Wednesday, July 3, 2013

CD Ku di Bukit Shofa



Umroh sekeluarga memang kenangan paling indah yang tak terlupakan. Dan gue berdoa semoga aja mimpi nyokap untuk bisa pergi haji bersama bisa jadi kenyataan.
Ramadhan 2004. Alhamdulillah gue sekeluarga bisa menjalani ibadah puasa di tanah suci Mekkah. Sebenarnya pijakan kaki kami yang pertama bukanlah di Makkah, melainkan di Madinah. Karena sesampainya di bandara King Abdul Aziz Jeddah, dengan bus kami langsung dibawa ke Madinah.
Cukup nikmat, buka puasa pertama kami lakukan di Masjid Nabawi. Gue akuin, di Masjid nabawi pelayanan cukup cepat dan rapi. Karena 15 menit sebelum adzan Maghrib berkumandang, plastik panjang sudah digelar di tiap shaf. Lalu setelah itu berbagai macam menu ta’jil pun dihidangkan. Yang pasti setiap orang mendapat, semangkuk yogurt, seper empat potong roti gandum yang kalau ia tidak dibagi, bentuknya akan lebih besar dari Frisbee, beberapa butir korma, segelas air zam-zam dan tak lupa gahwa (sejenis kopi bunn, yang biasanya di campur dengan jahe).
Wajarlah, sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia yang suka sok tau dan gengsi untuk bertanya. Apalagi kalau merasa dirinya sedang diperhatikan. Melihat menu yang dihidangkan cukup menarik menurut gue, sikap gue langsung sok-sokan kayak orang arab. Dalam diri, gue serasa memiliki jenggot lebat dan hidung mancung, padahal untuk berbicara bahasa arab belepotanya minta ampun.
Setelah makan beberapa butir korma, gue yang ketika itu duduk di samping bokap, langsung buka yogurt mangkokan dengan gesitnya mengikuti tingkah laku orang arab yang ada di samping gue. Trus gue potek roti gandum dengan potekan yang cukup besar lalu gue cocol kemangkuk yogurt yang ada di depan gue. Dan “haaaup!” Potongan roti berlumuran yogurt yang cukup besar pun berbaring indah di rongga mulut gue. Lalu seketika itu juga mata gue langsung melotot dan lidah gue seakan mau berontak akibat efek mengecap rasa dari makanan yang baru gue makan.
Bokap gue yang dari awal memperhatikan proses gue makan pun bertanya, “enak ki?” Lalu dengan sigap gue pencet idung gue sampe ga bisa nafas, menutup mata dan mengunyah dengan kecepatan 80 kunyahan permenit sampai akhirnya makanan itu bisa masuk keperut gue. Dan hal tersebutlah  yang biasa gue lakukan ketika makanan yang rasanya aneh sudah terlanjur masuk ke mulut, dan ga bisa dikeluarkan karena situasi dan tempat tidak mendukung untuk melepehkan makanan sembarangan. Baru setelah usaha yang cukup menguras tenaga gue jawab pertanyaan bokap, “aneh pa, rasanya…”.
“Bhaahaha…makanya cobain dulu!” sahut bokap gue menang, karena dia merasa kalau dia ga kena perangkap.
Gue bukanya ga biasa minum yogurt. Tapi rasa yogurtnya yang ga kayak biasanya. Karena rasanya sangat beda dengan yogurt Cisangkuy atau yogurt yang biasa dibeli di mini market. Ternyata orang arab lebih suka yogurt yang murni, tanpa diberi gula atau campuran rasa lainya.
Setelah merasa tidak puas dengan yogurt dan roti gandum super besar akhirnya gue coba minum gahwa, karena sudah dari tadi gue perhatikan orang arab di samping kanan gue enak banget minumnya.
Sebelum meminum gue coba cium dulu baunya, kalau aneh ga akan gue minum. Karena sebagai orang Indonesia, gue ga mau terjerumus ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Lalu gue dekat kan hidung gue ke bibir gelas, dan ternyata…wuih! aromanya begitu menggoda. Tanpa pikir panjang, langsung aja gue minum segelas gahwa yang sudah hampir dingin, “srruuup!”.
