Wednesday, July 3, 2013

Serangga Aneh Menurut Gue



Kali ini gue mau ngebahas tentang binatang-binatang yang menurut gue aneh dan  suka bikin kesel bangsa manusia. Salah satu diantara mereka yaitu kepinding, alias kutu busuk, alias tinggi, alias bangsat, dan mempunyai nama ilmiah dari bahasa latin cimicidae. Lumayan banyak ya namanya.
Gw berasumsi, diantara banyak nama yang dia miliki, nama aslinya cuma dua, bukan asli sih lebih tepatnya resmi, “kepinding dan cimicidae”. Adapun nama-nama lainya semuanya nama samaran yang mana nama tersebut munculnya akibat respon orang yang dia gigit.
“Aduh… bangsat, gatel banget apaan nih?” maka jadilah namanya bangsat. Ada juga yang, “Ih… liat tuh! tadi abis mampir di leher, gw langsung kegatelan”.
“Gelepok!”
“Euuhh! Bau banget! Wah ini sih kutu busuk”, lalu jadilah ia kutu busuk. Tapi kalo “tinggi” gw sendiri kurang faham, kenapa bisa dinamakan dengan nama tersebut, padahal ga ada korelasinya sama sekali antara wujudnya dengan nama yang diberikan. Gw jadi curiga, jangan-jangan sebenernya nenek moyangnya  kepinding, itu termasuk golongan jerapah atau tyrannosaurus. Dan ia menjadi kecil sekarang, itu karena dahulunya nenek moyang mereka sok eksis ikut-ikutan program teori evolusi Darwin. Salah gaul.  
Tapi untuk mempermudah dalam mengenal kepinding lebih jauh, lw harus faham dulu teori gw tentang kepinding. Jadi nanti, ketika lw berkunjung ke Universitas gw, maka berkunjunglah ke Fakultas Ilmu Kepinding (Fiking). Dan lo boleh sedikit berbangga, karena lo udah dapet teori gw cuma-cuma dengan mengunjungi blog ini tanpa harus menjadi mahasiswa di Universitas gw. Tapi entah kapan Universitas seperti itu akan terwujud. Mungkin jadinya akan lebih mirip peternakan kepinding dari pada Universitas.
Oke langsung aja, perhatikan baik-baik! Karna gw ga akan mengulangi teori ini lagi, “Digigit 1 nyamuk sama dengan digigit 10 kepinding. Dan digigit 1 kepinding sama dengan digigit 10 semut bakot. Dengan kata lain gigitan kepinding itu berada ditengah tengah garis sejajar antara gigitan nyamuk dan gigitan semut bakot”. Jadi dengan teori yang gw jabarkan diatas, ketika kepinding hinggap di salah satu dari bagian badan lo, lalu dia mengghisap darah lo dengan ganasnya, lo udah ada bayangan tindakan apa yang harus lo diambil. Sehingga apa yang lo lakukan bisa pas dan efektif.
Sampai di sini ada pertanyaan?
Oke, klo ga ada kita bisa lanjut. Lho, ko jadi berasa di ruang kelas ya?? Bubar! Bubar!
Sengaja gw bandingkan antara ketiga binatang tersebut. Karena belom lama, telah diketahui, bahwa mereka merupakan gabungan dari sindikat serangga peminum darah manusia. Yang mana, hasil dari darah yang mereka minum, tidak semuanya dialirkan ke tubuh mereka, melainkan sebagianya mereka donasikan ke perusahaan Blood Bank Company, yang mana perusahaan tersebut di pimpin langsung oleh Semut Bakot. Dan dari Blood Bank Company darah-darah tersebut di jual kepada manusia. Lalu dari keuntungan perusahaan, mereka bagi rata untuk kesejahteraan, bangsa nyamuk, kepinding dan semut bakot. Makanya sampai saat ini mereka terus bisa hidup enak dan berkembang biak. Sungguh terorganisir.
Jadi sejatinya semut bakot memang tidak meminum darah manusia. Kalaupun dia menggigit, itu hanya wujud balas dendam kepada manusia yang sudah membunuh relasi bisnisnya.
Gw jadi teringat pengalaman buruk gw bersama kepinding.
Ketika itu di suatu malam di musim dingin,  gw tidur di kasur temen gw. Karena waktu itu gw baru datang dari Indonesia, jadi belom dapat pembagian tempat yang baru di asrama. Lalu di subuh harinya pas gw bangun, “astaga! Ini apaan bentol ko baris dari ujung kaki sampe ujung paha”.
