Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Monday, January 30, 2017

Keluarga Harmonis


Keluarga harmonis menurut pandangan gue tidak jauh berbeda dengan pandangan orang pada umumnya. Keluarga harmonis yang ada di bayangan gue yaitu sebuah keluarga yang rukun, saling mendukung dan saling mencintai, sebagaimana yang sering kita dengar dalam ucapan selamat atas pernikahan seseorang, sakinah, mawaddah, wa rohmah.
Gue rasa semua orang sepakat, bahwasannya keluarga yang demikian adalah impian mereka juga. Impian yang mereka kejar dan untuk mendapatkannya mereka rela mengorbankan waktu, pikiran dan perasaan untuk mewujudkan itu semua. Namun pada realita yang kita sering amati, tidak sedikit dari sebuah keluarga yang berujung tidak harmonis. Mengapa? Simak penjelasan gue yang gak penting ini… hehe…
Pada dasarnya, manusia diciptakan satu paket dengan egonya masing – masing. Setiap orang yang terlahir ke dunia, sudah Allah takdirkan untuk mempunyai berbagai macam rasa yang ingin dicapai oleh nafsunya. Sudah menjadi fitrah, manusia terlahir ingin merasakan disayangi, diperhatikan, dianggap, dikasihi, dan rasa – rasa lainnya yang semua orang pasti juga ingin mendapatkannya. Tapi Allah Maha adil, untuk mengatur semua rasa yang dimiliki manusia yang bersumber dari nafsunya, agar satu sama lain tidak bertentangan, Allah mensyariatkan sebuah hukum fundamental bagi setiap manusia yang tercipta, yaitu hak dan kewajiban.
Misal, ketika seorang lelaki meminang seorang wanita untuk menjadi istrinya, maka ketika itu pula hak dan kewajiban diantara keduanya itu melekat satu sama lain, tidak ada yang lebih tinggi antara hak atau kewajiban seorang suami terhadap istri, begitu pula sebaliknya. Suami mempunyai hak dan kewajiban terhadap istri, istri juga punya hak dan kewajiban terhadap suami. Agar perjalanan mereka harmonis, baik suami atau istri harus saling menghormati antara hak dan kewajiban mereka masing – masing
Ketika terlahir seorang anak ke dunia juga demikian, dengan terlahirnya seorang anak maka melekatlah hak dan kewajiban antara orang tua terhadap anaknya dan begitu pula sebaliknya.
Tapi sayang, terkadang kita sebagai manusia lalai akan nafsu dan ego kita sendiri. Kita sering kali merasa angkuh, bahkan terhadap keluarga kita sendiri. Tidak sedikit seorang suami yang menganggap haknya lebih tinggi dibanding istrinya karena merasa ia telah memenuhi semua kewajibannya. Tidak sedikit pula, seorang istri yang menuntut haknya di depan suaminya karena merasa semua kewajiban terhadap suaminya sudah tuntas.
Tidak sedikit pula orang tua yang merasa haknya lebih tinggi dari pada anaknya, lantaran ia merasa sudah memenuhi semua kewajiban terhadap anaknya, dan tidak sedikit pula anak yang menuntut orang tuanya dengan berbagai macam tuntutan dikarenakan merasa kewajibannya terhadap orang tuanya sudah ia penuhi.
Jika sudah seperti ini, maka yang akan timbul selanjutnya adalah tuntutan – tuntutan tanpa akhir atas hak – hak yang merasa kewajibannya sudah terpenuhi, “aku sudah turuti semua maumu, harusnya kamu sekarang yang mengikuti mauku.
Kamu ini anak tidak tahu diuntung, harusnya kamu bersyukur papa mamamu masih bisa menyekolahkanmu setinggi ini.
Aku sudah turuti semua kemauan papa mama, masuk sekolah unggulan, lulus SMPTN, masa sekarang ketika memilih pasangan harus papa mama juga yang menentukan?” Dan masih banyak lagi ungkapan – ungkapan pertengkaran dalam sebuah keluarga yang kebanyakan semuanya adalah tuntuan atas hak yang belum terpenuni.
Keluarga harmonis tidak seperti itu, keluarga harmonis menjalankan kekeluargaan mereka dengan rasa cinta. Bukan atas dasar hak dan kewajiban semata. Seorang ayah bekerja keras banting tulang karena ia cinta kepada anak dan istrinya. Seorang anak giat dan rajin belajar hingga berprestasi karena ia sayang dan cinta kepada orang tuanya. Semua yang dilakukan atas dasar cinta.
Dengan cinta hubungan timbal balik akan berjalan mulus. Orang tua yang cinta kepada anaknya, akan bersyukur dengan segala kekurangan anaknya, mendukung pilihan – pilihannya, serta memberikan segala yang terbaik untuk anaknya tanpa anak harus meminta.
Anak yang cinta kepada orang tuanya, suami yang cinta kepada istrinya, istri yang cinta kepada suaminya, semua berjalan demikian. Tidak ada yang berat untuk dilakukan, dijalani, dan dihadapi selama landasan mereka cinta dan kasih sayang.
Cinta akan membuat seseorang bersyukur atas segala keterbatasan, kekurangan, bahkan kekhilafan pasangannya. Cinta akan membuat orang tua bersyukur atas hadirnya seorang anak dalam kehidupannya, sekalipun ia hadir tidak sempurna.
Salahnya persepsi kebanyakan orang yang menjadikan hubungan keluarga mereka hanya sebatas hak dan kewajiban yang terpenuhi adalah, karena mereka hanya terfokus kepada hal tersebut, tapi lupa bagaimana menanamkan rasa cinta diantara mereka.
Cinta tidak datang secara otomatis, tapi melalui interaksi, dan pengorbanan – pengorbanan hati. Untuk bisa mengajarkan rasa cinta, yaitu dengan mencintai. Dengan begitu, hubungan harmonispun bisa tercipta.
Mungkin itu opini gue, buat yang punya pendapat lain, bisa diskusi di sini yaa… thx for visiting my blog.

