itu juga cucunya lahir.
Jam di tangan gue menunjukkan pukul 21.10, adik gue siap diantar masuk ruang operasi. Asli, jalan menuju ruang operasi ngingetin gue banget sama Bokap. Karena dari ruang bersalin ke kamar operasi, ngelewatin ruang ICU di mana Bokap mengembuskan nafas terakhirnya. Di koridor itu jug ague bulak-balik masuk ruang ICU buat lihat kondisi Bokap. Dan yang lebih parahnya lagi, pas adik gue masuk ruang operasi, bayangan gue langsung nerawang jauh ke bulan April, dimana Bokap di depan ruang operasi itu pamit dan minta maaf untuk yang terakhir kalinya.
Yaa, begitulah siklus hidup. Ada yang lahir, ada yang meninggal. Ada yang datang, dan harus ada juga yang pergi.
Jam 21.30 operasi dimulai. Untungnya adik gue boleh ditemenin suaminya di dalam ruangan operasi. Gue sama nyokap nunggu di ruang bersalin, sambil beres beres persiapan pindah ke kamar perawatan. Harap-harap cemas tetap ada, walaupn operasi ini gak seberat yang dijalani Bokap. Tapi sedikit banyak, rasa takut di hati tetap ada.
Lama menunggu gue turun ke lantai 1 buat nyari makanan. Sekembalinya gue dari bawah, pas keluar lift ternyata ipar gue. “Alhamdulillah, Bang! Udah lahir”. Syukur gue dalam hati. Memang sudah aturan Allah Sang Maha Penyusun Sekenario hidup. Indah, tapi penuh haru. Entah mengapa Dia sengaja menakdirkan, tempat dimana gue harus menelan sedih, di tempat itu juga gue dipaksa membuang segala sedih itu.

Memang sudah dari lama direncanakan, kalau benar anaknya lahir laki-laki, maka mau diberi nama sama seperti kakeknya, ‘Hasyim’. Mau seperti apa panjanganya, tapi panggilannya tetap Hasyim. Dan ternyata kehendak Allah itu indah, ponakan gue lahir laki-laki dan diberi nama Muhammad Hasyim.
Banyak sih yang komentar, “kayak gak ada nama lain aja.” Yang lain lagi, “tambahin kek, belakangnya apa gitu, nama itu kan doa, jadi bla…bla..bla…”, intinya panjang deh kalau harus gue tulis di sini semua komentar orang-orang tentang ponakan gue ini.
Yaa, mungkin mereka lupa, penyematan sebuah nama itu doa dari orang tua ke anaknya, tidak harus menjadikan rangkaian sebuah nama itu sendiri yang bisa berarti doa. Dan kami sekeluarga memberinya nama Hasyim dengan harapan kelak ia bisa menjadi penerus kakeknya, punya akhlak seperti kakeknya, dan bisa menjadi panutan seperti kakeknya.
Tapi untungnya, di antara komentar-komentar negatif, yang berkomentar positif juga banyak. Dan pada akhirnya, komentar hanya menjadi komentar. Niat kami jelas jalannya pun ikhlas.  
Selamat datang Hasyim Junior. Selamat membuka mata di semesta yang luas ini. Kami akan selalu mendukungmu lahir dan batin.    

Monday, April 20, 2015

Selamat jalan, Pa....