Dan untuk kedua kalinya, mata gue melotot, tangan gue mencet hidung, lalu kembali mengunyah dengan kecepatan yang sama, hingga “glegek!” Lho, ko dikunyah? Ya… karena itu sudah menjadi bagian dari rukun, jadi harus dikerjakan, tidak sah jadinya kalau ditinggalkan.
***
Setelah tiga hari kami di Madinah, tibalah waktunya untuk melaksanakan umroh ke Makkah. Perjalanan dari Madinah ke Makkah cukup menguras tenaga. Apalagi di bulan puasa. Walaupun naik bus ber-AC tetap serasa naik onta kehilangan punuk akibat kehausan ketika melihat pemandangan diluar hanya ada gunung batu dan hamparan pasir. Walaupun  akhirnya gue sadar, ternyata batu itu indah.
Sesampainya di Makkah kami langsung menuju Masjidil Haram, sungguh takjub gue, ketika pertama kali melihat Ka’bah. Rasanya hati ini bergetar, mata tak kuat menahan air mata syukur, dan mulut tak henti-hentinya mengucap tasbih dan tahmid.
Dengan kain ihrom yang hampir melorot, gue berjalan mengelilingi Ka’bah sambil memengang tangan bokap. Di belakang gue dan bokap, ada adik gue Fira sama nyokap juga saling menuntun. Maklum, peminat umroh ketika Ramadan cukup banyak sehingga akan dengan mudah kita kehilangan satu sama lain.
Tawaf putaran ke tigapun terselesaikan dan masuklah pada putaran yang ke empat. Betapa kagetnya gue ketika gue menatap ke arah bokap, ternyata yang gue tuntun bukan bokap gue. Dan orang yang gue tuntun juga ikutan kaget setelah tau kalau yang dia tuntun bukan istrinya. Lalu gue lihat kebelakang, ternyata adik gue sama nyokap juga ga ada. Waaahh… gaswat! Kalau hilang di Cililitan, gue masih tau jalan pulang. Ini hilangnya di Masjidil Haram, yang mana kalau tidak hafal di pintu mana ketika masuk, pasti akan kebingungan mencari sandal ketika keluar.
Sebenernya sih ada cara mudah, agar gue bisa diketemukan kembali sama bokap dan nyokap gue dengan cepat. Yaitu dengan menerobos lautan manusia sampai menempel ke Ka’bah, trus gue panjat kainya sampai akhirnya gue berada di puncak Ka’bah, lalu gue teriak,”Papa…! Mama…! Fiki di sini pa…ma…!”
Tapi ga mungkinlah gue melakukan hal itu, karena gue ga bisa manjat dan karena kemungkinan yang terjadi jika hal itu beneran gue lakukan cuma dua. Yang pertama bokap nyokap gue akan pura-pura ga kenal dan memilih melanjutkan thawaf dan sa’inya, lalu melapor ke polisi kalau anaknya hilang ketika thawaf. Dan yang ke dua, setelah turun dari atas Ka’bah, gua akan dibunuh karena dikira ngaku Tuhan. Kalaupun tidak dibunuh, larinya pasti ke rumah sakit jiwa.
Akhirnya, karena sudah terlalu banyak hal-hal konyol yang bersarang di otak gue. Gue lebih memilih menyelesaikan thawaf dan sa’i terlebih dahulu baru setelah itu mencari bokap, nyokap dan ade gue.
Setelah tahalul, gue coba kelilingi itu yang namanya Masjidil Haram, ternyata capeknya minta ampun. Ga jauh beda sama lari pagi di senayan, cuma bedanya di sini ga ada tukang bubur ayam. Untungnya gak sampai harus menyelesaikan satu putaran gue sudah bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan keluarga tercinta. Dan nyokap langsung bilang, “Fiki kemana aja? Mama sempat cemas takut Fiki kenapa-kenapa!” Dengan nada lesu gue menjawab,”ga tau ma…tadi salah nuntun”.
Eh… adik gue malah ngakak, *jitak…!*
***



Pagi yang cerah, dan cuasa yang tidak terlalu panas, sangat mendukung untuk melaksanakan ibadah umroh yang ke dua. Akhirnya setelah sarapan pagi, kami langsung pergi untuk mengambil miqot untuk berihrom.
