Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sunday, October 5, 2014

Rindu Madinah

Mentari pagi  mulai memunculkan biasnya, perlahan sinarnya menerobos celah awan gemawan, lalu tembus sampai ke bumi berupa batang-batang cahaya. Semilir angin musim semi begitu lembut menerpa dedaunan dan membuatnya bergesekkan. Kicauan burung yang saling bersahutan tidak mau ketinggalan untuk membuat suasana pagi hari lebih ceria. Satu kata. Indah. Seperti inilah gambaran kota Syam setiap paginya. 

Tetapi di sudut lain, seorang lelaki kulit hitam, berambut keriting sedang menangis sesengukan di dalam rumahnya. Derai air mata terus mengucur tanpa henti membasahi pipinya. Suara gemuruh dari dalam dada menunjukkan ia menyimpan kesedihan yang mendalam.

Tak lama kemudian, seorang wanita cantik jelita keluar dari dalam kamar menghampiri dan duduk di sampingnya, “kamu kenapa menangis, Bilal, suamiku?” tanya istrinya.

Lalu dengan terbata-bata oleh karena air mata yang terus berderai, Bilal mencoba menjawab, “a…aku, mimpi bertemu Rosulullah semalam?”

Setelah menjawab, bilal kembali larut dalam kesedihannya, ia tak mampu membendung kucuran air mata setiap kali menghadirkan sosok Muhammad dalam ingatan. Apalagi semalam Rosulullah datang dalam mimpinya. Bermimpi bertemu Rosulullah adalah sesuatu yang nyata, karena setan tidak akan bisa menyerupainya. 

Sengaja setelah wafatnya Rosulullah Saw, Bilal meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar untuk pergi berhijrah meninggalkan kota Madinah. Ia tidak kuat untuk tetap berdiam di sana, karena setiap sudut kota Madinah selalu mengingatkan ia kepada sosok Muhammad yang sangat ia cintai. Terus menerus kalut dalam kesedihan, bukan cara yang tepat untuk melanjutkan hidup. 

Perlahan Bilal meneruskan perkataanya, “Rosulullah berkata kepadaku, ‘apa arti semua kehampaan ini, Bilal? Sudah saatnya sekarang engkau datang menziarahiku’.”

Genap setahun Bilal bin Rabah pergi meningalkan Madinah. Kepergian Rosulullah ke haribaan Rabbnya begitu menyisakan pedih di hati para sahabat. Bukan hanya Bilal, di detik wafatnya Rosulullah, para sahabat merasa sangat terpukul. Mereka sungguh tidak percaya kalau Rosulullah benar-benar wafat. Ali bin Abi Thalib seketika membisu tidak bisa bicara saat Rosulullah mengembuskan napas terakhir, Utsman bin Affan terduduk dan tidak bisa berdiri, Umar bin Khattab si Singa Padang Pasir pergi berkeliling kota Madinah sambil mengacungkan pedangnya seraya berkata, “siapa yang berani mengatakan Muhammad telah wafat, akan kutebas lehernya dengan pedangku ini.” Diantara sahabat juga ada yang berkata, “Muhammad tidak meninggal, ia hanya pergi selama 40 hari, seperti dulu Musa meninggalkan kaumnya.” Kesemuanya berusaha menepis kenyataan bahwa Rosulullah telah tiada.  

Hanya Abu Bakar yang ketika itu bisa ikhlas menerima kenyataan. Ia mengumpulkan para sahabat di masjid lalu berbicara di mimbar. Setelah mengucap hamdalah dan shalawat, ia melantunkan ayat:

وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإين مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم، ومن ينقلب على عبيه فلن يضر الله شيئا، وسيجزي الله الشاكرين [آل عمران :144]

Artinya: Muhammad itu tidak lain hanyalah Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatankan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imran: 144)

Para sahabat sungguh tercengang ketika mendengarkan ayat tersebut, mereka seakan baru pertama kali mendengarnya, padahal Al-Qur’an sudah mengalir dan mendarah daging dalam jiwa dan raga mereka. 

Lalu Abu Bakar melanjutkan perkataannya, “wahai para sahabat, barang siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah tiada. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka sungguh dialah Allah yang Maha hidup tidak akan binasa.”

Detik wafatnya Rosulullah adalah saat dimana Kota Madinah pecah oleh tangis kesedihan para sahabat, meski mereka sangat paham bahwa kematian Rosulullah hanyalah perpindahannya ke alam barzakh yang abadi. Mereka paham, bahwa kematian adalah sunnatullah yang pasti tanpa terkecuali. Mereka juga sangat paham, bahwa tubuh yang membujur kaku hakikatnya tidak benar-benar mati, karena sebagaimana yang tersampaikan dalam sabdanya, bumi tidak akan memakan jasad para Nabi, begitu juga dengan dirinya yang ia adalah imamnya para Nabi dan Rosul. Nabi dan Rosul akan tetap hidup dalam kuburnya.  

Tidak sampai di situ. Para sahabat juga paham, bahwa wafatnya Rosulullah, adalah saat terindah yang ia nanti untuk bertemu Rabb yang begitu mencintainya. Rabb yang menyandingkan namanya tepat setelah nama agung-Nya di pintu surga dan di pilar-pilar arsy singgasana-Nya – ‘laa Ilaaha Illallah, Muhammadun Rosulullah.’ Dan sudah dipastikan, Tuhan semesta alam tidak akan menyandingkan nama seseorang dengan namanya kecuali ia adalah mahluk ciptaanNya yang tercinta. 

Tapi yang namanya perpisahan di dunia akan selalu meninggalkan sedih, apalagi yang pergi adalah orang tercinta. Dialah Muhammad yang telah mengorbankan jiwa raganya demi umatnya. Dialah Muhammad yang siang dan malamnya ia curahkan untuk kesejahteraan umatnya di dunia dan akhirat. Dialah Muhammad yang selalu memohonkan ampun atas umatnya dalam setiap munajat panjangnya. Bukan hanya manusia yang bersedih, tapi alam semesta ikut berduka atas kepergiannya.

Keesokan harinya, Bilal bin Rabah pergi meninggalkan Kota Syam menuju Madinah. Ribuan kilometer ia tempuh demi memenuhi panggilan Rosulullah untuk ziarah kepadanya. Langkah demi langkah yang ia tempuh semakin mendidihkan rasa rindu yang membuncah dalam dada. Sudah tidak sabar rasanya ia ingin cepat sampai di Madinah. 

***

Perjalanan panjang telah ditempuh, akhirnya sampai juga Bilal di gerbang pintu Madinah. Tak terasa air mata mulai meleleh kembali bercucuran di pipinya. Pelan ia melangkah menuju makam Rosulullah. Sesekali ia bertemu dengan sahabat di tengah jalan, ia berhenti sebentar melepas rindu, lalu berjalan kembali. 

Udara kota Madinah yang terhirup olehnya, membangun kembali kenangan-kenangan bersama Rosulullah yang tak lekang oleh waktu. Setiap penjurunya begitu kental menghadirkan wujud Rosulullah dalam khayalan. Sungguh hanya jasadnya yang pergi, hakikatnya ia tetap hidup dalam jiwa mereka para sahabat dan umat-umat yang begitu mencintainya. 

Sesampainya di makam Rosulullah, Bilal berdiri tepat di depannya, lalu diucapkanlah salam olehnya. Dan tak lama kemudian, oleh karena rasa rindu di dalam yang tak tertahankan, Bilal meracau dan menangis di pusara yang tercinta, Muhammad. Sekelebat ingatan akan masa-masa ketika Rosulullah masih hidup kembali hadir di memorinya. Ia teringat saat ia selalu membawakan barang-barang Rosulullah, kemana Rosulullah pergi ia selalu ikut dengannya. Bayangan-bayangan tersebut semakin jelas terbingkai, sehingga membuat tangisan Bilal semakin menjadi.  

Sudah puas rasanya Bilal melepas rindu di pusara Rosulullah, meski perasaan sedih akan kepergianya masih terus tersisa di sanubarinya. Setelah berziarah, ia duduk-duduk bersama para sahabat yang lainnya di dalam masjid. Diantara mereka ada Abu bakar dan Umar. Mereka berbincang ringan sekedar bernostalgia mengenang sosok Muhammad yang akan terus hidup dalam hati dan pikiran mereka.  

“Bilal,” sapa Abu Bakar, “sebentar lagi Zuhur, sudah lama rasanya kami tidak mendengarkan suara adzanmu. Bagaimana jika Zuhur ini kamu yang mengumandangkan adzannya?”

“Ayolah Bilal,” Umar menambahkan, “adzanlah untuk kami sebagai mana kamu adzan ketika Rosulullah masih hidup.”

Bilal termenung lalu menyunggingkan sedikit senyuman tanda ia menolak halus permintaan Abu Bakar dan Umar. Dan lagi-lagi ia menitikkan air mata, “maaf Abu Bakar, aku tidak bisa. Setelah Rosulullah wafat, aku sudah tidak lagi mengumandangkan adzan. Mengumandangkan adzan selalu mengingatkanku akan Rosulullah. Dulu setiap setelah selesai adzan, biasanya aku langsung berlari ke kamar Rosulullah sekedar mengingatkannya, ‘wahai Rosulullah, telah tiba waktu sholat.’ Tapi sekarang…” Bilal terhenti. 