Ini postingan pertama gue di tahun 2015. Tahun yang benar-benar begitu mewarnai hidup gue. Di tahun ini gue ngerasain bahagia, senang, risau, sedih, dan segala rasa yang ada dalam satu paket. Asli, tahun ini Allah benar-benar ngasih ke gue sebuah gambaran hidup yang bakal gue jalanin entah 10, 20, atau 30 th ke depan yang hanya Ia yang tau kapan gue harus berhenti.
Bahagianya gue di tahun ini, pertama, gue bisa pulang ke temu keluarga, setelah sekian lama gak ketemu, dan gue bisa menemui mereka dalam keadaan sehat walafiat. Itu tepatnya di November 2014.
Bahagianya gue yang ke dua di tahun 2015 itu karena gue bisa ikut repot ngurusin pernikahan adik gue tersayang, Fira, di awal Februari 2015. Mungkin antara November 2014 sampai Februari 2015 adalah momen paling indah yang gue punya bersama keluarga. Bonyok gue sehat, dan adik gue udah punya suami yang sayang sama dia.
Pertengahan Februari 2015, gue harus balik lagi ke Yaman, lantaran Exit permit gue udah abis. Jatah yang singkat, 3 bulan. Belum habis rasa kangen gue, eh… tau-tau gue udah harus berkelana lagi. Yaaah, gitu deh, namanya juga hidup.
Terus terang, gue ngerasain keberangkatan gue di pertengahan Februari itu gak kayak biasanya. Gue udah biasa banget melanglang buana entah kemana, dan itu gue jalani dengan happy. Tapi keberangkatan kali ini sangat berbeda. Berat banget rasanya mau ninggalin keluarga, terutama Bonyok. Tapi apa boleh buat, gue harus tetap berangkat.
Kurang dari dua bulan gue di Yaman, konflik yang ada di Negara tersebut berubah menjadi peperangan. Sebabnya apa? Nanti deh, kapan-kapan gue bahas di tulisan-tulisan gue yang lain. Akhirnya pemerintah Indonesia mengadakan evakuasi besar-besaran untuk semua WNI yang ada di Yaman.
Untuk tempat yang gue tinggalin sih, sampai saat ini masih terbilang aman, walaupun imbas dari terjadinya perang mulai terasa. Sebelum ada evakuasi Nyokap gue udah wanti-wanti, “Fiki, mama ngerti daerah Fiki aman, tapi kalau pemerintah Indonesia sudah mengadakan evakuasi untuk WNI, Fiki harus pulang!.”
Benar aja, awal April, perwakilan Kemenlu datang ke tempat gue di Tarim, Hadhromaut, Yaman. Setelah mengadakan pertemuan dengan mahasiswa, mereka langsung membuka pendaftaran evakuasi, dan gue langsung ikutan daftar. Tepat hari sabtu 11 April 2015 kemarin gue sampai di bandara Soetta di jemput bokap.
Perasaan gue senang banget waktu itu. Dalam hati, ‘mungkin ini benar-benar kesempatan yang Allah kasih buat gue bisa bercengkrama bersama keluarga.’ Gue lihat muka Bokap gue segar banget, senyumnya juga cerah, gak ada sedikitpun tanda-tanda dia sakit. Emang sih, bokap gue penderita gagal ginjal yang sudah divonis harus cuci darah sejak 10 th yang lalu, dan akhirnya menjalani cuci darah sejak th 2009, tapi jujur, bokap gue sama sekali gak ada tampang orang penderita HD (hemodialisa) pada umumnya. Karena setiap kali gue nganter Bokap cuci darah, gue lihat, temen-temen bokap tu pada menghitam kulitnya, loyo-loyo, dan gak punya gairah hidup sama sekali.
Alhamdulillah Bokap gue gak gitu. Bokap terlihat bugar, hidupnya semangat, ibadanya rajin pula. Hampir semua yang sunnah tetap di jalani. Bokap Emang sakit, tapi untuk ibadah dia selalu bilang sama dirinya sendiri, ‘saya sehat.’
Hari senin kemarin, 13 April 2015, Bokap meriang di subuh hari. Nyokap gue udah bilang ke Bokap, “Pa, gak usah ke Masjid, sholat di rumah aja. Akhirnya Bokap duduk di sofa dan Nyokap gue nungguin di sampingnya.
Gak lama kemudian, terdengar dari rumah suara Ahmad (ipar gue) udah jadi imam sholat subuh. Ketika itu gue lagi gak ada di rumah, gue di rumah Ustadz gue di Citayam. Nah, nyokap izin deh tu sama Bokap buat ke kamar mandi ambil air wudlu, “tu, Pa. Ahmad dah jadi Imam, mama wudlu dulu yaa.”
Pas keluar dari kamar mandi, Nyokap kaget, Bokap gue udah nggak ada di sofa, ternyata Bokap maksain ke masjid. Benar aja, gak lama setelah sholat subuh selesai Bokap gue balik dari masjid dengan dipapah. Tangan dan kaki kirinya sudah kebas gak berasa. Asumsi nyokap, Bokap gue kena serangan struk.
Saat itu juga Bokap langsung dilariin ke RS. Meilia. Gue yang waktu itu masih di perjalanan pulang sama sekali gak dikasih kabar keadaan Bokap. Mungkin Nyokap takut, kalau gue dikabarin, gue bakalan panik, dan gak konsen menyetir mobil.