Tuesday, August 12, 2014

Sahabat

Apasih arti sahabat menurut elo? Menurut gue sahabat itu segalanya dalam hidup, karena yang sering terjadi kita lebih dekat ke sahabat dari pada ke keluarga sendiri. Masalah yang bisa kita bagi ke sahabat belum tentu bisa kita bagi ke keluarga. Dan pastinya setiap orang butuh yang namanya sahabat tempat berteduh dalam hidup. 

Bukannya sahabat itu sama kayak temen biasa yaa? Bukan, sahabat lebih dari sekedar teman biasa. Dia ada bukan hanya disaat senang, justru saat kita terpuruk sahabat selalu siap menggandeng tangan kita, menarik, dan membantu kita bangkit lagi. Pertemuan dengan seorang sahabat juga gak bisa kita sangka-sangka. Kadang kita dekat dengan seseorang, sampai segala urusan dibagi bersama, tapi ada saatnya di tengah jalan dia terbukti bukan orang yang bisa kita nobatkan bernama sahabat. Karena tidak ada sahabat yang menjerumuskan sahabatnya sendiri. Terkadang juga kita bertemu dengan seseorang yang entah dari mana asalnya, berbicara sedikit, tapi tanpa terasa ada sesuatu yang dengan tidak sengaja menghubungkan hati dan pikiran untuk melebur menjadi sebuah sinkronisasi yang saling membangun. Saat kita jatuh dia yang membantu kita bangun, begitu juga sebaliknya.

Dan untuk yang sudah mau menjadi sahabat dalam hidup gue, gue mau ngucapin terima kasih udah berkenan menerima gandengan tangan gue. Terima kasih buat pegangan erat yang luar biasa. Terima kasih atas tamparan yang sudah menyadarkan logika gue yang kadang lumpuh atas perasaan. Terima kasih sudah mau menampung semua masalah gue dan mencari jalan keluarnya bersama. Dan mulai sekarang apa yang udah jadi linkingswear kita bakal gue jalani sepenuhnya... 