Di umroh yang ke dua ini gue bertekad bahwa gue ga boleh kehilangan keluarga gue lagi. Akhirnya tiap selesai satu putaran thawaf, gue selalu mengabsen untuk memastikan gue ga salah tuntun. “Papa… Mama… Fira…”, dan mereka selalu bilang “haaadir!” seusai namanya disebut.
Thawaf pun selesai, dan gue sangat bahagia karena gue ga kehilangan keluarga gue lagi. Lalu kami pun melanjutkan ibadah dengan melaksanakan sa’i.
Tidak jauh berbeda konsepnya dengan thawaf, gue tetap mengabsen keluarga gue setiap akan melanjutkan sa’i. Dan mereka juga selalu bilang ‘hadir’ ketika diabsen.  
Putaran pertama, putaran kedua, putaran ketiga, Alhamdulillah kami lancar menjalankanya. Di sa’i putaran ke empat entah kenapa tiba-tiba saja otak gue berfikir, menerka, meraba, seakan ada yang kurang. Spontan saja dengan cepatnya processor di kepala gue mengurutkan semua kejadian mulai dari hotel, sampai di tempat sa’i sekarang. “Ambil miqot udah, berihrom udah, niat juga udah” kata gue dalem hati.
Sambil berjalan, gue terus mencoba untuk menerka, “apalagi yang kurang, apa yang ketinggalan”. Lalu tak lama setelah berfikir keras, “astaga…! Pa… Fiki masih pake kancut!” kata gue ke bokap.
“Hah… yang bener! Coba periksa lagi!” kata bokap gue. Nyokap sama adik gue ngeliat gue dengan mimik bingung seakan memastikan kalau gue ga lagi bercanda.
“Bener pa… masih pake!” timpal gue lagi.
“Yaudah, sebentar lagi sampe bukit Shafa, lepas di sana aja!” Katanya nyokap gue. Bokap sama adik gue pun mengamini.
“Ya ampun ma…! Kan kan banyak orang!” gue coba mengelak, karena gue juga ga mau acara umroh bareng keluarga dibumbui dengan cerita melepas celana dalam di bukit Shofa. Apa jadinya?
“Yaa…abis mau gimana lagi?” Mau ngulang umroh dari awal?” kata nyokap gue lagi.
Akhirnya sesampainya di bukit Shofa, kami sekeluarga berkumpul di pojok, yang mana seingat gue di pojok terdapat sebuah lemari besar atau apa yang gue juga kurang ingat pastinya. Lalu tak lama kemudian, bokap, nyokap, dan adik gue sudah membentuk formasi untuk menutupi gue yang akan melepas celana dalam.
“Udah belom bang…lama amat!” kata adik gue.
“Iya nih bentar lagi… ni juga udah”, jawab gue.
Dan setelah selesai, “udah ni ma… taro dimana yaa?” tanya gue ke nyokap.
“Yaudah, selipin di bawah situ aja!” kata nyokap sambil menunjuk kearah lemari yang gue sebut tadi. Dan ketika gue selipkan celana dalam gue, ternyata dia ga sendirian. Sudah ada beberapa temanya yang sedang tertidur pulas di bawah selipan lemari. Hati gue lumayan lega, karena yang punya cerita seperti ini ga gue sendiri.
  Lalu setelah merasa benar-benar  aman, kamipun melanjutkan sa’i layaknya orang yang beristirahat sejenak lalu berjalan kembali.

Serangga Aneh Menurut Gue



Kali ini gue mau ngebahas tentang binatang-binatang yang menurut gue aneh dan  suka bikin kesel bangsa manusia. Salah satu diantara mereka yaitu kepinding, alias kutu busuk, alias tinggi, alias bangsat, dan mempunyai nama ilmiah dari bahasa latin cimicidae. Lumayan banyak ya namanya.
Gw berasumsi, diantara banyak nama yang dia miliki, nama aslinya cuma dua, bukan asli sih lebih tepatnya resmi, “kepinding dan cimicidae”. Adapun nama-nama lainya semuanya nama samaran yang mana nama tersebut munculnya akibat respon orang yang dia gigit.