Baru selesai parkir mobil di halaman rumah, mak tuo gue teriak, “Fiki! Buruan, papanya udah di bawa ke Meilia.” Gak pake pikir panjang, gue langsung ambil mobil dan bergegas ke Meilia.
Sesampainya di sana, gue langsung ke IGD, gue nemuin Bokap, Nyokap gue berdiri di sampingnya. “Ini Fiki, Pa. Fiki udah datang”, kata Nyokap ke Bokap. “Mana Fiki, sini!” Gue langsung deketin Bokap gue. Gue dirangkul abis-abisan.
“Maafin Papa yaa, Ki, klo Papa banyak salah ke Fiki. Doain Papa semoga Allah mengampuni dosa-dosa Papa yaa, Ki.” Hati gue langsung hancur seketika itu juga, gue gak bisa ngomong apa-apa. Cuma air mata yang netes terus di pipi. “Enggak, Pa. Papa gak ada salah sama Fiki, Papa sabar yaa, abis ini Papa diobatin. Papa pasti sembuh.”
Gue terus nemenin Bokap di sampingnya, sementara nyokap lagi diskusi sama dokter. Dan gak lama setelah itu, karena Bokap gue ngeluh kesakitan terus di kepalanya, dan Bokap gak ada henti-hentinya meneriakkan takbir dan istighfar untuk menahan rasa sakit, dokter memutuskan untuk melakukan CT. Scan guna melihat apa yang terjadi di kepala Bokap.
Setelah sejam berlalu, hasil CT. Scan pun diterima. Ternyata Bokap kena serangan struk yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah. Sehingga terjadi penggumpalan darah yang menekan otaknya. Dari hasil CT. Scan diketahui bahwasannya, luas penggumpalan darah yang ada di otak sudah mencapai 52%. Jika seperti itu tindakan yang harus diambil adala operasi, guna mengeluarkan darah yang menggumpal dan menyumbat pembuluh darah yang pecah. Diketahui pula sebab pecahnya pembuluh darah di kepala bokap adalah akibat tekanan darah yang terlalu tinggi dan tidak beraturan.
Akhirnya, keluarga sepakat untuk mengambil tindakan operasi. Mengapa? Karena konsekuensi dari tidak atau dilakukannya operasi itu sama. Kalau tidak dioperasi, pendarahan di otak semakin melebar, bokap terus kesakitan, dan akan mengalami kelumpuhan total, alias koma. Sedangkan kalau dioperasi, yang menjadi masalah adalah bokap penderita HD yang kadar kreatininnya di atas rata-rata orang pada umumnya, meskipun sudah cuci darah.
Kalau orang pada umumnya, kadar kreatinin dalam tubuhnya itu 0-1, sedangakan penderita gagal ginjal yang cuci darah bisa sampai 14. Adapun setelah dicuci darahnya, paling maksimal kadar kreatinin hanya bisa menyentuh angka 4-5. Dan keratinin itu pengaruhnya sangat rentan terhadap proses anastesi.
Semua konsekuensi hasilnya sangat memberatkan, tapi jika tidak dioperasi, kita tidak ada ikhtiarnya sama sekali, sedangkan jalan satu-satunya hanya operasi.
Sambil menunggu waktu operasi, bokap dilarikan dulu ke ICU untuk penanganan lebih intensif. Gak lama, sesampainya di ruang ICU azan Zuhur berkumandang. Sementara dari tadi bokap masih terus kesakitan. Gue cuma bisa meratap sambil bantuin bokap istighfar. “Papa mau sholat, Ki, udah Zuhur,” Bokap bilang ke gue sambil menatap selang-selang dan kabel-kabel yang ada di sekujur tubuhnya, maksudnya bokap mau wudlu dan sholat seperti biasanya. “Gak bisa, Pa, Papa sholatnya gini aja, yaa…” jawab gue.
“Yaaaah, klo gitu sholatnya buat hurmatul waqti[i] dong!”
“Iya, nanti, kalau Papa udah sembuh baru di qodho.”
Bokap akhirnya nurut apa kata gue, dan dia sholat semampunya. Dalem hati, ‘Allah ngasih ujian ini ke Bokap, pastinya Allah tau lah, dalam lubuk hati bokap, gak ada niatan sama sekali mengkhianati-Nya.’
Gue melihat bokap sholat ketika itu kayaknya tenaaaaaang banget. Seakan-akan rasa sakitnya hilang dari tubuhnya seketika ia melakukan takbiratul ihrom “Allahu Akbar.” Dan setelah salam, bokap bisa tertidur pulas. Sholatnya sudah berasil membuatnya lupa dengan sakitnya.
Estimasi, operasi akan dilakukan malam ini juga. Tapi sebelum itu, bokap harus cuci darah dulu, guna menurunkan kadar kreatinin dalam tubuhnya dan membuat dirinya sediktit lebih segar. Jam 4 sore bokap dipindah dari ruangan ICU ke tempat cuci darah. Sudah semenjak bangun dari tidurnya tadi bokap kembali kesakitan dan tak henti-hentinya meneriakkan takbir dan istighfar. Tapi setelah cuci darah di mulai, bokap baru agak sedikit tenang. Karena sudah dari pagi bokap menahan rasa badan yang gak enak, berhubung hari senin ini adalah jadwal rutinnya bokap cuci darah. Dan setiap pasien HD memang seperti itu, kalau sudah waktunya cuci, tapi belum di cuci, badan rasanya gak enak bukan main.