 Awalnya gw ga curiga, karna gw berfikir, mungkin ini efek yang ditimbulkan dari musim dingin, badan jadi gatel karena kulit kering.
Keesokan harinya, hal yang sama pun terjadi. Di otak gw langsung terbesit: “kampret!”. Ini pasti bukan gara-gara musim dingin. Karena di malam harinya sebelum gw tidur, gw udah pake krim pelembab.
Akhirnya gw coba angkat kasur temen gw dan gw lihat ke bawah kasur, “Yassaalaam!” ga taunya kepinding lagi pada bikin party. Lalu dengan muka sok imut salah satu dari mereka ngeliat ke gw sambil bilang, “Halo boss! Pagi! Makasi banyak yaa untuk malam yang indah”. Ooh God! Mendengar sapaan itu, gw langsung bego seketika. Ekpresi muka gw ketika itu ga jauh beda sama sosiolog yang belum lama ini di siram air di depan umum.
Akhirnya mulai hari itu gw putusin untuk pindah tempat.
Tapi untuk membasmi binatang ini, caranya gampang-gampang susah. Menurut penelitian yang gw lakukan, yaitu dengan menangkap beberapa kawanan binatang tersebut. Lalu gw taruh di wadah kecil bertutup, simpelnya gw penjarakan. Setelah itu gw jemur. Dan dalam hitungan beberapa jam… Taraa!! Ternyata berhasil, mereka akhirnya mengering dan siap untuk di sajikan bersama menu buka puasa lainya.
Terus terang sampai saat ini gw masih mencari hikmah penciptaan dari serangga yang satu ini, karena sejak gw kenalan sama om Harun Yahya, yang sering menguak banyak hikmah penciptaan alam semesta dan seisinya beliau belum pernah mengangkat kepinding untuk jadi artisnya.
***
Binatang lain yang menurut gw aneh, yaitu laler alias lalat. Gw juga kurang tau mana yang bener yang jelas ketika dia BAB di tubuh manusia kotoranya disebut tahi lalat, bukan tahi laler. Tetapi untuk objek yang sedang mendapat servis khusus dari binatang tersebut dibilang “dilalerin” bukan “dilalatin”.
Sebenarnya gw gada masalah sama lalat Indonesia, mereka semua baik, sopan dan lumayan terpelajar. Soalnya gw sempet liat di Indonesia, ada lalat terbang sambil bawa tas, trus megang gadget. Pas gw mau nanya dia mau kemana, eh, dia udah keburu jauh terbangnya. Yaudah.  Pikiran gw sih, dia mau kuliah. Soalnya dia kelihatan agak tergesa-gesa sambil mukanya terlihat sedikit panik. Tapi yaa… sudahlah.
 Adapun masalah gw sebenernya sama lalat Yaman, Negara tempat gw kuliah sekarang. ‘Lho apa bedanya, kan sama-sama lalat?’ O…Beda! Sangat berbeda. Ternyata, menurut observasi gw, lingkungan, budaya, keadaan alam dan iklim tidak hanya mempengaruhi kehidupan manusia tapi juga binatang.
Di Indonesia, kambing makanya rumput, di sini dia makan kertas. Jadi ga usah kaget kalau lo berkunjung ke Yaman trus lo melihat, ada orang menggembala kambing bukan di padang rumput, tapi di tempat pembuangan sampah.
Begitu juga dengan lalat. Di Yaman, lalat lebih senang hinggap di muka manusia dari pada reunian di tempat sampah atau tempat kotor lainya. Gw juga kurang faham sebenarnya mengapa bisa seperti itu, tapi itulah yang terjadi.
Walaupun tidak setiap saat, tapi kehadiran mereka di waktu tidur siang kita itu cukup mengganggu, karena manusia mana yang tidak risih ketka sedang tidur mukanya diusap-usap. Walaupun dengan benda terhalus sekalipun. Pastinya kita akan terbangun.
Dan sekarang, yang mengusap-usap bukan benda halus, tapi gerombolan lalat. Sampai-sampai, sudah pas muka kita untuk dibilang “dilalerin”. Silahkan bayangkan sendiri. Bahkan bukan hanya di muka secara umum. Ada tempat khusus yang paling mereka gemari, yaitu gigi.