“Aduh… bangsat, gatel banget apaan nih?” maka jadilah namanya bangsat. Ada juga yang, “Ih… liat tuh! tadi abis mampir di leher, gw langsung kegatelan”.
“Gelepok!”
“Euuhh! Bau banget! Wah ini sih kutu busuk”, lalu jadilah ia kutu busuk. Tapi kalo “tinggi” gw sendiri kurang faham, kenapa bisa dinamakan dengan nama tersebut, padahal ga ada korelasinya sama sekali antara wujudnya dengan nama yang diberikan. Gw jadi curiga, jangan-jangan sebenernya nenek moyangnya  kepinding, itu termasuk golongan jerapah atau tyrannosaurus. Dan ia menjadi kecil sekarang, itu karena dahulunya nenek moyang mereka sok eksis ikut-ikutan program teori evolusi Darwin. Salah gaul.  
Tapi untuk mempermudah dalam mengenal kepinding lebih jauh, lw harus faham dulu teori gw tentang kepinding. Jadi nanti, ketika lw berkunjung ke Universitas gw, maka berkunjunglah ke Fakultas Ilmu Kepinding (Fiking). Dan lo boleh sedikit berbangga, karena lo udah dapet teori gw cuma-cuma dengan mengunjungi blog ini tanpa harus menjadi mahasiswa di Universitas gw. Tapi entah kapan Universitas seperti itu akan terwujud. Mungkin jadinya akan lebih mirip peternakan kepinding dari pada Universitas.
Oke langsung aja, perhatikan baik-baik! Karna gw ga akan mengulangi teori ini lagi, “Digigit 1 nyamuk sama dengan digigit 10 kepinding. Dan digigit 1 kepinding sama dengan digigit 10 semut bakot. Dengan kata lain gigitan kepinding itu berada ditengah tengah garis sejajar antara gigitan nyamuk dan gigitan semut bakot”. Jadi dengan teori yang gw jabarkan diatas, ketika kepinding hinggap di salah satu dari bagian badan lo, lalu dia mengghisap darah lo dengan ganasnya, lo udah ada bayangan tindakan apa yang harus lo diambil. Sehingga apa yang lo lakukan bisa pas dan efektif.
Sampai di sini ada pertanyaan?
Oke, klo ga ada kita bisa lanjut. Lho, ko jadi berasa di ruang kelas ya?? Bubar! Bubar!
Sengaja gw bandingkan antara ketiga binatang tersebut. Karena belom lama, telah diketahui, bahwa mereka merupakan gabungan dari sindikat serangga peminum darah manusia. Yang mana, hasil dari darah yang mereka minum, tidak semuanya dialirkan ke tubuh mereka, melainkan sebagianya mereka donasikan ke perusahaan Blood Bank Company, yang mana perusahaan tersebut di pimpin langsung oleh Semut Bakot. Dan dari Blood Bank Company darah-darah tersebut di jual kepada manusia. Lalu dari keuntungan perusahaan, mereka bagi rata untuk kesejahteraan, bangsa nyamuk, kepinding dan semut bakot. Makanya sampai saat ini mereka terus bisa hidup enak dan berkembang biak. Sungguh terorganisir.
Jadi sejatinya semut bakot memang tidak meminum darah manusia. Kalaupun dia menggigit, itu hanya wujud balas dendam kepada manusia yang sudah membunuh relasi bisnisnya.
Gw jadi teringat pengalaman buruk gw bersama kepinding.
Ketika itu di suatu malam di musim dingin,  gw tidur di kasur temen gw. Karena waktu itu gw baru datang dari Indonesia, jadi belom dapat pembagian tempat yang baru di asrama. Lalu di subuh harinya pas gw bangun, “astaga! Ini apaan bentol ko baris dari ujung kaki sampe ujung paha”.
 Awalnya gw ga curiga, karna gw berfikir, mungkin ini efek yang ditimbulkan dari musim dingin, badan jadi gatel karena kulit kering.
Keesokan harinya, hal yang sama pun terjadi. Di otak gw langsung terbesit: “kampret!”. Ini pasti bukan gara-gara musim dingin. Karena di malam harinya sebelum gw tidur, gw udah pake krim pelembab.