Abu Bakar dan Umar memaklumi. Satu tahun kepergian Rosulullah, belum cukup untuk menghilangkan kenangan bersamanya. Setiap kali teringat, rasa sedih itu kembali muncul dari dalam diri. 

Suasana hening. Kemudian datanglah Hasan dan Husein – cucu Rosulullah, buah hati Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib – masuk ke dalam masjid. Saat ini Hasan telah berumur 9 tahun dan Husein 8 tahun. Mereka menghampiri Bilal, kemudian Bilal merangkul keduanya. 

Melihat Hasan dan Husein, Bilal teringat waktu mereka dimanja oleh Rosulullah, bermain dengan Rosulullah, dan bercengkrama bersama Rosulullah. Betapa Rosulullah sangat sayang kepada mereka. Perangai Hasan dan Husein sangat mirip dengan Rosulullah, siapapun yang melihat mereka seakan melihat Rosulullah ada dalam diri mereka. Aroma kehidupan Rosulullah akan terus harum bersemi pada anak cucu keturunannya. 

“Apa kabarmu, Bilal?” Hasan membuka percakapan.
“Mengapa kamu baru datang? kami di sini merindukanmu,” Husein menimpali. 

Bilal tersenyum menatap mereka berdua, “aku baik-baik, dan aku juga rindu pada kalian.” 

“Bilal,” Hasan melanjutkan, “aku merindukan suara adzanmu. Aku ingin medengarmu melantunkan adzan, seperti waktu kakek kami masih ada.”

“Iya, Bilal,” Husein ikut menimpali, “aku juga ingin mendengarmu melantunkan adzan kembali.”

Bilal terdiam beberapa saat setelah mendengan permintaan Hasan dan Husein, sambil menyeka air matanya, ia melanjutkan, “Hasan, Husein, baru saja aku menolak permintaan Abu Bakar dan Umar untuk kembali mengumandangkan adzan seperti waktu Rosulullah masih ada. Tapi kalian, apa yang akan aku katakan kepada kalian? Aku takut, jika aku tidak menghiraukan permintaan kalian di dunia, Rosulullah tidak akan menghiraukanku nanti di akhirat. Baiklah aku akan adzan Zuhur ini,” Bilal tersenyum menatap keduanya. 

Mendengar permintaanya dikabulkan, seutas senyum bahagia terukir di bibir Hasan dan Husein cucu kesayangan Rosulullah. Mereka dan para sahabat yang berada di dalam masjid sudah tidak sabar menanti waktu Zuhur demi mendengarkan kumandang adzan dari seorang Bilal bin Rabah, muadzin Rosulullah.

Waktu Zuhur pun tiba, Bilal bersiap-siap lalu berjalan menaiki tempat tinggi di atas Masjid dimana ia biasa mengumandangkan Adzan. Ia berusaha menguatkan dirinya, meski rasa sedih di dada kembali bergolak menggelora memenuhi jiwanya. Jari telujuk kanan ia masukkan ke telinga, lalu telapak tangan menutupi sebagian pipi kanannya. Ia siap memulai, ‘Bismillahirrohmanirrahim.’

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Seketika gemparlah kota Madinah dengan tangisan. Siapapun yang mendengarnya secara spontan menitikkan air mata. 

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Lalu terdengarlah suara wanita-wanita meraung berteriak dari dalam rumah, “adakah Rosulullah diutus lagi?” 

Asyhadu an laa Ilaaha illallah. Asyhadu an laa ilaaha illallah.

Tidak sedikit dari para wanita yang ikut berhamburan keluar ketika menedengar suara Bilal mengumandangkan adzan. Para penduduk Madinah semua berkumpul bersatu di masjid. Teriakan-teriakan pun tak henti terdengar, “… Rosulullah diutus lagi, Rosulullah diutus lagi,” mereka saling bersahutan.

Sampailah pada kalimat:

Asyhadu anna Muhammadan Rosulullah...

Suara Bilal menjadi sayu, ia tidak mampu meneruskan adzanya. Air mata bercucuran membasahi pipinya. Dan pada saat itulah kota Madinah berlinangan Air mata lebih deras dari pada saat Rosulullah wafat. 

Suara adzan Bilal telah membasahi hati mereka dengan kerinduan kepada Rosulullah. Semua itu menunjukkan bahwa Rosulullah selalu hidup di hati mereka para sahabat dan orang-orang yang mencintainya. 

Dan jika hidup itu seluruhnya tentang mencinta, maka mencintainya lebih dari apapun, bahkan lebih dari diri sendiri adalah hakikat hidup. Cinta kepadanya merupakan simbol kesempurnaan iman, yang diikuti setelahnya dengan pengamalan ajarannya serta pelestarian sunnah-sunnahnya.

Saturday, September 20, 2014

Luka

Salah jika aku ingin dicinta? Salah jika aku ingin dimanja dan dikasihi? Salah jugakah jika aku ingin mendapatkan kasih sayang dari orang yang telah mengikrarkan janji sucinya kepadaku? Mungkin salah, karena aku mengharapkan semua itu dari dia yang ucapnya hanya sampai di bibir tanpa bisa terus meresap lalu mengendap ke dalam relung.

Kejutan manisnya, sapaan hangatnya di pagi hari, lelucon jenakanya yang selalu membuatku tersenyum, bahkan kata-kata puitisnya yang sering ia rangkai sebelum mataku terpejam di malam gelap, begitu apik ia merangkai semuanya menjadi topeng kesatria srigala biru. Ia menyembunyikan wajah aslinya dibalik paras sang pangeran tirta. Menawan. Mempesona. Aku tertipu.

Ingin rasanya aku berteriak mencaci, meracau di depannya, seraya berkata, ‘kamu bajingan Andreeee!’ Tapi untuk apa, semua cercaku pasti kan ditampik dengan segala pembelaan egonya.  Mulut besarnya akan dengan mudah mematahkan rasa kecewaku yang mendalam hanya dengan beberapa kata. Ya, beberapa kata saja. Itulah lelaki, mereka selalu begitu…

***

“Nabilaaa, tunggu! Aku bisa jelasin semuanya ke kamu. Apa yang kamu lihat tadi tidak sepenuhnya sama dengan apa yang kamu pikirkan.” Andre terus berlari mengikutiku sambil  meneriakkan kata-kata agar aku berhenti dan mendengarkan semua alasannya.

Aku tak peduli.

Hujan deras di tengah malam tak menyurutkan langkahku untuk berlari dan berlari. Gemuruh angin dan hantaman geledek tak sedikitpun membuat nyaliku ciut menembus gulita dengan pasti. Aku benar-benar muak dengan kejadian malam ini. Meski lelah, kupaksakan kakiku untuk terus mengambil langkah demi langkah. 

“Nabilaaa, tunggu!” Andre masih mengejarku. Pikiranku kalap. Yang kumau sekarang hanya pulang ke rumah orang tuaku. Aku rindu Ibu. 
“Taksiiii!” Kupanggil taksi yang sedang berjalan pelan ke arahku, sambil sesekali menoleh kebelakang, memastikan bahwa jarak Andre cukup jauh dariku. 

Dengan sigap dan agak tergesa aku masuk ke dalam taksi tersebut, “jalan, Pak!” Setelah taksi melaju, aku melihat Andre dari balik kaca sedang berhenti tersengal-sengal, ia mengatur napasnya dengan sedikit merunduk di sisi trotorar. 

Bibirku kelu, badanku basah kuyup, otakku sudah tidak bisa mencerna lagi kejadian yang barusan aku lihat di rumah. Semua begitu cepat. Dalam hatiku berharap semua hanya mimpi. Tapi ternyata tidak. Semua begitu nyata dan tegas menyapaku. Mungkin, ini adalah akhir dari kisah rumah tanggaku yang hanya seumur jagung. 

Perjalanan tugasku ke Medan dibatalkan. Aku pulang ke rumah tepat jam 10.00 malam. Sungguh tak disangka. Dibalik semua itu ada sekenario Tuhan yang ingin Ia sampaikan. 

September kelabu. Rasanya judul lagu tersebut sangat cocok disandingkan dengan kisahku yang suram. Sungguh sebuah akhir yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Bulan ini tepat bulan ke enam aku menjalani sebuah mahligai rumah tangga bersama orang yang sudah kutancapkan akan kucintai seumur hidup. Tetapi awal yang indah, ternyata tidak bisa menjamin mulusnya jalan. 

Andre. Seorang wiraswasta mapan yang melamarku enam bulan yang lalu. Parasnya yang tampan, serta latar belakang keluarga yang baik cukup, bisa meluluhkan hatiku dan keluargaku, meski baru kali itu aku mengenalnya secara langsung ketika ia datang melamar. Sebelumnya, aku hanya mengenal profilnya sekilas dari penjelasan pamanku. Cukup baik, makanya setelah lamaran, tanpa jeda waktu yang panjang pernikahan kami pun berlangsung.

“Ini kita mau ke mana ya, Bu?” Sapaan supir taksi di tengah rintik hujan menyadarkan lamunanku. Aku terhenyak, kemudian mencoba meraba-raba kembali pertanyaan supir taksi tersebut, aku masih trauma, “hmm, kita ke arah Depok, Pak. Margonda,” jawabku singkat. 