Gw punya temen yang secara fisiologi agak gondrong giginya. Sudah lama ia mendambakan untuk memasang behel, tapi apalah daya. Karena harga behel lumayan mahal maka itu hanya sekedar impian dan doanya seusai sholat. Secara rutin setelah selesai salam, dia menekan-nekan giginya yang agak keluar agar masuk ke dalam. Lalu diakhiri dengan, ‘amiin’. Dan gw yang ketika itu di sampingnya juga bilang, ‘amiin’.
Mungkin dia kurang suka dengan giginya yang agak menjulur keluar. Tapi lalat sangat suka dengan hal itu. Sehingga setiap kali dia tidur siang, paling sedikit empat lalat ngetem di giginya. Mungkin karena sudah terbiasa makanya ia tidak terjaga ketika lalat mendarat di giginya, sekalipun pendaratanya bisa dibilang kasar.
Karena hal tersebut sudah sering terjadi, ia pun mendapat julukan baru di akhir namanya ‘*z*s Laler’. Sori gw sensor. 
Keanehan lalat Yaman lainya, mereka tidak tau mana tempat yang aman untuk terbang, mana tempat yang berbahaya. Hingga pada suatu hari di siang yang panas, kebiasaan kita para mahasiswa rantau adalah membuat minuman dingin sambil bersenda gurau di kamar.
Lalu ditengah-tengah pecahnya tawa, salah satu temen gw ada yang tiba-tiba keselek. Jadi aksenya adalah,”hahahahaahaha… haq… haq… cuiiih! Ternyata yang keluar adalah lalat berlumuran air liur yang sedang sakarotul maut. Itu siapa yang salah gw juga ga tau. Yang jelas itu accident. Dua-duanya salah dari sisinya masing-masing.
Tidak sampai di situ. Sangking eksisnya, lalat Yaman ga hanya ada tempat umum, bahkan mereka sudah menduduki kabin pesawat terbang, yang notabene tempat bersih lagi nyaman untuk para penumpang.
Suatu ketika, gw harus melakukan penerbangan domestic dari Ibu kota Yaman, San’a menuju salah satu Ibu Kota propinsi di Negara tersebut, yaitu Mukalla. Melihat jarak tempuh darat lumayan jauh dan memakan waktu.
Singkat cerita, gw dan temen gw Najih waktu itu sudah masuk ke dalam kabin pesawat terlebih dahulu dari penumpang lainya. Karena kita memang sudah terbiasa dengan budaya Indonesia yang serba cepat, dan buru-buru, padahal pesawat juga gak akan ninggalin kita sebelum mereka mengecek kelengkapan penumpang.  
Tak lama setelah menikmati nyamanya kursi pesawat, terjadilah keributan disalah satu sudut kabin. Yaitu antara orang bule, dan penduduk asli Yaman. Dan dalam hitungan detik keributan bukan hanya antara mereka berdua tapi hampir setengah isi pesawat ikutan ribut. Kami pun menonton dengan khidmat.
Hingar bingar tidak bisa dihentikan. Orang-orang saling marah marah dengan suara lantang di dalam pesawat. Pramugari pun sempat kualahan tapi tetap terus mencoba untuk menenangkan. Dan ternyata setelah panjang lebar kami mengikuti alur ceritanya, di ketahui bahwa meraka ribut karena tempat duduk. Hal itu disebabkan karena bapak yang penduduk asli Yaman duduk tanpa melihat nomor kursi, dan orang bule datang tidak terima tempat duduknya di rebut. Aneh.
Mungkin mereka mengira boarding pass itu hanya sekedar tiket masuk, dan nanti setelah di dalam kabin, mereka bisa bebas memilih mau duduk dimana saja, tergantung siapa yang duluan. Bis kota kalee!!
Dan lebih absurdnya lagi, yang tertukar tempat duduknya hanya dua orang. Tapi yang ribut hampir setengah penumpang pesawat.   
Tak lama kemudian, beberapa menit sebelum pesawat take off, keadaan sudah dapat dikendalikan. Di sela ketenangan dan kenyamanan, lewatlah seekor lalat hitam terbang dengan begitu lambanya. Tidak seperti lalat-lalat biasanya. Seandainya saja ada kaca pembesar, gw bisa pastiin ketika itu dia terbang pake gaya punggung dan sambil baca petunjuk keselamatan penerbangan.
Pemandangan luar biasa. Gw berani jamin lw ga akan mendapatkan pengalaman seperti ini di Negara lain. Karena memang hanya di sini adanya.
Maka bersukurlah, walaupun pesawat di Indonesia sering delay paling enggak di dalam kabin lw ga harus rebutan tempat duduk ataupun dilalerin. 