Gak lalma kemudian, Bokap pun bisa tertidur kembali.
Tepat sebelum maghrib, bokap kembali terbangun, rupanya bokap ingat kalau bokap belum sholat Ashar, “Kalau waktunya sholat, Papa diingetin dong, Ki, jangan dibiarin!” sambil agak sedikit tinggi nadanya bokap ngomong ke gue. “Iya, Pa”. Cuma itu yang bisa gue jawab, dan gak lama bokap kembali larut dalam sholatnya.
Cuci darah akhirnya selesai, jam 20.30 Bokap di bawa menuju kamar operasi. Semua keluarga, tetangga yang ketika itu menjenguk, dan murid-murid bokap ikut berkumpul di depan ruang operasi. Gue gak tau gimana caranya ngungkapin rasa yang berkecamuk dalam diri gue. Di depan bokap gue harus tetap keliatan tegar, dan gak boleh sedih, itu pesan nyokap, “Fiki gak boleh keliatan sedih di depan Papa”.
“Mohon maafnya yaa semuanya. Maafin Papa yaa, Ma, Ra, Ki. Doain Papa yaa. Semuanya, doain saya yaa.” Dalam keadaan seperti itu, bokap masih keliatan tegar dan gak gentar sedikitpun. Ia sudah ikhlas dengan jalan Allah yang tertuliskan untuknya.
Gue lihat, air mata gak ada hentinya mengalir dari orang-orang yang ada ketika itu. Setelah selesai berpamitan, jam 21.00 bokap masuk ke ruang operasi. Baru ketika itu tumpah semua air mata yang sudah gue tahan dari tadi. Benar-benar hancur hati gue, gue seakan-seakan lagi bermain undian sama Allah yang gue gak tau ketentuan apa yang akan Allah tuliskan buat Bokap.
Setelah bokap masuk ruang operasi, semua yang mengantar Bokap pulang, cuma tinggal gue sama nyokap yang menunggu di ruang tunggu. Adik gue pulang karena dia lagi hamil muda. Tapi gak lama setelah itu, bang Ifan dan Ka Lia datang sama suaminya. Jadilah kita berlima ketar ketir menunggu hasil operasi.
Operasi, dimulai pukul 21.30, setengah jam setelah bokap masuk kamar operasi. Estimasi dokter Saleh spesialis bedah syaraf, operasi akan berlangsung selama dua setengah jam. Jadi kurang lebih tepat pukul 00.00 operasi selesai.
Tapi Alhamdulillah, jam 23.00, perawat dari kamar operasi dateng ke ruang tunggu ICU, “keluarga Bpk. Hasyim!” kata perawat manggil gue, nyokap dan sepupu2 gue, “operasi selesai dan berjalan lancar, ibu ditunggu dokter Saleh di ruangannya.” Akhirnya gue, nyokap, dan sepupu yang laen buru-buru nemuin dokter Saleh.
“Selamat ibu, operasinya berhasil. Semua diluar yang saya perkirakan. Perkiraan operasi dua setengah jam, Alhamdulillah bisa selesai hanya dalam satu jam setengah, semua berjalan lancar”. Bokap pun setelah itu dipindahkan ke ruang ICU.
Hati gue lega banget waktu itu, dan sepupu gue pun pulang dengan tenang setelah mendengar kabar operasi berhasil. Mereka akhirnya mohon diri, dan yang menginap cuma gue sama nyokap. Gue sama nyokap pun beristirahat.
Ternyata gak selesai sampe di situ, pukul 01.00 gue sama nyokap dipanggil lagi, “keluarga Bpk. Hasyim!” Sontak nyokap langsung kebangun dan menghampiri perawat yang datang. “Ini ibu, bapak darahnya tinggi lagi, tensinya mencapai 230/100. Jadi bapak harus diberi obat penurun tensinya.”
“Owh begitu….”
“Iya, Ibu, Ibu silahkan tanda tangan di sini,” kata perawatnya. Setelah itu nyokap kembali istirahat.
Masih berat rasanya mata untuk terbuka, sebelum subuh, kami dipanggil lagi, “keluarga Bpk. Hasyim!” gila emang, setiap kali perawat datang, kami lagi-lagi dibikin deg-degan. Kami terus berharap-harap cemas menunggu kabar yang dia bawa. Perasaan cemas tersebut bukan hanya kami yang merasakan, tapi semua yang menuggui pasien ICU merasakan rasa yang sama, “Ibu, kesadaran bapak menurun, bapak tidak bisa bernafas secara normal, jadi kita harus memasangkan ventilator (alat bantu pernafasan) pada bapak.”
“Owh begitu, baiklah suster...” kata nyokap.
“Terima kasih ibu, silahkan tanda tangan di sini!”
Dan mulai saat itu Bokap udah gak sadarkan diri, alias koma. Sampai hari rabu sore, 15 April 20, 2015 gue dipanggil oleh dokter Saleh spesialis bedah syaraf. “Dek, tadi kami baru saja melakukan tes batang otak, dan hasilnya negatif. Tidak optimal. Artinya, semua yang bekerja di bapak 100 persen mesin. Tidak ada respon sama sekali dari Bapak. In syaa Allah besok, kita akan melakukan tes batang otak sekali lagi, jika hasilnya masih tetap sama, itu tandanya keluarga sudah bisa harus mengikhlaskan. Setelah itu kita akan melepas semua alat yang menempel pada Bapak, hanya ventilator saja yang akan kita biarkan tetap terpasang.”