“Bisa minta tolong turunkan sedikit cooler AC-nya, Pak. Saya kedinginan.” Pintaku kepada sopir taksi. Pandanganku kosong ke luar. Jalanan terlihat sepi sekali, hanya beberapa mobil yang masih lalu lalang di tengan malam seperti ini.

Entah mengapa lajunya taksi terasa pelan dan tidak kunjung sampai. Padahal jarak antara rumahku yang berada di bilangan Cibubur dengan rumah Ibu tidak terlalu jauh. Suasana hatiku yang kalut menyebabkan semua begitu melambat. Sudah tidak sabar rasanya ingin cepat bertemu dengan Ibu. Hanya kepadanyalah aku bisa berbagi keluh kesah, setelah malaikat penjagaku lebih dulu pergi meninggalkan Ibu di bulan pertama usia pernikahanku. 

Jam digital di dashboard taksi menunjukkan pukul 10.30 pm. Kurang lebih setengah jam yang lalu kejadian itu menimpaku. Dan seketika bayangan akan kejadian tadi terekam jelas berbayang di memori kepalaku. Sungguh memilukan. Wanita mana yang tidak tersayat hatinya, melihat orang yang ia cintai mengkhianatinya di rumahnya sendiri. Hatiku remuk.

Layaknya seorang wanita yang telah dinikahi, aku ingin menjadi seseorang yang bisa membahagiakan suamiku tercinta. Menjadi tuan putri di hatinya, dan melahirkan anak-anak yang pintar hasil buah cinta kami. Pintaku sederhana, aku hanya ingin mencinta dan dicintai, lalu bersama-sama membangun sebuah istana bernama keluarga yang bahagia. Tekad yang kubangun di awal pernikahan pun sudah meraja, menyerahkan seluruh jiwa ragaku kepadanya, dan berusaha saling menguatkan dalam suka dan duka, adalah niatan tulusku mengabdi kepadanya.

Tapi semua sirna.

Enam bulan aku bersabar, selama itu pula suamiku belum mau menjadikan aku wanita seutuhnya. Entah apa alasannya. Ia hanya bilang bahwa kondisinya tidak memungkinkan. Ia butuh waktu dan selalu meminta waktu. Dan lagi-lagi sebagai wanita, aku hanya bisa menunggu dan bersabar, toh selama ini perhatiannya yang tercurah kepadaku begitu besar, kasih sayangnya juga terasa tulus. Satu kalimat. Aku bahagia dalam tanda tanya.

*** 

Rona kuning lampu jalan, menghias aspal basah menjadi mengkilap indah bak jalan sutra meruas jingga. Rintikan hujan yang mulai mereda, mengubah kelam yang tadinya begitu mencekam dengan geretakan petir dan cahaya kilat, menjadi lebih tentram dan sedikit bersahabat. Aku termenung, mengenang masa indah yang berakhir luka, sama saja seperti membuat luka baru dan menyiramnya dengan air garam. Aku luka tapi mencinta. Aku mencintai suamiku dengan segala goresan yang menorehkan merah di dada. 

“Kita sudah di jalan raya Margonda, Bu. Terus kita mau kemana?” 

“Terus aja, Pak. Nanti lampu merah samping gedung telkomsel belok kanan yaa, Pak. Gak jauh dari situ kok.”

Sudah tidak sabar rasanya ingin bertemu Ibu, ingin sekali kuluapkan semua sesakku dalam peluknya. Aku ingin melepaskan segala gundah yang selama ini mengendap, dalam belaian hangat titisan surga yang mengalir dari tangannya.  Tapi aku masih bingung dengan apa yang akan aku sampaikan. Meski Ibu tempatku mengadu, untuk masalah ini aku belum sampai hati menceritakan kepadanya. Ia pasti kecewa dan menitikkan air mata karenaku. Sebagai anak sulung, akulah yang diharapkan menjadi contoh bagi adik-adikku dalam membina sebuah rumah tangga.

Tak lama kemudian, taksi berhenti di depan rumah Ibu. Perlahan aku turun dari taksi lalu berjalan mendekati pagar rumah. Perasaanku semakin kalut. Tak henti-hentinya air mata menetes hangat membasahi permukaan pipiku. 

Malam ini tidak seperti biasanya. Lampu ruang tamu depan masih menyala, padahal malam sudah cukup larut. Sambil masih menitikkan air mata, kupencet bel yang berada tepat di ujung pagar. Kemudian terlihat adikku Rafa mengintip dari balik jendela, lalu keluar membuka pintu dengan cepat.

Rafa datang ke arahku dengan sedikit berlari, “Kak Nabila? Kak Nabila kenapa?” tanyanya sambil membukakan kunci pagar. 

“Ibu sudah tidur, Raf?” tanyaku dengan suara lirih di sertai sesenggukan. 

“Ibu ada, Kak. Belum tidur, masih wiridan habis sholat witir tadi. Gak biasanya juga Ibu belum tidur jam segini.”

Aku dan Rafa masuk ke dalam rumah, setelah ia mengunci pagar kembali. Jantungku berdebar, dan air mata pun semakin menjadi saat aku memasuki rumah. 

“Bu, ada Kak Nabila, Bu.”

Ibuku bangun dari tempat sholatnya dan datang menghampiriku yang sudah duduk di sofa ruang tamu, “Nabila! Kamu kenapa malam-malam begini?”
Kupeluk Ibuku erat, lalu tumpahlah tangisku dalam rangkulnya. Sungguh pelukannyalah yang bisa membuatku meluapkan semuanya. Aku belum bisa berucap apa-apa. Hanya tangis dan tangis yang bisa kucurahkan. 

Ibu membelai lembut kepalaku penuh sayang, “mengangislah, Nak. Menangislah dulu. Ibu ada di sini.” Mendekapku dalam tangis, membuat Ibu juga meneteskan air mata. Ia mengerti betul apa yang sedang aku rasakan, walaupun aku belum bercerita sepatah kata kepadanya. 

Puas sudah aku menangis, dan perlahan sesenggukanku mulai mereda. Kucoba mengeluarkan kata-kata dari mulutku dengan tertatih, “Ma… Mas Andre, Bu.”

“Mas Andre kenapa, Nak?”

“Mas Andre,” aku kembali sesenggukan menyebut nama suamiku.

Ibu mengusap-usap kepalaku lembut dan terus menenangkanku, “iya, Nak. Ada apa dengan Mas Andremu?”

“Mas Andre tidur dengan Rio di kamarku, Bu.”

“Apa?” Ibuku terkejut, seakan tidak percaya dengan apa yang barusan aku katakan.

“Iya, Bu. Mas Andre tidur dengan Rio. Itu makanya sampai saat ini ia tidak bisa menyentuhku sebagai istrinya.” Tangisku kembali menderai. Meski luka, aku merasa sedikit lega telah menceritakannya kepada Ibu.

“Ya Allah,  yang sabar ya, Nak. Ini ujian bagimu dan bagi kita semua.” Ibu terus menenangkanku. 

“Iya, Bu. Maafkan aku. Rumah tanggaku gagal.”

“Sudah, Nak. Sudah. Ini bukan salahmu.”

*** 

28 September 2007. Hari ini aku resmi bercerai dengan Mas Andre, suamiku. Begitu singkat perjalananku bersamanya. Enam bulan. 

Aku tidak tahu, entah kepada siapa selanjutnya hatiku akan berlabuh. Perjalanan cinta yang aku impikan hanya sekali seumur hidup berakhir kandas di awal jalan. Tapi aku yakin semua ada hikmahnya. Rencana Tuhan begitu indah. Perihnya luka di muka, berarti pertanda tangan-Nya meraihku keluar dari jurang kepedihan yang lebih dalam.

Aku ikhlas.






   

   