Ini saatnya meninggalkan masa lalu, meninggalkan orang-orang yang sudah membuang kita percuma, meninggalkan segala yang membuat langkah kita terhenti. Karena yang ada sekarang hanya kita, masa depan kita, dan kebahagiaan keluarga dan orang-orang yang selalu merindukan hadirnya kita di tengah-tengah mereka. Apapun yang terjadi kita selalu A-D-A...

Wednesday, July 30, 2014

Jodoh



Jodoh. Sebelum lebaran kemaren gue dapet inbox dari temen gue di Surabaya. Dia nanya gini, ‘Fik, ada yang bilang jodoh itu kita yang mencari lalu Tuhan yang merestui, itu penjelasannya gimana?’ heemmm… kayaknya doi baru dengerin omongannya om Mario ni… hehe… Sempet mikir sih gue. Konsep jodoh yang sebenarnya itu gimana. Gue juga sempet sharing sama beberapa teman, ngobrol ringan tentang jodoh, tapi kesimpulan akhir masih belum juga mengurucut kepada sebuah titik ujung dari arti jodoh sesungguhnya.
Kita sering melihat zaman sekarang, anak SMP, SMA, bahkan ponakan gue yang masih es de ada yang galau gara-gara pacaran, dan dia sempat bikin status facebook yang aneh aneh, kayak: ‘duh gak bisa tidur nii, kalau belom denger suara doi, ‘ atau, ‘cokelat udah, bunga udah, es krim udah, tapi ngambeknya ko gak ilang-ilang sih beb, aku minta maaf.’ Haddeeeh… dalem hati gue, ‘untung om lo ini gak ada di Indo, coba ada, gue jitakin deh atu-atu… haha… ‘
Manusia zaman sekarang sudah mulai memikirkan kehidupan berumah tangga dari masa yang terlalu dini, sehingga banyak dari mereka yang mencoba menjalin hubungan sejak es de. Tetapi dari sekian banyak gue menemukan pasangan kekasih yang terikat dengan kata ‘pacaran’ baru sedikit yang gue temui bisa sampai bersatu ke pelaminan. Dan ketika pasangan pacaran memutuskan untuk berpisah, kalimat yang paling sering terungkap dan menjadi jurus pamungkas adalah, ‘mungkin kita belum berjodoh, kalau memang kamu jodohku, pasti kita dipertemukan kembali.’ Padahal, mereka telah lama berpacaran dan telah lama pula berusaha menyatukan hati dan visi.
Di sisi lain, gue juga banyak menemukan pasangan suami istri yang menikah tanpa proses berpacaran. Bahkan ada yang awalnya tidak suka, tapi setelah terikat janji suci pernikahan, mereka bisa menyatukan hati dan otak demi membangun sebuah keluarga sakinah. Hidup bahagia, dan dikaruniai anak-anak yang sholeh dan sholehah. See?
Potret lain dari seketsa kehidupan adalah pasangan bercerai. Kalau kita sekali-sekali jalan-jalan ke pengadilan agama, setiap harinya pasti ada saja sidang perceraian. Bahkan sekarang sudah ada suatu badan usaha yang menangani masalah perceraian, bisa dibilang mereka adalah konseptor bagi pasangan suami istri yang ingin bercerai. Gue lupa namanya apa… haha… Yang jelas tujuannya membantu mengatur hak dan kewajiban suami istri setelah bercerai, baik itu hak asuh anak, atau pemisahan keuangan keluarga yang kadang sering terbengkalai di tengah panasnya suasana perceraian. Seperti kebanyakan anak yang rusak masa depannya berawal dari sebuah perceraian yang tidak termanage dengan benar.
Ada pasangan suami istri yang bercerai setelah delapan tahun menikah, ada yang setelah lima belas tahun menikah, ada yang setelah tiga puluh tahun menikah, bahkan yang setelah akad langsung bercerai lalu suaminya langsung menikah lagi juga ada. Dan itu salah salah satu teman gue sendiri... Wow!