Asli, gue gak tau harus bagaimana lagi. Gue cuma bisa pasrah sambil terus mengupdate kabar ke kerabat agar terus mendoakan Bokap. Gue berharap apa yang baru gue dengar hari itu hanya mimpi, trus gue bangun dan melihat Bokap baik-baik aja. Atau, kalaupun itu benar-benar nyata, gue berharap, keajaiban terjadi, Bokap tiba-tiba sembuh, atau apalah yang jelas bukan kesedihan yang gue harapkan.
Tapi ternyata enggak, sunnatullah tetap berjalan. Bokap tetap koma sampai esok harinya. Tepat hari Kamis, 16 April 2015 jam 07.00 pagi, pas gue sama nyokap mau sarapan, perawat datang ke ruang tunggu ICU, dan lagi-lagi, “keluarga Bpk. Hasyim!”
“Iya, suster, ada apa?”
“Ibu dipanggil dr. Saleh!”
“Baik,” gue sama nyokap langsung ke ruang ICU.
“Begini, Ibu,” dokter Saleh memulai pembicaraan, “seperti yang sudah saya jelaskan kemarin kepada dek Fikri, bahwasannya hari ini saya akan melakukan tes batang otak yang terakhir. Tes yang kemarin hasilnya negatif, artinya yang bekerja di bapak 100% alat. Sekarang saya mau coba tes sekali lagi, kalau masih negatif tidak ada perubahan, tandanya ibu dan adik harus bisa mengikhlaskan. Buat apa kita menahan-nahan orang yang lebih dicintai oleh Allah.
Jadi nanti prosesnya, apabila setelah tes hasilnya negatif, kita akan mencopot satu persatu alat yang menempel di bapak. Hanya ventilator saja yang kita biarkan tetap terpasang. Kadar oksigen yang ada di ventilator pun nanti kita turunkan setiap 10 atau 15 menit. Sekarang kadarnya masih 100%, 15 menit kemudian akan kita turunkan menjadi 60 persen. Begitu seterusnya sampai kadarnya menyentuh titik 21% yang mana itu adalah kadar oksigen yang dihirup manusia pada umumnya yang merupakan anugerah alami dari Allah Swt.”
Dan gak lama setelah penjelasan dokter, tes batang otak pun dilakukan. Hasilnya negatif. Maka setelah itu, seperti yang sudah dijelaskan, alat-alat yang menempel di Bokap akan dilepas, dan kita hanya tinggal menunggu kapan waktunya.
Sejak saat itu, baik dari keluarga ataupun yang datang menjenguk tidak henti henti menalqinkan kalimat tauhid di telinga Bokap. Monitor yang menggambarkan denyut jantung perlahan mulai terlihat menurun frekuensinya. Gue udah pasrah, gue juga udah ikhlas kalau memang harus begini pada akhirnya.
Segala usaha sudah ditempuh. Sisanya tinggal tawakkal dan berserah diri. Toh kematian memang sudah menjadi sunnatullah yang setiap orang pasti merasakannya. Hanya saja setiap orang berhak memilih sendiri-sendiri jalan matinya, ingin berakhir baik atau buruk. Dan Bokap sudah meninggalkan banyak pesan agar gue bisa menempuh jalan mati yang terbaik.
Bokap gak berwasiat macam-macam sebelum kepergiannya, tepatnya bokap berwasiat ketika sedang cuci darah sebelum operasi. Wasiatnya sangat simple, “Fiki, jangan tinggalin masjid. Papa mau, masjid itu makmur. Papa titip anak-anak kecil yang papa asuh, jangan tinggalkan mereka. Bimbing terus mereka, biar nanti mereka jadi generasi-generasi penerus yang cinta masjid. Juga dimana pun Fiki berkiprah nantinya, tetap berbuat untuk Al-Ma’ruf (Lembaga pendidikan peninggalan nenek gue). Berbuat untuk Al-Ma’ruf, tapi jangan menggantungkan hidup dari Al-Ma’ruf.
Sampai saat ini wasiat itu masih terngiang-ngiang di telinga gue.
Akhirnya, kurang lebih jam 13.03 Bokap mengembuskan nafas terakhirnya. Saat-saat yang paling gue takutin akhirnya datang juga. Semua bayang-bayang buruk gue menjadi kenyataan. Takdir Allah telah tertulis, Bokap harus pergi lebih dulu.
Yaa… mungkin itu jalan yang terbaik buat Bokap. Kita yang ditinggal sangat wajar jika bersedih dan merasa kehilangan. Tapi bokap, dengan segala yang sudah dilakukan semasa hidupnya, in syaa Allah, tempat terbaiklah yang sudah menunggu di sana.
Sejak jenazah datang dari rumah sakit, tak henti-hentinya, para kerabat, murid, kenalan, dan masyarkat datang silih berganti membacakan surat Yasin, tahlil dan kumandang doa. Bukan hanya keluarga yang merasa kehilangan, semua orang yang kenal Bokap sangat terpukul atas kepergiannya. 