Saturday, September 6, 2014

Flight with Russian Man


Udara pagi benar-benar sejuk dengan tetesan embunnya. Jalan-jalan terlihat masih sangat sepi, belum ada tanda-tanda aktifitas masyarakat akan dimulai pagi itu. Mungkin orang-orang masih enggan keluar rumah atau sekedar mencari minuman hangat dan sepotong roti untuk sarapan, sebab suasana kota yang beriklim dingin sedang hangat menggentarkan karena suara-suara tembakan yang hampir terdengar setiap saat.
Land Cruiser Prado dengan plat CD melesat dengan gagahnya menembus pos-pos penjagaan tanpa hambatan, padahal ketika itu hampir semua jalan protokol di San’a - ibu kota Yaman - ditutup karena situasi politik yang masih tidak stabil di Negara tersebut. Setiap kali melewati pos, para tentara bersentaja laras panjang yang berjaga hanya hormat, lalu mempersilahkan mobil untuk berjalan kembali.
Aku yang duduk di sebelah kanan supir begitu asik menikmati suasana indah pagi hari yang tersuguhkan dari kota tempat istana Ratu Balkis pernah berdiri megah, sebelum akhirnya Nabi Sulaiman As memindahkannya ke Palestina. Meskipun begitu, kesunyian malam masih terasa hingga sang mentari muncul.
Pagi itu tujuanku ke Bandara Internasional San’a. Aku diantar oleh salah seorang staf KBRI yang kebetulan kerabat dekat sepupu iparku. Pak Huda namanya. Ia duduk di kursi tengah tepat di belakang sopir. Sengaja ia mengantarku ke bandara lantaran situasi keamanan kurang memungkinkan bagiku untuk pergi sendiri. Karena  pastinya akan banyak hal sulit yang aku hadapi di tengah perjalanan, mengingat situasi kota dalam keadaan siaga I.
Sesampainya di bandara, aku langsung diantar masuk oleh Pak Huda. Pagi ini ia berpenampilan agak santai tidak seperti waktu aku  menemuinya di kantor. Dengan celana jeans biru langit, Polo T-shirt berkerah, dan jas cokelat, serta id-card yang selalu terkalung di lehernya, ia terlihat cukup berwibawa, dan dengan tanda pengenalnya tersebut ia bisa menemaniku hingga masuk ke ruang tunggu yang biasanya hanya diperkenankan untuk penumpang.
Tak lama setelah itu ia pamit, karena masih ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan di kantor. Lalu akupun beranjak menghilangkan jengah dalam diriku dengan melihat-lihat jajanan yang ada di ruang tunggu sambil membeli sedikit tambahan souvenir untuk oleh-oleh keluargaku di rumah.
***
Menunggu adalah hal menyebalkan yang selalu saja menyelingi kisah perjalanan hidup, entah sudah berapa cokelat yang habis kumakan di ruang tunggu, untung akhirnya tiba juga waktuku untuk masuk ke pesawat. Para petugas terlihat bersiap-siap untuk menertibkan para penumpang. 
Sesaat kemudian pintu kaca terbuka, lalu aku mengambil langkah maju bersama para penumpang lain memasuki bus yang akan mengantarkan penumpang ke pesawat yang akan mereka tumpangi. Maklum, bandara internasional San'a mungkin hanya sepertigapuluhnya bandara Soekarno-Hatta, sehingga belum mempunyai fasilitas belalai gajah untuk masuk ke pesawat.
Di atas pesawat, aku langsung mencari tempat dudukku dan dengan sigap kumasukkan ransel kecilku ke bagasi kabin. Alhamdulillah, aku dapat window seat left side. Tempat yang menurutku paling nyaman ketika bepergian sendiri naik pesawat terbang. Karena aku tahu kemana harus membuang jenuh saat kudapatkan teman sebangkuku kurang familiar untuk diajak bicara. 
Tapi sayangnya, teori 'kebahagian dan kesedihan datang sepaket dalam kehidupan kita' itu juga berlaku di sini. Di saat aku bahagia bisa membuang jenuhku dengan melihat pemandangan di luar, ketika itu juga aku sedih karena sulit berkomunikasi untuk sekedar bilang "maaf saya mau pipis." Resiko.
Orang-orang masih sibuk mencari tempat duduknya masing-masing. Diantara mereka juga ada berusaha memaksakan kopernya yang besar untuk tetap masuk, padahal seharusnya ditempatkan dibagasi pesawat pada saat chek-in tadi, bukan diletakkan di bagasi kabin. Pramugari berparas cantik dengan wajah campuran arab dan eropa terlihat sangat sibuk menertibkan penumpang. Meski demikian, senyum manisnya tak henti tersungging dari bibir merahnya.
Sesudah mengambil posisi nyaman, aku mengambil majalah dari kantong belakang kursi di depanku. Perlahan aku baca judulnya dengan terbata-bata, “F-l-y  E-m-i-r-a-t-e-s…”. Ya, akhirnya aku berhasil membaca judul besar dari majalah tersebut, masih ada beberapa kata lagi yang harus aku baca. Sebenarnya aku cukup lancar berbahasa Inggris, tapi terkadang bepergian jauh menurunkan kecerdasanku hingga 80 persen. Maka hanya 20 persen dari kecerdasan yang bisa aku gunakan selama bepergian, dan satu persennya sudah kugunakan untuk membaca judul majalah petunjuk keselamatan penumpang. Bodoh.
“Buffh…!” Di tengah konsentrasiku membaca judul majalah tersebut, seorang laki-laki berkulit putih dengan kemeja hitam dan celana jeans biru tiba-tiba duduk di sebelah kananku. Apa yang ia lakukan sebenarnya hal biasa. Duduk. Tapi dengan ukuran badannya yang super jumbo, yaitu empat kali lebih besar dariku, perubahan posisinya dari berdiri ke duduk cukup mennggetarkan singgasanaku di kabin pesawat tersebut. Saat itu juga aku merasa tidak sedang berada di pesawat, tapi di angkot 06 A, duduk di pojok dengan volume penumpang tidak wajar, yang pada saat itu biasanya supir angkot berteriak sambil melihat spion tengah, “woi…! yang kecil dipangku”, dan pada saat yang bersamaan juga ayahku berteriak, “saya bayar dua bang!”.
Tapi saat ini aku tidak bersama ayahku di pesawat, dan pramugari juga tidak mungkin bilang kepada orang bule di sampingku, “excuse me Sir, can you lap your child, please!” Aku tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi dan bule itu benar-benar memangkuku, mungkin penerbangaku akan lebih terasa seperti naik bapak hamil terbang dari pada naik pesawat.
Pemumpang sudah menempati tempat duduk mereka masing-masing, tapi belum ada tanda-tanda pesawat akan lepas landas. Aku mencoba menatap ke bule di sampingku. Ia sepertinya sedang menikmati posisi nyamannya sembari menarik nafas panjang. Terfikir olehku untuk mencoba menyapanya, sekedar salam kenal agar ia tau bahwa di sampingnya ada anak manusia bukan siluman upil yang biasa diplintir-plintir lalu dibuang.
“Ehm.. excuse me Sir!” kataku pelan sambil mencoba meneguhkan pandangan ke wajahnya. Sebenarnya saat itu aku agak cemas, takut ia menjawab sapaanku sambil mengeluarkan api dari mulutnya.