Akhirnya gw coba angkat kasur temen gw dan gw lihat ke bawah kasur, “Yassaalaam!” ga taunya kepinding lagi pada bikin party. Lalu dengan muka sok imut salah satu dari mereka ngeliat ke gw sambil bilang, “Halo boss! Pagi! Makasi banyak yaa untuk malam yang indah”. Ooh God! Mendengar sapaan itu, gw langsung bego seketika. Ekpresi muka gw ketika itu ga jauh beda sama sosiolog yang belum lama ini di siram air di depan umum.
Akhirnya mulai hari itu gw putusin untuk pindah tempat.
Tapi untuk membasmi binatang ini, caranya gampang-gampang susah. Menurut penelitian yang gw lakukan, yaitu dengan menangkap beberapa kawanan binatang tersebut. Lalu gw taruh di wadah kecil bertutup, simpelnya gw penjarakan. Setelah itu gw jemur. Dan dalam hitungan beberapa jam… Taraa!! Ternyata berhasil, mereka akhirnya mengering dan siap untuk di sajikan bersama menu buka puasa lainya.
Terus terang sampai saat ini gw masih mencari hikmah penciptaan dari serangga yang satu ini, karena sejak gw kenalan sama om Harun Yahya, yang sering menguak banyak hikmah penciptaan alam semesta dan seisinya beliau belum pernah mengangkat kepinding untuk jadi artisnya.
***
Binatang lain yang menurut gw aneh, yaitu laler alias lalat. Gw juga kurang tau mana yang bener yang jelas ketika dia BAB di tubuh manusia kotoranya disebut tahi lalat, bukan tahi laler. Tetapi untuk objek yang sedang mendapat servis khusus dari binatang tersebut dibilang “dilalerin” bukan “dilalatin”.
Sebenarnya gw gada masalah sama lalat Indonesia, mereka semua baik, sopan dan lumayan terpelajar. Soalnya gw sempet liat di Indonesia, ada lalat terbang sambil bawa tas, trus megang gadget. Pas gw mau nanya dia mau kemana, eh, dia udah keburu jauh terbangnya. Yaudah.  Pikiran gw sih, dia mau kuliah. Soalnya dia kelihatan agak tergesa-gesa sambil mukanya terlihat sedikit panik. Tapi yaa… sudahlah.
 Adapun masalah gw sebenernya sama lalat Yaman, Negara tempat gw kuliah sekarang. ‘Lho apa bedanya, kan sama-sama lalat?’ O…Beda! Sangat berbeda. Ternyata, menurut observasi gw, lingkungan, budaya, keadaan alam dan iklim tidak hanya mempengaruhi kehidupan manusia tapi juga binatang.
Di Indonesia, kambing makanya rumput, di sini dia makan kertas. Jadi ga usah kaget kalau lo berkunjung ke Yaman trus lo melihat, ada orang menggembala kambing bukan di padang rumput, tapi di tempat pembuangan sampah.
Begitu juga dengan lalat. Di Yaman, lalat lebih senang hinggap di muka manusia dari pada reunian di tempat sampah atau tempat kotor lainya. Gw juga kurang faham sebenarnya mengapa bisa seperti itu, tapi itulah yang terjadi.
Walaupun tidak setiap saat, tapi kehadiran mereka di waktu tidur siang kita itu cukup mengganggu, karena manusia mana yang tidak risih ketka sedang tidur mukanya diusap-usap. Walaupun dengan benda terhalus sekalipun. Pastinya kita akan terbangun.
Dan sekarang, yang mengusap-usap bukan benda halus, tapi gerombolan lalat. Sampai-sampai, sudah pas muka kita untuk dibilang “dilalerin”. Silahkan bayangkan sendiri. Bahkan bukan hanya di muka secara umum. Ada tempat khusus yang paling mereka gemari, yaitu gigi.
Gw punya temen yang secara fisiologi agak gondrong giginya. Sudah lama ia mendambakan untuk memasang behel, tapi apalah daya. Karena harga behel lumayan mahal maka itu hanya sekedar impian dan doanya seusai sholat. Secara rutin setelah selesai salam, dia menekan-nekan giginya yang agak keluar agar masuk ke dalam. Lalu diakhiri dengan, ‘amiin’. Dan gw yang ketika itu di sampingnya juga bilang, ‘amiin’.