Selamat jalan, Pa. Selesai sudah semua tugas-tugasmu. Berakhir sudah semua deritamu. Sudah saatnya sekarang engkau menggapai semua ketenangan dan karunia Robb-mu yang kau cinta. Doa kami anak-anakmu selalu menyertaimu.
من أحب لقاء الله، أحب الله لقاءه
Artinya: Barang siapa yang cinta kepada pertemuan dengan Allah, maka Allah juga cinta pertemuan dengannya.


   




[i] Sholat dengan maksud menghormati masuknya waktu sholat. Dilaksanakan ketika kita tidak bisa memenuhi syarat sahnya sholat. Dan kita wajib mengqhodonya jika sudah mampu. Tujuannya yaitu, semoga kita tidak termasuk yang melalaikan sholat apa bila dihisab nanti.

Sunday, October 5, 2014

Rindu Madinah

Mentari pagi  mulai memunculkan biasnya, perlahan sinarnya menerobos celah awan gemawan, lalu tembus sampai ke bumi berupa batang-batang cahaya. Semilir angin musim semi begitu lembut menerpa dedaunan dan membuatnya bergesekkan. Kicauan burung yang saling bersahutan tidak mau ketinggalan untuk membuat suasana pagi hari lebih ceria. Satu kata. Indah. Seperti inilah gambaran kota Syam setiap paginya. 

Tetapi di sudut lain, seorang lelaki kulit hitam, berambut keriting sedang menangis sesengukan di dalam rumahnya. Derai air mata terus mengucur tanpa henti membasahi pipinya. Suara gemuruh dari dalam dada menunjukkan ia menyimpan kesedihan yang mendalam.

Tak lama kemudian, seorang wanita cantik jelita keluar dari dalam kamar menghampiri dan duduk di sampingnya, “kamu kenapa menangis, Bilal, suamiku?” tanya istrinya.

Lalu dengan terbata-bata oleh karena air mata yang terus berderai, Bilal mencoba menjawab, “a…aku, mimpi bertemu Rosulullah semalam?”

Setelah menjawab, bilal kembali larut dalam kesedihannya, ia tak mampu membendung kucuran air mata setiap kali menghadirkan sosok Muhammad dalam ingatan. Apalagi semalam Rosulullah datang dalam mimpinya. Bermimpi bertemu Rosulullah adalah sesuatu yang nyata, karena setan tidak akan bisa menyerupainya. 

Sengaja setelah wafatnya Rosulullah Saw, Bilal meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar untuk pergi berhijrah meninggalkan kota Madinah. Ia tidak kuat untuk tetap berdiam di sana, karena setiap sudut kota Madinah selalu mengingatkan ia kepada sosok Muhammad yang sangat ia cintai. Terus menerus kalut dalam kesedihan, bukan cara yang tepat untuk melanjutkan hidup. 

Perlahan Bilal meneruskan perkataanya, “Rosulullah berkata kepadaku, ‘apa arti semua kehampaan ini, Bilal? Sudah saatnya sekarang engkau datang menziarahiku’.”

Genap setahun Bilal bin Rabah pergi meningalkan Madinah. Kepergian Rosulullah ke haribaan Rabbnya begitu menyisakan pedih di hati para sahabat. Bukan hanya Bilal, di detik wafatnya Rosulullah, para sahabat merasa sangat terpukul. Mereka sungguh tidak percaya kalau Rosulullah benar-benar wafat. Ali bin Abi Thalib seketika membisu tidak bisa bicara saat Rosulullah mengembuskan napas terakhir, Utsman bin Affan terduduk dan tidak bisa berdiri, Umar bin Khattab si Singa Padang Pasir pergi berkeliling kota Madinah sambil mengacungkan pedangnya seraya berkata, “siapa yang berani mengatakan Muhammad telah wafat, akan kutebas lehernya dengan pedangku ini.” Diantara sahabat juga ada yang berkata, “Muhammad tidak meninggal, ia hanya pergi selama 40 hari, seperti dulu Musa meninggalkan kaumnya.” Kesemuanya berusaha menepis kenyataan bahwa Rosulullah telah tiada.  

Hanya Abu Bakar yang ketika itu bisa ikhlas menerima kenyataan. Ia mengumpulkan para sahabat di masjid lalu berbicara di mimbar. Setelah mengucap hamdalah dan shalawat, ia melantunkan ayat:

وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإين مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم، ومن ينقلب على عبيه فلن يضر الله شيئا، وسيجزي الله الشاكرين [آل عمران :144]

Artinya: Muhammad itu tidak lain hanyalah Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatankan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imran: 144)

Para sahabat sungguh tercengang ketika mendengarkan ayat tersebut, mereka seakan baru pertama kali mendengarnya, padahal Al-Qur’an sudah mengalir dan mendarah daging dalam jiwa dan raga mereka. 

Lalu Abu Bakar melanjutkan perkataannya, “wahai para sahabat, barang siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah tiada. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka sungguh dialah Allah yang Maha hidup tidak akan binasa.”