“Owh.. yeah! Anything wrong? Am I disturbing you?” jawabnya sambil sedikit tersenyum. Ternyata ia terlihat baik.
“Hemm… no, sorry! Nothing…” jawabku singkat. Terdengar olehku dari cara dia mengeja huruf  R, sepertinya ia berasal dari Rusia atau Prancis. Tapi dugaan kuatku ia dari Rusia, dan itu berangkat dari bau badannya. Ya, walaupun kecerdasan yang aku pakai hanya 20 persen, penciumanku cukup tajam dalam menerka sesuatu.
Setelah diam, kucoba sapa ia kembali, “sorry, where are you from?” pertanyaan standar, tapi sekaligus berperan untuk membuktikan dugaanku bahwa ia orang Rusia.
“Owh, I’m from Russia, and you?” dia balik bertanya, “hemm… I’m from Indonesia, have you visited Indonesia, Sir?”
“No, where is it?”
“It’s at Asia, near Singapore. Don’t you hear about it before?” dengan  rasa penasaran aku bertanya kepada bule tersebut. Tapi dengan santai ia menjawab, “no I don’t.”
“Hemm… okay, no problem. But for your information, Indonesia is the biggest country in Asia.”
“Owh… that’s great! But long time ago and I don’t remember when, I’ve visited Bali at Asia. It’s amazing island you know.”
“Oh my God, so that is Indonesia, Sir!”
“No, I visited Bali, not Indonesia.”
“Yes, I know you visited Bali, but Bali is inside Indonesian Republic’s area, and if you are visiting Bali then you are visiting Indonesia”. Dalam hati, “ini bulenya yang kurang cerdas, tidak bisa mengerti bahwa Bali adalah pulau yang ada di dalam Negara kesatuan Republik Indonesia, atau jangan-jangan aku yang salah tidak pernah tahu kalau bali sudah jadi Negara sendiri.
“Owh, okay… forget it!” Jawab bule tersebut santai.
“Whaaaaat? It’s okay, no problem,” sebagai pribumi yang ingin negaranya diakui orang asing aku cukup terkejut dengan tanggapan santainya yang kurang peduli, tapi mungkin lebih baik aku diam dan mengalah, dari pada harus buang waktu berdebat dengan bule yang aku rasa tidak pernah belajar Geografi. Kami pun diam.
***
Tak terasa pesawat sudah berputar-putar mengambil ancang-ancang akan lepas landas. Sebelum mesin pesawat berderu kencang, bule Russia ini mengeluarkan iPhone dari dalam saku celananya yang aku rasa sudah di setting flight mode, karena tidak mungkin ia berani mengaktifakannya sedangkan pesawat akan lepas landas. Selang beberapa detik kemudian ia menegurku sambil menjulurkan iPhone-nya kepadaku, “hey, see this…! This is my dog!” 
Aku memperhatikannya. 
Lalu ia geser lagi ke gambar selanjutnya, “see! This is when it was child”. Terlihat olehku sesosok anjing hitam, yang lebih tepatnya balita anjing hitam, yang saking hitamnya, hanya putih bola matanya saja yang mungkin terlihat di saat gelap. 
Entah apa yang ada dipikiran bule tersebut, mungkin ia ingin menghiburku dengan foto-foto anjingnya. Tapi sebagai seorang muslim timur, aku merasa serba salah dalam menyikapi hal tersebut. Tidak tahu apa yang harus aku katakan. Akhirnya aku menanggapi semampuku dan tetap menjaga agar tidak menyinggung perasaannya, "owh, Sir, your dog so cute, it's really pure black." Tapi tanggapan balasan darinya malah melotot aneh.
Ibu jari besarnya kembali menggerakkan layar ke gambar berikutnya, “and this, when it was four. And this one, it is now… hehe”. Terakhir adalah gambar anjing itu sekarang. Ia sedang berbaring di atas spring bed besar dengan bed cover warna biru bercorak bintang-bintang. Di lehernya terdapat kalung berduri besi yang membuatnya terlihat lebih sangar. Anjing yang beruntung.
“Owh… how old is it now?”
“six… hehe”
Untungnya di usianya yang ke enam, ia masih diperlakukan layaknya anjing biasa, hanya bedanya ia agak sedikit disayang, kalau tidak, pasti fotonya sekarang ia sedang mengenakan seragam putih merah dengan tas ransel Teletubies di punggungnya.
***
Mesin pesawat mulai berderu, seorang pramugari cantik terlihat berjalan agak tergesa dari bangku depan menuju ke belakang sambil sesekali mengingatkan penumpang yang belum mengenakan sabuk pengamannya. Maksud hati ingin mencari perhatiannya dengan tidak mengenakan sabuk pengaman dulu sampai ia mendekat ke kursiku. Yah, paling tidak ia bisa membantuku mengenakannya dan mengusap kepalaku seraya berkata, “hei handsome, fasten your seatbelt, please!”
Tapi sayang, sebelum hal itu terjadi, bahkan sebelum pramugari tersebut mendekat ke kursiku, tangan besar bule Russia dari samping kananku langsung menyambar tali sabuk pengamanku dan mengikatkan pengaitnya dengan kencang sambil bilang, “fasten your seatbelt boy, we get to fly now!” Seketika itu juga perutku seperti diinjak gajah dan mataku langsung melotot menahan sakit. Mungkin niatnya baik, tapi sayang dia lupa, bahwa aku ini manusia bukan kantong sampah yang harus diikat kencang agar tidak berserakan. Ya, budaya timurlah yang memaksaku untuk tidak melawan dan mencoba memahami serta memaklumi apa yang menurut mereka baik walaupun buruk bagi kita. Dan itulah jawaban mengapa bangsa kita dulu dijajah dan sampai saat ini masih terjajah. Kita selalu memandang positif segala budaya luar yang masuk dengan multi etika yang seharusnya tidak semua kita serap, dan bak keledai galau, kita mengamini bahwa itulah kemajuan.
Sambil masih menahan sakit, kucoba melonggarkan pengait sabuk pengaman tersebut, hingga akhirnya aku bisa kembali bernafas normal. Tidak mau mengambil pusing, kupalingkan pandanganku jauh ke luar jendela pesawat memandang barisan rumah yang semakin terlihat kecil seiring dengan bertambah tingginya pesawatku terbang, hingga akhirnya menembus permukaan mega kemudian tampaklah gugusan awan putih yang terbentang luas sejauh mata memandang.
Maha Suci Engkau Yaa Rabb yang telah menganugrahiku mata untuk melihat kebesaran kuasa-Mu. Meski aku sering lalai dalam mensyukuri nikmat-Mu, Engkau masih memberiku waktu untuk kembali tunduk di hadap-Mu.
Penerbangan kali ini sebernarnya hanya sebentar, karena jarak tempuh yang memang tidak terlalu jauh, yaitu dari San’a International Airport menuju Dubai International Airport. Berhubung tempat dan teman duduk yang kurang bersahabat waktu dua jam menjadi terasa amat panjang. Monitor kecil di depanku yang berisi berbagai macam hiburan pun terasa membosankan. Tiada tempat bagiku mencurahkan segala gundahku selain kepada-Nya. Aku berharap, pesawat bisa cepat mendarat dan aku bisa menghirup udara segar Dubai meski hanya sebatas transit, dan untuk penerbangan selanjutnya, aku tidak bertemu lagi dengan mahluk sejenis bule Rusia tadi. 