Mungkin kita bisa bilang untuk pasangan yang langgeng dari pacaran sampai ke pelaminan atau tanpa proses pacaran lalu menikah dan hidup bahagia, ‘kalian jodoh yang serasi, atau kalian memang jodoh.’ Tapi masalahnya, bagaimana dengan pasangan bercerai? Apa mereka aslinya tidak berjodoh sehingga bercerai, atau jodoh mereka hanya sampai waktu tertentu dan ketika bercerai mereka menemukan jodoh mereka yang sesungguhnya?
Setelah gue pikir-pikir, konsep jodoh yang sesungguhnya berbanding lurus dengan rezeki. Bukankah kita sering mendengar ungkapan ini: ‘rezeki, jodoh, dan usia semua ada ditangan-Nya.
Seperti halnya rezeki, jodoh harus kita cari dan kita ikhtiarkan. Tapi segala ikhtiar Allah yang menentukan. Rezeki harus dicari dengan cara yang halal dan diridhoi oleh Allah, begitu juga dengan jodoh, cara mencarinya juga harus dengan tetap berpegang kepada syariat yang sudah Ia gariskan untuk hamba-Nya. Jadi mungkin ini jawaban dari kenapa banyak pasangan yang tidak langgeng dalam pernikahannya, bisa jadi karena proses awal pencariannya tidak Allah ridhoi, sehingga hubungan kedepannya tidak mendapat ridho-Nya juga.
Proses mencari jodoh yang islami adalah dengan ta’aruf (perkenalan), lalu setelah itu kedua belah pihak saling beristikhoroh. Jika dari pihak laki-laki sudah ada kemantapan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius, maka dia bisa memintanya kepada pihak perempuan yaitu walinya. Baru setelah itu, pihak permpuan memberi jawaban hasil istikhoroh atas permintaan pihak laki-laki. Kemudian jika pihak perempuan menerima, maka proses bisa berlanjut, tetapi jika tidak, ya semua berakhir sampai di situ. Adapun kalau pihak laki-laki yang tidak ingin melanjutkan, maka proses berhenti sampai pada tahap ta’aruf saja. Dengan begitu, tidak akan ada hati yang tersakiti, tidak ada kehormatan keluarga yang ternodai, juga tidak akan ada generasi galau yang masa depannya gak jelas hanya karena hubungan percintaan yang gak pasti.
Ada yang bilang, ‘lho, kalau ta’arufnya hanya seperti itu, mana bisa cinta? Kita kan harus tau sifat-sifat calon pasangan kita lebih dalam demi terwujudnya hubungan yang harmonis dalam keluarga.’ Ya memang, sifat, karakter, dan kebiasaan kita harus mengetahuinya, tapi untuk mengetahui hal tersebut tidak harus berinteraksi langsung dengan calon pasangan kita. Semua bisa ditanyakan melalui perantara. Seperti ibu kita menanyakan kepada ibu calon mempelai. Jika sudah mengetahuinya, maka istikhoroh yang memperkuat kemantanpan hati. Semua sudah diatur rapi dalam Islam.
Gue punya teman yang cewenya sekarang udah mau nikah. Kata temen gue, cewenya ini cintanya sama dia, sayangnya sama dia, dan hatinya masih terus condong ke temen gue ini. Cewenya menerima datangnya orang lain untuk ta’aruf lantaran temen gue ini belum bisa menikahinya dalam waktu dekat dan cewenya terdesak permintaan keluarga yang menginginkan ia menikah cepat. Dalem hati: ‘ini yang mau nikah keluarganya apa dia? whateverlah, gak ngurus… haha. Nah, teman gue ini galau, karena seakan cewenya ini masih memberi harapan ke dia lantaran tadi, cewenya bilang hatinya masih condong ke teman gue. Akhirnya gue saranin teman gue untuk meminta ketegasan dari hasil istikhoroh cewenya. Karena sangat tidak mungkin, hasil istikhoroh yaitu kemantapan hati bertentangan dengan pilihan. Kalau memilih A, otomatis pilihan tersebut adalah representasi dari suara hati.