Mungkin dia kurang suka dengan giginya yang agak menjulur keluar. Tapi lalat sangat suka dengan hal itu. Sehingga setiap kali dia tidur siang, paling sedikit empat lalat ngetem di giginya. Mungkin karena sudah terbiasa makanya ia tidak terjaga ketika lalat mendarat di giginya, sekalipun pendaratanya bisa dibilang kasar.
Karena hal tersebut sudah sering terjadi, ia pun mendapat julukan baru di akhir namanya ‘*z*s Laler’. Sori gw sensor. 
Keanehan lalat Yaman lainya, mereka tidak tau mana tempat yang aman untuk terbang, mana tempat yang berbahaya. Hingga pada suatu hari di siang yang panas, kebiasaan kita para mahasiswa rantau adalah membuat minuman dingin sambil bersenda gurau di kamar.
Lalu ditengah-tengah pecahnya tawa, salah satu temen gw ada yang tiba-tiba keselek. Jadi aksenya adalah,”hahahahaahaha… haq… haq… cuiiih! Ternyata yang keluar adalah lalat berlumuran air liur yang sedang sakarotul maut. Itu siapa yang salah gw juga ga tau. Yang jelas itu accident. Dua-duanya salah dari sisinya masing-masing.
Tidak sampai di situ. Sangking eksisnya, lalat Yaman ga hanya ada tempat umum, bahkan mereka sudah menduduki kabin pesawat terbang, yang notabene tempat bersih lagi nyaman untuk para penumpang.
Suatu ketika, gw harus melakukan penerbangan domestic dari Ibu kota Yaman, San’a menuju salah satu Ibu Kota propinsi di Negara tersebut, yaitu Mukalla. Melihat jarak tempuh darat lumayan jauh dan memakan waktu.
Singkat cerita, gw dan temen gw Najih waktu itu sudah masuk ke dalam kabin pesawat terlebih dahulu dari penumpang lainya. Karena kita memang sudah terbiasa dengan budaya Indonesia yang serba cepat, dan buru-buru, padahal pesawat juga gak akan ninggalin kita sebelum mereka mengecek kelengkapan penumpang.  
Tak lama setelah menikmati nyamanya kursi pesawat, terjadilah keributan disalah satu sudut kabin. Yaitu antara orang bule, dan penduduk asli Yaman. Dan dalam hitungan detik keributan bukan hanya antara mereka berdua tapi hampir setengah isi pesawat ikutan ribut. Kami pun menonton dengan khidmat.
Hingar bingar tidak bisa dihentikan. Orang-orang saling marah marah dengan suara lantang di dalam pesawat. Pramugari pun sempat kualahan tapi tetap terus mencoba untuk menenangkan. Dan ternyata setelah panjang lebar kami mengikuti alur ceritanya, di ketahui bahwa meraka ribut karena tempat duduk. Hal itu disebabkan karena bapak yang penduduk asli Yaman duduk tanpa melihat nomor kursi, dan orang bule datang tidak terima tempat duduknya di rebut. Aneh.
Mungkin mereka mengira boarding pass itu hanya sekedar tiket masuk, dan nanti setelah di dalam kabin, mereka bisa bebas memilih mau duduk dimana saja, tergantung siapa yang duluan. Bis kota kalee!!
Dan lebih absurdnya lagi, yang tertukar tempat duduknya hanya dua orang. Tapi yang ribut hampir setengah penumpang pesawat.   
Tak lama kemudian, beberapa menit sebelum pesawat take off, keadaan sudah dapat dikendalikan. Di sela ketenangan dan kenyamanan, lewatlah seekor lalat hitam terbang dengan begitu lambanya. Tidak seperti lalat-lalat biasanya. Seandainya saja ada kaca pembesar, gw bisa pastiin ketika itu dia terbang pake gaya punggung dan sambil baca petunjuk keselamatan penerbangan.
Pemandangan luar biasa. Gw berani jamin lw ga akan mendapatkan pengalaman seperti ini di Negara lain. Karena memang hanya di sini adanya.