All About Original




Gw ga tau harus mulai dari mana. Yang jelas saat ini gw ga abis pikir melihat karakter bangsa Indonesia yang menurut gw semakin lama semakin ga jelas. Mau dibawa kemana bangsa ini oleh pemimpin-pemimpin kita, oleh para public figure kita, oleh siapa saja yang sedang berada diatas  yang sedang ongkang-ongkang kaki diatas kursi kekuasaan.
Mungkin karena kita tidak tahu sampai saat ini sebenarnya siapa yang harus disalahkan, atau karena kita semua merasa benar dan orang lainlah yang salah makanya sampai saat ini bangsa kita masih bisa dibilang belum berkembang dan masih terjajah. Mungkin secara fisik tidak, tapi dari segi moral, pemikiran, gaya hidup dan ekonomi, kita terjajah.
Atau mungkin karena orang sekarang sudah salah menempatkan diri, dimana seharusnya dia berada, berkecimpung dan berbuat untuk bangsa ini sehingga yang terjadi ibarat kata montir disuruh mengobati orang sakit ya tidak sembuh sembuh, dan hal ini merembet hampir ke semua bidang yang mana pada akhirnya semua aspek kehidupan menjadi tidak original. Dan itu diamini oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.
Contoh kecil Ustadz, di Indonesia  ustadz yang KW alias palsu alias ga original, ini  lebih digemari dari pada ustadz yang benar-benar ikhlas dan memang kompeten bidangya.
Pernah waktu Ramadhan di rumah, kebetulan habis sholat subuh gw ga langsung tidur tapi gw masih mencet-mencet remote sambil nyari acara televisi yang asik. Tiba-tiba pas gw flick remote gw, yang muncul adalah sosok laki-laki, pakai busana muslim menor, ngomong depan penontonya yang mayoritas ibu-ibu,”jamaa…aa…ah! Alhamdu..lillah!”, gw rasa harusnya itu di mixing karena. Dan ketika itu gw langsung berfikir. Ini acara apa? Tausiah tapi ko ustadnya kayak Sailor Moon yang akan mengeluarkan kekuatan bulanya. Dalem hati,”salah gaul ni ustadz”.
Habis itu gw coba tonton beberapa menit, sebelum akhirnya gw ilfeel trus muntah paku. (Lho disantet dong!). Dan ternyata, inti dari omonganya dia bisa bikin penontonya ketawa, walaupun tindakanya konyol dan ga sesuai dengan label ustadznya. Dalem hati, “lo mau ceramah, apa mau stand up?”. Dan menurut gw itu acara tv nomer 1 yang paling ga original. Karena ga ada sama sekali pesan yang tersampaikan. Mau dibilang tausiah, tapi intinya dia bisa ngelucu. Mau dibilang acara komedi, tapi dibungkus pake tausiah udah gitu garing.
 Belum lagi ada Ustadz Cinta. Terus terang gw ga paham korelasi antara kata “ustadz” dengan kata “Cinta”. Kalau lw belum liat acara tv-nya yang ada dipikiran lw, sosok ustadz tersebut ga jauh dari laki-laki, karena dia ustadz, kalau perempuan ustadzah pastinya. Memakai baju putih-putih dengan bulu-bulu angsa, tapi kali ini keteknya terbuka dan di kepalanya memakai peci berbentuk mahkota. Membawa tongkat kecil yang di ujungnya ada bintang dan dia bersayap persis peri yang turun dari langit di iklan Axe. Lalu setiap acaranya dimulai sambil menghadap kesamping, mata kedap-kedip ke kamera, mulut mencibir-cibir tidak jelas, dan dengan keadaan seperti itu ia tetap memaksakan untuk berkata,”pemirsaaahh…akuuhh…adalahhh…ustadz chintaah…si penyebar virus antrax!”
Tapi untungnya tidak seburuk itu, acara tv ustadz cinta ini adalah acara ajang pencarian jodoh. Yang mana setelah sang pencari jodoh menemukan pasanganya, barulah ustadz Cinta tersebut muncul… jeng… jeng…jeng… “Pemirsaaaah… Allah SWT berfirman…”
Yah, walaupun tidak buruk, tetap aja menurut gw acara tv itu aneh, karena mayoritas wanita yang hadir atau jadi peserta belahan dadanya terbuka. Lalu dihadirkan Ustadz Cinta di tengah-tengah belahan dada (Lho dia ustadz apa liliput?). Mau dibawa kemana sebenarnya penonton acara tersebut. Apa mungkin maksudnya biar pada tobat gitu?