Thursday, August 21, 2014

Pupus



Gemerlap langit berbintang begitu indah melukis wajah malam purnama. Para pengamen jalanan silih berganti menyajikan nada irama tuk menemani Farel yang sedari tadi duduk termenung di ujung taman kota. Namun hadirnya pengamen hanya ia sambut dengan lambaian tangan tanda ia tidak mengantongi recehan.  Sebotol air mineral dingin dan sebungkus cokelat Toblerone begitu setia menemani kesendiriannya. Ia selalu melakukan hal tersebut saat alur kehidupan sedang kalut, gabungan manis cokelat dan dingin air mineral adalah obat mujarab yang selalu bisa menetralkan suasana hatinya, sehingga otaknya bisa kembali berpikir logis.
Farel bukan perokok yang biasa melepaskan setiap masalah bersama kepulan asap yang berembus, tapi ia pecinta cokelat yang selalu mencairkan setiap problem melebur bersama rasa manis yang memanjakan lidah. Ia begitu menikmati suasana mengemut cokelat serta meneguk air mineral dingin di bawah hamparan langit gemintang
Tatapan mata Farel masih kosong, hingar bingar suasana kota di malam minggu tidak bisa juga membuatnya bergeming lalu beranjak berbaur bersama orang-orang menikmati indahnya malam. Ia sudah tenggelam dalam dunianya sendiri, angannya pergi jauh menembus dimensi yang entah berada dimana.
Tapi sesaat kemudian heningnya terhenti. Ia mengubah posisi duduk santai menjadi lebih tegap ketika bola matanya memandang lurus ke depan ke arah wanita yang berada di seberang jalan sedang menuju menghampirinya. Wanita yang sudah tidak asing lagi baginya. Sosok berambut panjang sebahu yang selama ini mengisi kosong ruang hati dan pikirannya. Gadis pujaan nan cantik menawan yang ia dambakan kelak akan menjadi pendamping hidupnya. Farah.
Jantung Farel berdetak semakin cepat seiring langkah Farah yang datang mendekatinya. Pikirannya kacau, ia sedang meraba-raba kalimat apa yang akan ia lontarkan ke Farah. Hatinya kembali bergolak setelah sebungkus cokelat berhasil menetralisir pola pikirnya. Dan sosok Farah pun sekarang berada tepat di hadapannya.
“Farel,” Farah mencoba menegur laki-laki yang mengambil posisi mematung tidak menghiraukan kedatangannya.
Hening. Farel masih belum tau akan menjawab bagaimana sapaan Farah. Otaknya masih memilih kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
“Mau apa datang kemari, bukannya kita sudah berakhir ya?” Farel mencoba menjawab Farah dengan pertanyaan langsung.
“Iya aku ngerti Farel, kita memang sudah berakhir, tapi plis Farel, untuk kali ini saja izinkan aku bicara.” Farel terdiam mendengar kata-kata Farah, “boleh aku duduk?”
“Duduklah,” jawab Farel datar.
Setelah Farah duduk di sampingnya, Farel kembali melemparkan pertanyaan yang cukup tajam bagi Farah, “kapan kamu melangsungkan akad nikah?”
“Farel plis, izinkan aku menjelaskan semuanya dulu,” jawab Farah mencoba menangkan hati Farel yang sedang berkecamuk.
Semarah apapun Farel, Farah selalu saja bisa mengambil hatinya dan membuat suasana menjadi cair, “owh begitu, baiklah, aku mendengarkan.” Pandangan Farel tetap lurus ke depan tanpa menghiraukan Farah yang ada di sampingnya. Setiap kali melihat Farah, yang ada terbesit di dirinya hanya sakit hati yang tak kunjung sembuh.
“Jadi begini Farel,” Farah mulai meneruskan pembicaraannya, “ternyata pria yang datang berta’aruf kepadaku sudah dicarikan calon juga oleh keluarganya. Ibu pria tersebut saat ini lebih condong kepada wanita pilihan keluarga. Memang dia memilih aku, tapi jika ibunya memilih wanita itu, ia tidak bisa menolak pilihan ibunya. Dia meminta waktu kepadaku untuk untuk beristikhoroh dan bicara kepada ibunya.
Dan kamu perlu tau Farel, saat kamu memaksa aku menentukan pilihan antara kamu dan dia, aku tertekan. Aku berada diantara tuntutan keluarga yang ingin aku menikah cepat dan keinginanku menikah dengan orang yang aku cintai. Aku menyesal telah memilih dia dan meninggalkanmu. Setelah ia datang dan bertemu dengan papa mama, aku masih belum bisa menghilangkan bayangmu dari ingatanku. Yang ada dibenakku cuma kamu.
Dan kamu juga harus tau Farel, laki-laki yang selalu ditanyai dan diperhatikan oleh mamaku itu kamu bukan dia. Mama selalu tanya, ‘Farel kemana? Kenapa gak sama Farel aja?’
Memang iya, kemarin papa dan mamaku mendesak aku untuk menikah lebih cepat, melihat usiaku yang sudah terlalu matang. Tapi saat ini papa dan mama sudah tidak menekan aku lagi. Mereka tidak memaksakan aku harus menikah tahun ini, mereka ingin aku menikah dengan orang yang aku cintai. Dan kamu pastinya tau siapa laki-laki yang aku cintai yang tidak bisa aku lepaskan dari hati dan pikiranku.
Aku ingin menikah dengan orang yang aku sayangi, Farel. Aku ingin tertawa saat setelah menikah nanti, bukannya canggung. Aku ingin membangun keluarga bersama orang yang benar-benar bisa mengerti aku. Aku maunya kamu, Farel.
Sekarang dia sedang bimbang, antara memilih aku dan wanita pilihan keluarganya. Jadi kemungkinan aku akan menjadi pengantin dengan dia sangat tipis. Tapi sayang, dulu kamu sudah bilang akan menutup rapat hatimu untukku, padahal aku masih berharap bisa kembali kepadamu.”
Setelah penjelasan Farah, mereka berdua terdiam. Farel belum bisa menjawab semua penjelasan Farah. Ia belum mampu mengiyakan keinginan Farah untuk bisa kembali kepadanya, karena sebelumnya, berkali-kali ia beri kesempatan kepada Farah, tapi selalu saja Farah yang menyianyiakan kesempatan tersebut. Farah lebih memilih meninggalkan Farel.
Suasana masih hening, keduanya membisu saling menahan perasaan. Dalam hati, Farel benar-benar ingin Farah kembali, tapi ia juga tidak mau patah hati untuk kesekian kali karena setiap kali ia memberi hatinya untuk Farah, Farah melepasnya dan hanya bisa berkata ‘maaf’. Farel bimbang antara menerima Farah, atau menyuruhnya pergi selamanya.
Perlahan Farel mencoba membuka pembicaraan, “jadi kamu belum dilamar?”
“Iya, dan belum ada kepastian dari dia,” jawab Farah.
“Kamu maunya aku?” tanya Farel lagi memastikan.
“Iya Farel, kamu tau itukan? Dan aku cuma bahagia sama kamu,” jawab Farah meyakinkan.
Farel tertegun. Ia masih berpikir dan berpikir apakah Farah sungguh-sungguh menginginkannya atau masih seperti sebelum-sebelumnya, Farah hanya menjadikannya lelaki cadangan.
“Tapi Farah,” Farel melanjutkan pembicaraan, “ jika dia memilih kamu dan meninggalkan wanita pilihan keluarganya, serta ibunya merestui, apa kamu mau menolaknya?”
Dan keadaanpun berbalik, sekarang Farah yang tertegun dengan pertanyaan Farel, karena ia tau ia tidak akan bisa menolak jika pria tersebut memilihnya. Tapi egonya yang masih menginginkan Farel mendorong ia untuk berkilah, “Farel, aku kan sudah bilang, aku maunya kamu, dan dengan keadaan seperti ini tidak mungkin dia memilih aku. Wanita itu didukung oleh keluarganya sedangkan aku tidak.”
Farel kembali tertegun dan hatinya mulai luluh oleh semua bujuk rayuan Farah. Ia tergoda dan mulai mencoba membuka hati lagi untuk Farah yang selama ini sudah ia coba tuk menguburnya dalam-dalam.
“Baiklah, jika memang benar itu maumu, aku akan buka hatiku untukmu. Tapi Farah, aku masih lama, kamu tau kan aku harus membiayai adikku dulu yang tahun ini akan lulus. Paling cepat tahun depan aku baru bisa menikahimu. Apa kamu siap menungguku?”
“Hei Farel, kamu itu adalah alasan kenapa aku kuat menunggu, sedangkan menunggu adalah hal yang paling aku benci. Lagi pula aku menuggumu tidak dengan diam mematung. Kamu tau, aku berkali-kali dipanggil Rektor mendapat tawaran menjadi dosen di universitas tempat aku kuliah, jadi menunggumu akan menjadi hal indah yang menghiasi hari-hariku?” jawab Farah.
“Benarkah begitu?” tanya Farel ragu.
“Ya benarlah Farel,” jawab Farah meyakinkan.
Malam itu di hati Farel mulai tumbuh kembali harapan yang selama ini telah pupus. Ia pulang mengantar Farah dengan sejuta harapan terpendam yang menjadi suratan doa kepada penciptan-Nya.
Lampu-lampu jalan yang terang menguning membuat suasana hati Farel yang hampir tandus kembali bersemi. Ia mulai bersemangat lagi, karena bagian dari dirinya yang hilang telah ia temukan kembali.
***   
Arloji di tangan kiri Farel menunjukkan pukul 10.00 malam. Ia memarkir sepeda motornya tepat di depan gerbang rumah Farah.
“Farah!” sebelum Farah beranjak masuk, Farel menghampirinya. Sambil memegang tangan Farah dan mata mereka bertemu, Farel bertanya memastikan, “benar kamu maunya aku?”
“Sungguh Farel!”
“Baiklah, kalau begitu, aku mau kamu bilang ke papa dan jelaskan semuanya. Aku tunggu jawabannmu besok. Kamu siap bilang ke papa kan?”
“In Syaa Allah, Farel.”
***
Keesokan harinya di hari Senin seperti biasa, Farel menjalankan rutinitasnya sebagai pekerja kantoran. Tapi hari ini terasa berbeda baginya, ia masih diselimuti tanda tanya akan jawaban yang akan Farah berikan kepadanya. Ia ragu akan Farah yang benar-benar menginginkannya kembali. Konsentrasinya buyar, ia tidak sanggup mengerjakan pekerjaannya dengan baik hari ini.
Di sela-sela bekerja, berkali-kali ia melihat pemberitahuan di hanphone-nya. Ia menunggu bbm dari Farah. Ia menunggu jawaban atas apa yang Farah utarakan semalam. Ia berharap Farah membawa kabar gembira dengan memilihnya dan mau menunggu.
Harap-harap cemas tak henti-henti meranggaskan hatinya. Dia bukan laki-laki egois yang selalu memaksakan kehendak, melainkan sosok penyabar yang selalu mampu bertahan meski berkali-kali disakiti oleh orang yang ia sayangi. Terlihat bodoh, tapi itulah Farel dengan segala ketulusannya.
Farel bukan tergolong pria tidak laku yang mengharap dipilih oleh wanita pujaannya. Begitu banyak wanita yang ingin mendampinginya, tapi untuk saat ini cintanya masih menatap ke satu arah dan berdiam untuk waktu yang lama. Entah sampai kapan, mungkin sampai cintanya benar-benar membunuh dan membuangnya percuma.
***   
Senja mulai menampakkan rona merahnya, Farel semakin tidak sabar menunggu jawaban dari Farah. Lalu dengan cepat, di pintu keluar kantor ia mengambil handphone-nya dan mencoba mengirim pesan ke bbm ke Farah.
Farel: Hasil akhir?
Pesannya begitu singkat dan padat. Cukup lama Farel menunggu balasan dari Farah. Logo pesan yang ia kirim masih berlambang D berwarna biru, pesannya belum dibaca oleh Farah.
Farel semakin cemas, ia bertanya-tanya dalam hati sekaligus mempersiapkan dirinya untuk jawaban yang tidak ia harapkan.
Pelan ia melanjutkan langkahnya ke tempat parkir motor sambil terus mengutak-atik hapenya tanpa tau apa yang ingin ia cari. Yang ada dibenaknya, ia hanya ingin cepat mendapatkan jawaban dari Farah, sekali pun itu menyakitkan.
Langit senja yang tadinya cerah kemudian mendung menambah suasa hati Farel makin berkecamuk. Ia hanya mampu memendamnya dalam hati. Sendiri.
Tak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu pun datang, bbm dari Farah. Dengan detak jantung yang berdegup semakin kencang Farel mencoba menguatkan diri membuka pesannya.
Farah: Farel, Sandi dan keluarganya datang pagi tadi, aku benar-benar tidak tahu. Sandi langsung ngomong ke papa. Semua sudah diurus. Aku akan menikah minggu depan, Farel. Farel maaf!
Langit seakan runtuh, Farel tidak tahu harus menjawab apa pesan dari Farah. Setelah ia mencoba membuka hatinya kembali untuk Farah, lagi-lagi Farah mempermainkan perasaannya untuk yang kesekian kali.
Farel melangkah lesu, ternyata dugaannya benar, bahwa selama ini Farah orang yang begitu ia sayangi hanya mempermainkannya. Farah tidak benar-benar mencintai Farel sebagaimana Farel mencintai Farah.
Farah: Farel maafin aku!
Farel: Iya… 
 
 