Maka bersukurlah, walaupun pesawat di Indonesia sering delay paling enggak di dalam kabin lw ga harus rebutan tempat duduk ataupun dilalerin. 

All About Original




Gw ga tau harus mulai dari mana. Yang jelas saat ini gw ga abis pikir melihat karakter bangsa Indonesia yang menurut gw semakin lama semakin ga jelas. Mau dibawa kemana bangsa ini oleh pemimpin-pemimpin kita, oleh para public figure kita, oleh siapa saja yang sedang berada diatas  yang sedang ongkang-ongkang kaki diatas kursi kekuasaan.
Mungkin karena kita tidak tahu sampai saat ini sebenarnya siapa yang harus disalahkan, atau karena kita semua merasa benar dan orang lainlah yang salah makanya sampai saat ini bangsa kita masih bisa dibilang belum berkembang dan masih terjajah. Mungkin secara fisik tidak, tapi dari segi moral, pemikiran, gaya hidup dan ekonomi, kita terjajah.
Atau mungkin karena orang sekarang sudah salah menempatkan diri, dimana seharusnya dia berada, berkecimpung dan berbuat untuk bangsa ini sehingga yang terjadi ibarat kata montir disuruh mengobati orang sakit ya tidak sembuh sembuh, dan hal ini merembet hampir ke semua bidang yang mana pada akhirnya semua aspek kehidupan menjadi tidak original. Dan itu diamini oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.
Contoh kecil Ustadz, di Indonesia  ustadz yang KW alias palsu alias ga original, ini  lebih digemari dari pada ustadz yang benar-benar ikhlas dan memang kompeten bidangya.
Pernah waktu Ramadhan di rumah, kebetulan habis sholat subuh gw ga langsung tidur tapi gw masih mencet-mencet remote sambil nyari acara televisi yang asik. Tiba-tiba pas gw flick remote gw, yang muncul adalah sosok laki-laki, pakai busana muslim menor, ngomong depan penontonya yang mayoritas ibu-ibu,”jamaa…aa…ah! Alhamdu..lillah!”, gw rasa harusnya itu di mixing karena. Dan ketika itu gw langsung berfikir. Ini acara apa? Tausiah tapi ko ustadnya kayak Sailor Moon yang akan mengeluarkan kekuatan bulanya. Dalem hati,”salah gaul ni ustadz”.
Habis itu gw coba tonton beberapa menit, sebelum akhirnya gw ilfeel trus muntah paku. (Lho disantet dong!). Dan ternyata, inti dari omonganya dia bisa bikin penontonya ketawa, walaupun tindakanya konyol dan ga sesuai dengan label ustadznya. Dalem hati, “lo mau ceramah, apa mau stand up?”. Dan menurut gw itu acara tv nomer 1 yang paling ga original. Karena ga ada sama sekali pesan yang tersampaikan. Mau dibilang tausiah, tapi intinya dia bisa ngelucu. Mau dibilang acara komedi, tapi dibungkus pake tausiah udah gitu garing.
 Belum lagi ada Ustadz Cinta. Terus terang gw ga paham korelasi antara kata “ustadz” dengan kata “Cinta”. Kalau lw belum liat acara tv-nya yang ada dipikiran lw, sosok ustadz tersebut ga jauh dari laki-laki, karena dia ustadz, kalau perempuan ustadzah pastinya. Memakai baju putih-putih dengan bulu-bulu angsa, tapi kali ini keteknya terbuka dan di kepalanya memakai peci berbentuk mahkota. Membawa tongkat kecil yang di ujungnya ada bintang dan dia bersayap persis peri yang turun dari langit di iklan Axe. Lalu setiap acaranya dimulai sambil menghadap kesamping, mata kedap-kedip ke kamera, mulut mencibir-cibir tidak jelas, dan dengan keadaan seperti itu ia tetap memaksakan untuk berkata,”pemirsaaahh…akuuhh…adalahhh…ustadz chintaah…si penyebar virus antrax!”