Setelah teman gue bertanya kepada cewenya, ternyata cewenya masih dilemma antara memilih teman gue atau orang yang akan berta’aruf ke dia. Tapi setelah beberapa saat cewenya pun memberi jawaban, dan ternyata cewenya gak memilih teman gue. Tandanya hasil istikhoroh cewenya itu bukan teman gue jawabannya. Kalaupun cewenya bilang hatinya buat teman gue, itu adalah representasi dari sifat egois cewe tersebut yang gak mau kehilangan teman gue, karena selama ini dia merasa bahwa teman gue ini yang bisa membuat dia nyaman. Maka detik itu juga gue bilang ke teman gue kalau dia harus memutus hubungan dengan cewenya, karena cewenya sudah milih yang lain dan otomatis jalan mereka sudah berbeda. Bukan berarti memutus silaturrahim, melainkan sejak pilihan membedakan jalan, semua pihak harus fokus dengan jalannya masing. Kalau cewenya masih bimbang juga, gue saranin teman gue untuk membuat suatu masalah yang membuat cewenya bisa pergi dengan sendirinya. Mungkin semuanya akan merasa sakit. Tapi itu konsekuensi dari sebuah pilihan. Karena gak mungkin teman gue masih terus jalan sama cewenya sedangkan dia sudah memilih yang lain. Harus disadari oleh kedua belah pihak mereka belum berjodoh.
Sedangkan cinta, ia adalah karunia terindah yang dianugerahkan Allah bagi pasangan yang bersatu karena-Nya. Rasa itu akan timbul dengan sendirinya tanpa harus berusaha mencinta. Ia ada untuk menguatkan ikatan setiap hubungan. Pastinya lo pernah denger banyak ditemukan single parent yang mampu menghidupi sekian banyak anaknya, kalau bukan kekuatan cinta hal tersebut pastinya akan sangat sulit.  Lalu apakah yang dirasakan temen gue dan cewenya itu adalah cinta? Kalau menurut gue sih bukan, itu hanya rasa terlalu sayang yang timbul dari frekuensi interaksi yang terlalu sering.  Karena menurut gue cinta hanya akan datang pada waktu dan tempat yang tepat. Dia tidak akan salah alamat, karena dia tidak buta tapi punya mata.
Balik lagi ke jodoh, jadi kesimpulannya jodoh adalah karunia yang Allah berikan kepada kita. Terkadang kita harus berusaha mencarinya sendiri, terkdakang pula jodoh itu datang dari sisi yang tidak kita sangka-sangka. Seperti halnya rezeki yang berupa harta benda, adakalanya kalanya jodoh tetap menjadi milik kita, adakalanya juga kita harus kehilangan karena Allah mencabutnya kembali. Maka pasangan yang bercerai, bukan berarti mereka tidak berjodoh sejak awal, melainkan ditengah jalan Allah turunkan cobaan rumah tangga demi menguji kesabaran mereka, jika mereka mampu melewatinya bersama, bertahan dan kembali meluruskan niat pernikahan mereka, maka hal itulah yang Allah kehendaki. Tetapi jika tidak, Allah menawarkan alternatif lain yaitu bercerai, baru nanti jika mereka sudah pada jalannya masing-masing akan Allah pertemukan kembali dengan jodoh yang baru tergantung kepada ikthtiar mereka.
Sebagaimana rezeki itu gak akan kemana, begitu juga dengan jodoh. Tidak ada istilahnya rezeki atau jodoh kita diambil orang lain. Jadi sebagai manusia yang yakin kepada Tuhannya kita harus bisa lebih ikhlas untuk menerima apa yang ternyata tidak digariskan menjadi milik kita. Terkadang itu sulit, tapi kita harus percaya, Allah sudah mempersiapkan yang terbaik selama kita terus berprasangka baik kepada-Nya.