Wednesday, June 11, 2014

Secangkir Kopi Kemerdekaan



 “Bu, ambilkan kopi dan rokok bapak, Bu,” kata Sukirman kepada Maimunah. Entah sudah berapa lama bola matanya tak bergerak sedikitpun dari menatap bendera merah putih yang berkibar di halaman sekolah depan rumahnya. Pandangannya kosong. Mungkin jiwa sedang tidak bersama jasadnya saat ini. Hingar bingar tawa dan canda anak-anak yang sedang mengikuti berbagai lomba di bawah kibaran bendera juga tidak mampu meluluhkan raut kaku di wajah Sukirman. Hanya balai bambu dan sepoi angin yang bercampur asap kotor polusi udara Jakarta yang menemani kebisuan dalam kesendirianya di teras rumah yang sempit.
Tak lama terdengar langkah kaki Maimunah, istri Sukirman dari dalam rumah membawakan apa yang dipesan, “ini kopi dan rokok, Pak,” ucap sang istri sembari menaruh secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek di atas meja kecil dekat Sukirman duduk.
“Bapak ini kenapa toh?” celoteh sang istri dengan logat Jawa. Setiap tanggal 17 Agustus selalu saja termenung memandangi bendera merah putih. Kita ini sudah merdeka Pak, sudah tidak ada lagi yang perlu disesali!”   
“Kamu itu ndak ngerti apa-apa, Bu,” jawab Sukirman datar, sambil mengambil sebatang rokok, lalu menyeruput kopi hitam yang disuguhkan.    
17 Agustus 2013.
Genap enam puluh delapan kali sudah Sukirman merayakan kemerdekaan negeri tercinta Indonesia. Tapi penyesalan akan kemerdekaan yang ia perjuangkan mati-matian dulu tak kunjung pupus dari dalam sanubari. Perasaan ingin berontak selalu saja muncul bak dendam membara yang kian menyulut setiap kali perayaan kemerdekaan dilaksanakan. Jauh dari dalam sosok yang lugu tersirat sebuah nota protes yang selalu menemani serta mengutuk kemerdekaan yang selama ini sudah dijalani bangsanya, lalu dengan mudah mengubahnya menjadi sebuah kalimat ‘KITA MASIH DIJAJAH DAN BELUM MERDEKA!’.
Rokok pun disundut dengan api, lalu dalam-dalam Sukirman menghisapnya perlahan. Saat ini tidak ada yang lebih nikmat menurut Sukirman selain melepaskan sesal di dada bersamaan dengan hembusan asap rokok yang keluar dari mulutnya.
 Hal yang sama juga sering ia lakukan jauh sebelum enam puluh delapan tahun yang lalu, ketika ia masih menggendong senjata kesana kemari demi mengemban tugas sebagai pejuang veteran 45. Tetapi hal itu ia lakukan tidak untuk meluruhkan sempit di dada, melainkan untuk menghilangkan penat yang merasuki tubuhnya dan mengumpulkan tenaga kembali di sela-sela waktu istirahat yang terbatas.
Diam-diam Sukirman mencoba memutar ingatannya kembali yang ada jauh di kota Blitar di saat rekan-rekan seperjuangannya dibrondong pasukan Belanda tatkala  bersembunyi di belakang dagangan kios kelontong milik orang Tionghoa saat mereka mencoba kabur dari kejaran pasukan Belanda. Klise-klise bayangan akan kejadian tersebut berkelebat rapi dalam memori usangnya. Kala itu setiap dari mereka berjanji, bahwa siapa saja yang bisa lolos dan hidup harus meneruskan perjuangan kemerdekaan ini.
Sukirman yang pada saat itu tergolong paling muda (belia), diajak oleh pemilik kios untuk naik ke balkon lantai dua agar bersembunyi bersamanya. Di sana terdapat tempat persembunyian yang sempit dan hanya cukup untuk dua orang. Sedangkan rekannya yang lain hanya bisa menutupi badan mereka di balik dagangan-dagangan kios tersebut, sambil sesekali  mata mereka mengawasi keadaan luar dari celah-celah kecil yang berada di antara tumpukan barang.
 Sangat disayangkan, kecemasan mereka dalam persembunyian berakhir suram. Karena dengan tanpa sengaja salah satu anggota pasukan Belanda melihat kemana arah lari mereka. Sehingga sesampainya mobil Jeep di depan kios tersebut, tujuh anggota pasukan Belanda langsung mengarahkan senjata mereka ke arah kios tersebut lalu menghujaninya dengan ratusan peluru tanpa ampun.
Mereka yang saat itu sedang kehabisan amunisi tidak bisa berbuat apa-apa. Semua rekan Sukirman mati mengenaskan penuh luka tembak di sekujur tubuh mereka. Untungnya tempat persembunyian Sukirman dan pemilik kios benar-benar aman, sehingga ketika salah satu anggota pasukan Belanda memeriksa ke balkon lantai dua ia tidak menemukan mereka. Lalu setelah kondisi terkendali Sukirman akhirnya bisa menyelamatkan diri kemudian kabur ke Batavia.  
Semakin memutar rekaman peristiwa tersebut, kian kental pula rasa sakit hati menyelimuti dirinya. Rayuan–rayuan angin seraya berbisik menelusup sukma terdalam di relung hati Sukirman dan menghantarkannya ke muara penyesalan tak bertepi yang memaksa ia untuk mencaci maki kehidupan yang telah ia alami selama ini, “kenapa bukan aku yang tertembak ketika it?. Kenapa harus aku yang menyaksikan bangsa ini diinjak-injak lebih keji dari penjajahan Belanda atau Jepang sekalipu?. Percuma! aku hidup, kalau toh masih harus melihat bangsa ini terpuruk”.
Selang beberapa waktu terdengar lagi langkah kaki Maimunah dari dalam rumah. Sedangkan Sukirman masih asyik memainkan asap-asap tembakau yang ia hisap lantas ia keluarkan berhembus, sambil sesekali ia menyeruput kopinya. “Ini pak, ibu bawakan pisang goreng buat menemani bapak”.
Kemudian Maimunah duduk bersama Sukirman.
Setelah lima menit berjalan belum ada sepatah kata tertutur dari mulut mereka, yang ada hanya suara gesek dedaunan diterpa angin dari pohon mangga di depan rumah Sukirman. Keduanya membisu layaknya sepasang kekasih yang sedang menikmati dunianya masing-masing, tetapi secara batin mereka berdekatan. Suasana pun hening.
“Pak, ya mbok cerita kalau ada masalah. Bagaima juga, aku sebagai isterimu ndak enak melihat bapak termenung seperti itu terus,” Maimunah membuka pembicaraaan.
Mereka memang pasangan yang sangat harmonis sekaligus romantis. Karena di usia mereka yang cukup lanjut, mereka masih dianugerahi umur panjang dan tubuh yang sehat, sehingga masih bisa menikmati hari tua mereka berdua.  
Budi, anak semata wayang mereka, sudah lama ingin mengajak Sukirman dan Maimunah untuk tinggal bersama di rumahnya yang cukup besar dan nyaman. Tapi Sukirman menolak dan lebih memilih tinggal di gubuknya yang sederhana. Baginya rumah mungil tersebut lebih bisa menguatkan ia menjalani realita hidup yang seringkali tidak berpihak kepada masyarakat kecil serta membuatnya sadar bahwa ia juga adalah bagian dari mereka yang tak terpisahkan. Ketimbang jika ia mengamini ajakan Budi untuk tinggal di kediaman mewahnya, suasana surga di dalam dunia yang fana ini mungkin akan membuatnya lupa akan tangisan dan rintihan orang-orang tertindas yang dulu pernah mengenyam asam garam bersama dan membutuhkan meski hanya uluran kelingkingnya. 
“Begini loh Bu, aku ini sedih melihat nasib bangsa kita yang tidak lepas-lepas dari penjajahan,” kata Sukirman mulai menjawab.
Dengan penuh rasa penasaran, Maimunah kembali bertanya, “loh, bukannya kita sudah merdeka Pak? Sekarang ini sudah tidak ada lagi bule-bule yang menodongkan senjata ke kita dan memaksa kita untuk melakukan hal apapun yang mereka inginkan. Sekarang kita bebas, berbuat apa saja yang kita mau selagi tidak mengganggu kepentingan orang lain. Kita bebas belajar, berpendapat, berekpresi, berkarya dan masih banyak hal-hal yang bisa kita lakukan tanpa batasan dan tekanan. Bukan begitu pak?”
Sukirman terdiam sambil mulutnya mengunyah pisang goreng buatan istrinya. Matanya tertuju ke satu arah, menandakan otaknya sedang bekerja keras merangkai kata untuk menjawab pertanyaan istrinya. Memang agak sulit untuk mengungkapkan arti kemerdekaan baginya kepada orang lain, kendati kepada istrinya sendiri.
“Bu, ibu pernah berfikir tidak, berapa kekayaan yang bangsa kita miliki?”
“Yaa… banyak Pak.”
“Apa ibu juga pernah berfikir, dari sekian banyak kekayaan bangsa kita, kemana perginya kekayaan tersebut, dan siapa yang menikmati?” Kata Sukirman kembali bertanya kepada istrinya.
Maimunah termenung. 
Selang beberapa detik kemudian Sukirman melanjutkan pembicaraanya, “kalau seandainya bangsa ini yang menikmati, harusnya sudah tidak ada orang-orang yang tinggal di pinggir rel kereta api, apa lagi di kolong jembatan. Dan harusnya anak-anak bangsa yang ada di plosok-plosok daerah sudah bisa mengenyam pendidikan setara dengan anak-anak yang ada di perkotaan. Terkadang aku sangat miris melihat komposisi kesejahteraan di Negara ini yang tak kunjung bisa merata. Memang sih Bu, sudah menjadi sunnah kehidupan, ada kaya ada miskin, tapi kan paling tidak, rakyat tidak sampai harus mengais rezeki dari sisa makanan yang ada di tong sampah- tong sampah kaum elit”.