Detik wafatnya Rosulullah adalah saat dimana Kota Madinah pecah oleh tangis kesedihan para sahabat, meski mereka sangat paham bahwa kematian Rosulullah hanyalah perpindahannya ke alam barzakh yang abadi. Mereka paham, bahwa kematian adalah sunnatullah yang pasti tanpa terkecuali. Mereka juga sangat paham, bahwa tubuh yang membujur kaku hakikatnya tidak benar-benar mati, karena sebagaimana yang tersampaikan dalam sabdanya, bumi tidak akan memakan jasad para Nabi, begitu juga dengan dirinya yang ia adalah imamnya para Nabi dan Rosul. Nabi dan Rosul akan tetap hidup dalam kuburnya.  

Tidak sampai di situ. Para sahabat juga paham, bahwa wafatnya Rosulullah, adalah saat terindah yang ia nanti untuk bertemu Rabb yang begitu mencintainya. Rabb yang menyandingkan namanya tepat setelah nama agung-Nya di pintu surga dan di pilar-pilar arsy singgasana-Nya – ‘laa Ilaaha Illallah, Muhammadun Rosulullah.’ Dan sudah dipastikan, Tuhan semesta alam tidak akan menyandingkan nama seseorang dengan namanya kecuali ia adalah mahluk ciptaanNya yang tercinta. 

Tapi yang namanya perpisahan di dunia akan selalu meninggalkan sedih, apalagi yang pergi adalah orang tercinta. Dialah Muhammad yang telah mengorbankan jiwa raganya demi umatnya. Dialah Muhammad yang siang dan malamnya ia curahkan untuk kesejahteraan umatnya di dunia dan akhirat. Dialah Muhammad yang selalu memohonkan ampun atas umatnya dalam setiap munajat panjangnya. Bukan hanya manusia yang bersedih, tapi alam semesta ikut berduka atas kepergiannya.

Keesokan harinya, Bilal bin Rabah pergi meninggalkan Kota Syam menuju Madinah. Ribuan kilometer ia tempuh demi memenuhi panggilan Rosulullah untuk ziarah kepadanya. Langkah demi langkah yang ia tempuh semakin mendidihkan rasa rindu yang membuncah dalam dada. Sudah tidak sabar rasanya ia ingin cepat sampai di Madinah. 

***

Perjalanan panjang telah ditempuh, akhirnya sampai juga Bilal di gerbang pintu Madinah. Tak terasa air mata mulai meleleh kembali bercucuran di pipinya. Pelan ia melangkah menuju makam Rosulullah. Sesekali ia bertemu dengan sahabat di tengah jalan, ia berhenti sebentar melepas rindu, lalu berjalan kembali. 

Udara kota Madinah yang terhirup olehnya, membangun kembali kenangan-kenangan bersama Rosulullah yang tak lekang oleh waktu. Setiap penjurunya begitu kental menghadirkan wujud Rosulullah dalam khayalan. Sungguh hanya jasadnya yang pergi, hakikatnya ia tetap hidup dalam jiwa mereka para sahabat dan umat-umat yang begitu mencintainya. 

Sesampainya di makam Rosulullah, Bilal berdiri tepat di depannya, lalu diucapkanlah salam olehnya. Dan tak lama kemudian, oleh karena rasa rindu di dalam yang tak tertahankan, Bilal meracau dan menangis di pusara yang tercinta, Muhammad. Sekelebat ingatan akan masa-masa ketika Rosulullah masih hidup kembali hadir di memorinya. Ia teringat saat ia selalu membawakan barang-barang Rosulullah, kemana Rosulullah pergi ia selalu ikut dengannya. Bayangan-bayangan tersebut semakin jelas terbingkai, sehingga membuat tangisan Bilal semakin menjadi.  

Sudah puas rasanya Bilal melepas rindu di pusara Rosulullah, meski perasaan sedih akan kepergianya masih terus tersisa di sanubarinya. Setelah berziarah, ia duduk-duduk bersama para sahabat yang lainnya di dalam masjid. Diantara mereka ada Abu bakar dan Umar. Mereka berbincang ringan sekedar bernostalgia mengenang sosok Muhammad yang akan terus hidup dalam hati dan pikiran mereka.  

“Bilal,” sapa Abu Bakar, “sebentar lagi Zuhur, sudah lama rasanya kami tidak mendengarkan suara adzanmu. Bagaimana jika Zuhur ini kamu yang mengumandangkan adzannya?”

“Ayolah Bilal,” Umar menambahkan, “adzanlah untuk kami sebagai mana kamu adzan ketika Rosulullah masih hidup.”

Bilal termenung lalu menyunggingkan sedikit senyuman tanda ia menolak halus permintaan Abu Bakar dan Umar. Dan lagi-lagi ia menitikkan air mata, “maaf Abu Bakar, aku tidak bisa. Setelah Rosulullah wafat, aku sudah tidak lagi mengumandangkan adzan. Mengumandangkan adzan selalu mengingatkanku akan Rosulullah. Dulu setiap setelah selesai adzan, biasanya aku langsung berlari ke kamar Rosulullah sekedar mengingatkannya, ‘wahai Rosulullah, telah tiba waktu sholat.’ Tapi sekarang…” Bilal terhenti. 