Wednesday, June 4, 2014

Mapan, Nikah, dan Rezeki



Ga sengaja waktu lagi iseng buka facebook ada inbox masuk dari salah satu temen gue. Dia bertanya kayak ini, “mapan menurut pandangan mas Fikry itu apa sih?” Agak risih sih sebenarnnya dipanggil mas, hehe…, dan gue lebih seneng dipanggil nama biar lebih akrab. Soalnya tiap kali dipanggil mas, gue langsung berasa lagi bawa gerobak sayur di komplek sebelah rumah gue. Tapi gue gak mau rugi, dia manggil gue ‘mas’, gue manggil dia ‘mbak’. Karena paling enggak, disaat gue merasa jadi tukang sayur keliling, dia juga merasa jadi pembantu rumah tangga komplek yang beli sayuran gue

Akhirnya gue kasih jawaban gini, “mapan menurut saya adalah kemampuan seseorang untuk berusaha memanfaatkan serta mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya untuk bertahan. Dan mapan tidak bisa dinilai dengan materi ataupun kedudukan”.

“Lho, ko jawabannya beda sama yang lain mas? Misalnya ada yang bilang gini, ‘belum mapan ko udah ngebet nikah, mau dikasih makan apa anak istri?’ apa makna mapan menurut sampean masih sama seperti yang sebelumnya?” Dalem hati gue, ‘tergantung sih, nikahnya sama apa, klo sama manusia yaa kasih makan nasi. Kalau sama herbivora kasih makan tumbuhan, dan kalau sama carnivora tinggalin di hutan aja suruh berburu sendiri, hehe…’

Dari pertanyaan temen gue di atas, gue rasa perspektif orang tentang mapan dan nikah harus diluruskan kembali. Karena sekarang banyak orang yang berfikiran kalau mau menikah harus mapan dulu. Dan orang tua perempuan juga mendukung pendapat yang sama, ‘cari pasangan hidup yang sudah mapan’, yang dimaksud dalam segi materi. Jadi, mau calonnya ngerti agama atau tidak, asal dia bisa menghidupi, orang tua sudah cukup tenang.  

Akhirnya gue jawab, “Kalau kemapanan dipandang hanya dari sudut pandang materi, itu gak adil, karena artinya, mereka yang tergolong kurang mampu tidak boleh menikah. Adapun kemapanan yang diperlukan dalam menikah, hanyalah kemampuan seorang suami dalam berusaha menafkahi keluarganya dengan memanfaatkan dan mengembangkan segala potensi yang ada dalam dirinya. Soal banyak atau sedikit rezeki yang didapat itu Allah yang mengatur. Kita berusaha mencari rezeki bukan karena rezeki itu datang dari apa yang kita usahakan. Tetapi kita berusaha mencari rezeki karena Allah memerintahkan kita untuk berusaha. Dalam istilah bahasa arabnya (at-ta’aamul bil asbaab).

Dalam Al-qur’an Allah telah berfirman:
وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها [هود:6]
“tidak ada satupun (mahluk) yang berjalan di muka bumi, kecuali Allah yang bertanggung jawab atas rezekinya”. (Hud: 6)

وفي السماء رزقكم وما توعدون [الذريات: 22]
“dan di langitlah rezeki kalian serta segala apa yang telah dijanjikan” (Ad-zurriyaat: 22)

Dalam dua ayat di atas bisa kita lihat sendiri, di ayat pertama Allah telah menjamin bahwasannya Allah Swt akan bertanggung jawab atas rezeki semua mahluk yang berjalan di muka bumi. Maka apakah kita ragu dengan janji Allah Swt?

Pernah suatu hari gue denger cerita, bahwasannya Imam Abu Hanifah memiliki seekor kucing yang sangat ia sayangi. Setiap harinya diberi makan tanpa sedikitpun kucing itu kelaparan. Tapi dengan pola makan yang dirasa sudah sangat mencukupi bagi seekor kucing, kucingnya Imam Abu Hanifah tetap saja mencuri makanan tambahan. Dan setiap kali ia mencuri, ia tidak memakannya seperti biasa, tetapi ia bawa jauh keluar rumah. 