Maimunah menarik nafas panjang, lalu menghembuskanya perlahan. Tidak dapat dipungkiri apa yang dikatakan Sukirman adalah kenyataan sekalipun itu pahit. “Yaaah… Mungkin pemerintah kita terlalu sibuk Pak! Negara ini kan luas. Cukup rumit dan sulit untuk membangun Negara ini dengan cepat. Sebaiknya kita percayakan saja kepada mereka-mereka yang sedang duduk disana. Toh kewajiban kita sebagai warga kan mendukung pemimpinya, bukan begitu Pak?”
“Nah, hal itulah yang aku sesali selama ini.” Dengan tanpa jeda Sukirman kembali menimpali omongan istrinya. “ Semenjak kudeta militer brutal tahun 1965, yang membawa Jenderal Soeharto ke puncak kepemimpinan, kita sudah ndak punya lagi sosok pemimpin yang dapat dipercaya yang benar-benar ingin membawa bangsa ini kearah perubahan. Karena zaman itu sudah mengkikis habis moral anak bangsa, sehingga setiap diadakanya pemilu, kita tidak benar-benar memilih pemimpin. Sebab yang menjadi caleg, cagub, atau capres sekalipun hanyalah kandidat korup dengan kepentingan bisnisnya, melawan kandidat korup lainya dengan kepentingan bisnisnya juga. Dengan kata lain Bu, bangsa ini masih terus disetir oleh barat, selama kaum elite yang duduk di sana hanya mementingkan kepentingan bisnisnya. Dan jika seandainya ada yang mencoba mengadakan perubahan, pasti akan dihadang dengan segala cara”, kata Sukirman panjang lebar kepada isterinya. Lalu ia kembali mengambil sebatang rokok, dan menyeruput kopi hitamnya yang sudah dingin.
Percakapan mereka tentang bangsa ini semakin asik. Sukirman yang mantan pejuang veteran 45 cukup apik mengikuti perkembangan bangsanya. Mulai dari kasus-kasus kecil sampai kasus-kasus besar yang sedang terjadi di Negara ini. Sedangkan Maimunah, yang mantan guru era penjajahan juga tidak kalah kritis dalam menilai. Ia lebih mengedepankan realita yang dilihat oleh masyarakat kecil seperti mereka tanpa harus mengusik apa yang terjadi sebenarnya di kalangan kaum elit.
“Yaaah… Sudah lah Pak, kita ini rakyat kecil bisa apa. Sekalipun kita berkoar-koar di bunderan HI (Hotel Indonesia) pastinya tidak akan digubris. Harapan kita hanya doa. Dan yang bisa kita lakukan untuk  bangsa ini adalah memperbaikinya dimulai dari diri kita sendiri,” kata Maimunah mencoba menanggapi ucapan suaminya tadi.
Mereka kembali membisu. Setelah percakapan panjang hanya diam yang dapat mereka simpulkan. Ya, seperti itulah potret kebebasan berpendapat di Negara ini yang tidak pernah tersampaikan. Rakyat hanya bisa berdebat satu sama lain tanpa ada sedikitpun jalan untuk pendapatnya bisa didengar. Ribuan surat yang melayang ke kaum elit semuanya berakhir menumpuk di gudang. Diarsipkan tanpa pernah dibuka apalagi dibaca. Jutaan e-mail yang masuk hanya dibalas oleh pesan otomatis bahkan terkadang dibiarkan sama sekali. Dan dari sekian banyak biro pelayanan masyarakat yang ada, hampir semuanya sebatas kamuflase demi meraup keuntungan pribadi untuk membuncitkan perut-perut mereka harus selalu terisi.   
Di sela-sela keheningan, dari jauh terdengar suara mobil yang mendekat ke arah rumah tua mereka.
“Budi!” kata Maimunah terperangah. “Budi pak!”
Maimunah pun beranjak dari tempat duduk lalu berjalan keluar pagar rumahnya dan berdiri menyambut kedatangan mobil tersebut.
Budi memang rutin setiap sebulan sekali mengunjungi kedua orang tuanya. Ia selalu meluangkan waktu di sela-sela kesibukanya yang cukup padat sebagai pejabat pemerintah. Dan untuk bulan ini karena ada perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus, sengaja setelah apel serta upacara bendera di kantor, ia mengajak kedua anak laki-laki dan istrinya mengunjungi ayah dan ibunya.
Mobil pun berhenti, Budi turun dan langsung menyalami ibunya, lalu diikuti oleh istri dan kedua anaknya, yang bernama Eka dan Bagus. Setelah itu mereka berdua berlarian masuk melewati pagar rumah kemudian berebutan memeluk kakek mereka yang sedang duduk menunggu dibalai bambu.
Kakeek!”
“Kakeek!” teriak mereka bersahutan.
Sukirman pun menyambut bahagia pelukan Eka dan Bagus. Tiada yang lebih menghibur selain kedatangan anak, menantu beserta cucunya. Hidupnya terasa lebih lengkap dengan kehadiran mereka berkunjung. Walaupun saat ini ia sedang diselimuti kekalutan yang tak menentu.
“Bud, coba lihat bapakmu!”, Maimunah membuka pembicaraan sembari memasuki pintu pagar.
“Dari tadi pagi, melamun saja di teras rumah. Kerjanya hanya merokok dan minum kopi. Setiap 17 Agustus pastiii seperti itu. Untungnya kamu datang jadi bapak agak terhibur oleh jagoan-jagoan cilikmu.”
“Biar saja lah Bu!  mungkin bapak ingin bernostalgia dengan kenangan-kenangan masa lalunya,” Budi mencoba menetralisir keadaan.
“Yaa… tapi kan seharusnya tidak seperti itu, coba kamu ajak mengobroll! Mungkin kali ini kamu bisa merubah pandangan bapak tentang bangsa ini.”
“Baiklah Bu, saya coba.”
Lalu Budi dan isterinya masuk dan menyalami bapaknya yang sedang asik bercengkrama bersama kedua cucunya.
“Bapak sehat?”
“Alhamdulillah, bagaimana pekerjaanmu Bud? Lancar?” Sukirman menjawab dengan nada khas kebapak-bapakanya.
“Eka, Bagus, main dulu sana sama mama dan nenek, kakek mau bicara sebentar sama ayah kalian. Nanti kalau sudah selesai kita lanjut lagi main perang-peranganya.”
Sembari mengambil posisi duduk di samping ayahnya, Budi mulai berbicara, “Pak, bapak tau ndak, sudah berapa lama bangsa ini merdeka?”
“Sudah 68 tahun toh?” jawab Sukirman.
“Bukan Pak! Bangsa ini sudah merdeka jauh sebelum 68 tahun yang lalu,”
“Loh… ko kamu bisa bilang begitu Bud?” Sukirman balik bertanya.
 “Proklamasi yang dibacakan oleh Presiden Soekarno hanyalah sekedar simbol kemerdekaan bukan kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang sesungguhnya ada di dalam jiwa setiap anak bangsa Indonesia. Karena jiwa merdeka merekalah yang mendorong simbol itu dapat terwujud. Dan bapak sudah menanamkan jiwa itu dalam diri Budi, hingga Budi bisa menjadi seperti sekarang.”
“Haha…” Sukirman tertawa kecil sambil menepuk-nepuk pundak anaknya. “Benar sekali apa yang kamu katakan, Bud, kok bapak baru sadar yaa!”
Lantas Budi menyambung lagi, “O ya, Bapak ingat ndak, Bapak kan pernah mengutipkan perkataan Napoleon Hill sewaktu Budi masih SMP dulu, dan perkataan itu masih Budi ingat sampai sekarang.”
‘Jika kau tidak bahagia dengan duniamu dan ingin mengubahnya, tempat untuk memulainya adalah dirimu sendiri.’
“Haha… Bapak sendiri sudah lupa, Bud. Kalau bapak pernah mengutip kata-kata tersebut.” Sukirman kembali tertawa kecil sambil pikiranya mendalami makna kalimat tersebut.
Dan tak lama ia melanjutkan perkataanya, “itu sama ibarat secangkir kopi ini Bud! Dia akan tetap pahit selama kita tidak mau menuangkan gula kedalamnya. Kita tinggal memilih, membiarkanya tetap pahit, atau menjadikanya manis.
Apalah arti kita rakyat kecil di antara ratusan juta warga Indonesia. Mungkin kita tidak bisa merubah bangsa ini dengan hanya membalik telapak tangan. Tetapi harapan kita akan bangsa ini bisa terwujud sedikit demi sedikit dimulai dari diri kita yang menanamkan benih-benih jiwa merdeka kepada keturunan kita yang terkandung di dalamnya budi pekerti yang luhur. Karena kemerdekaan mengajarkan kita arti perjuangan, pengorbanan, cinta, kasih sayang dan harapan akan masa depan yang lebih baik.”
“Betul sekali, Pak. Hahaha…!”
Tawa lepas akhirnya menghiasi bibir mereka berdua. Sukirman sadar, bahwa kemerdekaan bukanlah sebuah teks proklamasi yang dibacakan ataupun bebasnya Negara dari penjajahan. Tapi kemerdekaan adalah kebebasan jiwa untuk mengendalikan pikiran dan hati untuk berbuat yang terbaik dengan sekuat tekad demi kemajuan negeri tercinta, Indonesia.
Berapa banyak orang bebas tapi jiwanya terjajah. Dan berapa banyak orang hidup dibalik jeruji besi, tapi akal, pikiran dan hatinya terbang bebas melalang buana mengukir sebuah teori hidup membangunkan jiwa-jiwa yang mati.