Abu Bakar dan Umar memaklumi. Satu tahun kepergian Rosulullah, belum cukup untuk menghilangkan kenangan bersamanya. Setiap kali teringat, rasa sedih itu kembali muncul dari dalam diri. 

Suasana hening. Kemudian datanglah Hasan dan Husein – cucu Rosulullah, buah hati Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib – masuk ke dalam masjid. Saat ini Hasan telah berumur 9 tahun dan Husein 8 tahun. Mereka menghampiri Bilal, kemudian Bilal merangkul keduanya. 

Melihat Hasan dan Husein, Bilal teringat waktu mereka dimanja oleh Rosulullah, bermain dengan Rosulullah, dan bercengkrama bersama Rosulullah. Betapa Rosulullah sangat sayang kepada mereka. Perangai Hasan dan Husein sangat mirip dengan Rosulullah, siapapun yang melihat mereka seakan melihat Rosulullah ada dalam diri mereka. Aroma kehidupan Rosulullah akan terus harum bersemi pada anak cucu keturunannya. 

“Apa kabarmu, Bilal?” Hasan membuka percakapan.
“Mengapa kamu baru datang? kami di sini merindukanmu,” Husein menimpali. 

Bilal tersenyum menatap mereka berdua, “aku baik-baik, dan aku juga rindu pada kalian.” 

“Bilal,” Hasan melanjutkan, “aku merindukan suara adzanmu. Aku ingin medengarmu melantunkan adzan, seperti waktu kakek kami masih ada.”

“Iya, Bilal,” Husein ikut menimpali, “aku juga ingin mendengarmu melantunkan adzan kembali.”

Bilal terdiam beberapa saat setelah mendengan permintaan Hasan dan Husein, sambil menyeka air matanya, ia melanjutkan, “Hasan, Husein, baru saja aku menolak permintaan Abu Bakar dan Umar untuk kembali mengumandangkan adzan seperti waktu Rosulullah masih ada. Tapi kalian, apa yang akan aku katakan kepada kalian? Aku takut, jika aku tidak menghiraukan permintaan kalian di dunia, Rosulullah tidak akan menghiraukanku nanti di akhirat. Baiklah aku akan adzan Zuhur ini,” Bilal tersenyum menatap keduanya. 

Mendengar permintaanya dikabulkan, seutas senyum bahagia terukir di bibir Hasan dan Husein cucu kesayangan Rosulullah. Mereka dan para sahabat yang berada di dalam masjid sudah tidak sabar menanti waktu Zuhur demi mendengarkan kumandang adzan dari seorang Bilal bin Rabah, muadzin Rosulullah.

Waktu Zuhur pun tiba, Bilal bersiap-siap lalu berjalan menaiki tempat tinggi di atas Masjid dimana ia biasa mengumandangkan Adzan. Ia berusaha menguatkan dirinya, meski rasa sedih di dada kembali bergolak menggelora memenuhi jiwanya. Jari telujuk kanan ia masukkan ke telinga, lalu telapak tangan menutupi sebagian pipi kanannya. Ia siap memulai, ‘Bismillahirrohmanirrahim.’

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Seketika gemparlah kota Madinah dengan tangisan. Siapapun yang mendengarnya secara spontan menitikkan air mata. 

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Lalu terdengarlah suara wanita-wanita meraung berteriak dari dalam rumah, “adakah Rosulullah diutus lagi?” 

Asyhadu an laa Ilaaha illallah. Asyhadu an laa ilaaha illallah.

Tidak sedikit dari para wanita yang ikut berhamburan keluar ketika menedengar suara Bilal mengumandangkan adzan. Para penduduk Madinah semua berkumpul bersatu di masjid. Teriakan-teriakan pun tak henti terdengar, “… Rosulullah diutus lagi, Rosulullah diutus lagi,” mereka saling bersahutan.

Sampailah pada kalimat:

Asyhadu anna Muhammadan Rosulullah...

Suara Bilal menjadi sayu, ia tidak mampu meneruskan adzanya. Air mata bercucuran membasahi pipinya. Dan pada saat itulah kota Madinah berlinangan Air mata lebih deras dari pada saat Rosulullah wafat. 

Suara adzan Bilal telah membasahi hati mereka dengan kerinduan kepada Rosulullah. Semua itu menunjukkan bahwa Rosulullah selalu hidup di hati mereka para sahabat dan orang-orang yang mencintainya. 

Dan jika hidup itu seluruhnya tentang mencinta, maka mencintainya lebih dari apapun, bahkan lebih dari diri sendiri adalah hakikat hidup. Cinta kepadanya merupakan simbol kesempurnaan iman, yang diikuti setelahnya dengan pengamalan ajarannya serta pelestarian sunnah-sunnahnya.