Akhirnya Imam Abu Hanifah curiga dengan perilaku kucingnya tersebut. Maka suatu ketika setelah kucingnya mencuri makanan tambahan Imam, Abu Hanifah mencoba mengikuti kemana kucingnya pergi. Dan tenyata kucingnya berhenti di sebuah goa yang di mana di dalam goa tersebut terdapat seekor ular yang buta. Lalu kucingnya menaruh makanan yang ia curi agak masuk ke mulut gua sehingga ular tersebut dapat lebih mudah merasakan adanya makanan dan bisa menjangkaunya. 

Dari kisah di atas bisa sama-sama kita ambil pelajaran, bahwa janji Allah itu nyata. Ular yang buta saja Allah tanggung rezekinya apalagi kita sebagai khalifah di muka bumi. 

Lalu di ayat yang ke dua, Allah bukan hanya berjanji, tapi sekaligus bersumpah. Karena dalam bahasa Arab huruf (و) biasa dipakai juga untuk bersumpah. Sebegitu ragunya kah kita akan janji Allah sehingga mengharusnkan Allah bersumpah dalam firmannya? Allah Swt bersumpah bahwasannya rezeki kita itu di langit. Dalam artian rezeki adalah murni karuna dari Allah Swt, adapun yang kita lakukan di bumi adalah wujud dari ketaatan kita menjalani perintah-Nya yang menyuruh kita untuk berusaha. Analogi lain, sakit misalnya, yang menyembuhkan penyakit tetap Allah, tapi kita ke dokter adalah bagian dari usaha karena Allah menyuruh kita berusaha. 

Tidak cukup sampai di situ, di ayat lain Allah juga berfirman:
وإن يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله [النور:32]
“dan jika mereka dalam keadaan miskin, maka Allah akan memepekaya mereka dengan karunianya”

Di dalam ayat ini Allah Swt menjelaskan bahwa jika sepasang suami istri menikah dan merka dalam keadaan fakir miskin, maka Allah Swt akan memperkaya mereka dengan segala karunianya. 

Nah, jadi sekarang menurut gue, yang paling penting harus dipersiapkan dalam sebuah pernikahan adalah niat yang suci untuk ibadah. Kalau niat awal dalam menikah sudah murni ingin mencari ridhonya Allah Swt, maka Allah tidak akan menyianyiakan hamba-Nya yang Ia ridhoi. Susah, senang, sedih, suka, dan bahagia semua adalah bumbu-bumbu kehidupan yang terdapat dalam sebuah pernikahan, yang mana segala cobaan yang ada akan membuat pasangan suami istri yang menikah karena Allah Swt semakin kuat dalam menjaga tali cinta kasih sehidup semati yang terucap di akad. 

Hal tersebut berbanding terbalik dengan pasangan yang menikah karena cinta buta, mengejar materi, atau bahkan hanya sekedar pelampiasan nafsu kebutuhan biologis. Itu sama saja membangun rumah dengan jaring laba-laba sebagai pondasinya, rapuh dan tidak akan bertahan lama. 

Jadi menurut gue tidak perlu menunggu mapan dalam segi materi untuk menikah, tapi mantapkan niat, lalu ucapkan ‘bismillah’.

Oya satu lagi, kebanyakan laki-laki sekarang mencari istri yang mau diajak hidup susah. Menurut gue pandangan seperti itu harus dirubah. Soalnya sering timbul pertanyaan dalam diri gue pribadi, ‘ni orang mau ngajak nikah apa mau ngajak hidup susah?’. Kalau gue jadi ceweknya, gue sih nolak. Hehe… Karena seharusnya, seorang suami itu terus membahagiakan istri dan anak-anaknya walaupun keadaan dirinya susah. Jadi sekarang kalau di tanya, ‘mau cewek yang gimana?’ Simple aja jawabnya, ‘yang sholehah, dan mau diajak hidup bahagia bersama’. Hehe…