Tapi untungnya tidak seburuk itu, acara tv ustadz cinta ini adalah acara ajang pencarian jodoh. Yang mana setelah sang pencari jodoh menemukan pasanganya, barulah ustadz Cinta tersebut muncul… jeng… jeng…jeng… “Pemirsaaaah… Allah SWT berfirman…”
Yah, walaupun tidak buruk, tetap aja menurut gw acara tv itu aneh, karena mayoritas wanita yang hadir atau jadi peserta belahan dadanya terbuka. Lalu dihadirkan Ustadz Cinta di tengah-tengah belahan dada (Lho dia ustadz apa liliput?). Mau dibawa kemana sebenarnya penonton acara tersebut. Apa mungkin maksudnya biar pada tobat gitu?
Karena dengan konsep acara seperti itu, maka ada tiga kemungkinan yang akan terjadi, positif, setengah positif setengah negatif dan negatif. Positifnya penonton akan matiin tv, ambil air wudhu, trus sholat tobat. Setengah setengahnya, itu adalah kemungkintan yang positif, cuma bedanya, setelah sholat tobat karena nanggung dia nonton lagi. Dan negatifnya, penonton akan berfikiran, “ah, melihat belahan dada itu ga papa. Itu buktinya ustadznya juga nikmatin ko”. Wew…!
Akhirnya muak dengan acara tersebut, gw flick remote gw dan yang muncul malah,” jamaaa…aaa…hhh! Alhamduu…lillah”.(gubrak)
Dan masih banyak lagi, spesies Ustadz-ustadz alay yang membuat jalan pikiran kita makin kacau, ada ustadz pantunlah, ustadz sulaplah, ustadz minta pulsa. (Oh, kalau yang itu mungkin sms hoax). Untung Ariel peterpan ga ikutan jadi uztadz juga sekeluarnya dari penjara, karena yang ada ustadz malah bikin band melihat posisinya diambil vokalis.
Dari ustadz, gw mau ngajak lw ngomongin pemerintah kita. Pemerintah kita sekarang juga udah ga original. Karena kita sekarang udah ga bisa bedain lagi mana yang pantas untuk duduk memerintah mana yang pantasnya hanya giling cabe di pasar. Semakin zaman kita hanya akan dipimpin oleh orang-orang bodoh berdasi. Sedangkan yang memang berkompeten, bersama kita menonton karena tidak punya uang.
Menurut gw, seharusnya ada seleksi yang ketat untuk memilih wakil rakyat atau pejabat pemerintahan. Bukan hanya modal uang dan pencitraan. Jadi nanti konsepnya bukan individual yang mencalonkan diri, tapi ada sebuat tim yang dibentuk oleh Negara yang mana tim tersebut menyeleksi orang-orang yang pantas untuk duduk di parlemen. Setelah semua profilnya terkuak sedetil mungkin baru, di sosialisasikan ke masyarakat. Biar nanti masyarakat yang memilih berdasarkan data yang ada.
Dan lagi-lagi menurut gw itu lebih efektif, karena tujuan orang nantinya adalah berprestasi di bidangnya. Jika dibutuhkan dan kelihatanya dia pantas, dia akan di tarik oleh Negara untuk berbuat. Maka tidak akan ada lagi orang-orang ciprik sok tau yang punya uang kampanye biar dirinya dipilih. Mungkin teori gw salah, tapi biarlah, toh gw juga bukan orang yang original untuk membahas hal tersebut. Hehe.     
Karena selama ini kita memilih orang bukan berdasarkan kapabilitasnya, tapi berdasarkan citranya di masyarakat. Dan itu kamuflase.
Gw jadi inget waktu nonton Mata Najwa, yang waktu itu bintang tamunya Bang Roma, om deh pantesnya. Dalam hati gw miris melihat seorang Rhoma Irama ditelanjangi di depan publik. Seharusnya, kalau emang bisanya nyanyi ya nyanyi aja. Ga usahlah sok-sok an mau ikutan nyapres.
Gw waktu itu sempet mikir, klo SBY aja yang bukan penyanyi selama menjabat bisa ngeluarin empat album, tandanya Rhoma Irama yang Raja dangdut bisa dua atau bahkan sepuluh kali lipatnya. Jangan-jangan motivasi sebenernya Rhoma Irama nyapres dia cuma mau buktiin bahwa bukan SBY aja yang bisa bikin album sambil jadi presiden dia juga bisa. Mau jadi apa Negara kita bung?