Karena dengan konsep acara seperti itu, maka ada tiga kemungkinan yang akan terjadi, positif, setengah positif setengah negatif dan negatif. Positifnya penonton akan matiin tv, ambil air wudhu, trus sholat tobat. Setengah setengahnya, itu adalah kemungkintan yang positif, cuma bedanya, setelah sholat tobat karena nanggung dia nonton lagi. Dan negatifnya, penonton akan berfikiran, “ah, melihat belahan dada itu ga papa. Itu buktinya ustadznya juga nikmatin ko”. Wew…!
Akhirnya muak dengan acara tersebut, gw flick remote gw dan yang muncul malah,” jamaaa…aaa…hhh! Alhamduu…lillah”.(gubrak)
Dan masih banyak lagi, spesies Ustadz-ustadz alay yang membuat jalan pikiran kita makin kacau, ada ustadz pantunlah, ustadz sulaplah, ustadz minta pulsa. (Oh, kalau yang itu mungkin sms hoax). Untung Ariel peterpan ga ikutan jadi uztadz juga sekeluarnya dari penjara, karena yang ada ustadz malah bikin band melihat posisinya diambil vokalis.
Dari ustadz, gw mau ngajak lw ngomongin pemerintah kita. Pemerintah kita sekarang juga udah ga original. Karena kita sekarang udah ga bisa bedain lagi mana yang pantas untuk duduk memerintah mana yang pantasnya hanya giling cabe di pasar. Semakin zaman kita hanya akan dipimpin oleh orang-orang bodoh berdasi. Sedangkan yang memang berkompeten, bersama kita menonton karena tidak punya uang.
Menurut gw, seharusnya ada seleksi yang ketat untuk memilih wakil rakyat atau pejabat pemerintahan. Bukan hanya modal uang dan pencitraan. Jadi nanti konsepnya bukan individual yang mencalonkan diri, tapi ada sebuat tim yang dibentuk oleh Negara yang mana tim tersebut menyeleksi orang-orang yang pantas untuk duduk di parlemen. Setelah semua profilnya terkuak sedetil mungkin baru, di sosialisasikan ke masyarakat. Biar nanti masyarakat yang memilih berdasarkan data yang ada.
Dan lagi-lagi menurut gw itu lebih efektif, karena tujuan orang nantinya adalah berprestasi di bidangnya. Jika dibutuhkan dan kelihatanya dia pantas, dia akan di tarik oleh Negara untuk berbuat. Maka tidak akan ada lagi orang-orang ciprik sok tau yang punya uang kampanye biar dirinya dipilih. Mungkin teori gw salah, tapi biarlah, toh gw juga bukan orang yang original untuk membahas hal tersebut. Hehe.     
Karena selama ini kita memilih orang bukan berdasarkan kapabilitasnya, tapi berdasarkan citranya di masyarakat. Dan itu kamuflase.
Gw jadi inget waktu nonton Mata Najwa, yang waktu itu bintang tamunya Bang Roma, om deh pantesnya. Dalam hati gw miris melihat seorang Rhoma Irama ditelanjangi di depan publik. Seharusnya, kalau emang bisanya nyanyi ya nyanyi aja. Ga usahlah sok-sok an mau ikutan nyapres.
Gw waktu itu sempet mikir, klo SBY aja yang bukan penyanyi selama menjabat bisa ngeluarin empat album, tandanya Rhoma Irama yang Raja dangdut bisa dua atau bahkan sepuluh kali lipatnya. Jangan-jangan motivasi sebenernya Rhoma Irama nyapres dia cuma mau buktiin bahwa bukan SBY aja yang bisa bikin album sambil jadi presiden dia juga bisa. Mau jadi apa Negara kita bung?


    
 

Friday, May 24, 2013

Anton yang freak



Kali ini gw mau cerita tentang temen sekamar gw. Sebelumnya sori, gaya penulisan di blog ini emang suka agak berubah-rubah. Itu semua tergantung bahan yang ditulis sama tergantung mood.
Gw punya temen sebut aja namanya Anton, bukan nama sebenarnya. Tapi nama Anton gw rasa sudah bisa mewakili wujud dia untuk dijadikan bahan. Melihat profilnya dengan tubuh besar, berjenggot, mengalami perluasan jidad dan sekitarnya serta tujuh tahun lebih tua dari gw.
Dari spek yang ada, sepintas terlihat laki banget dan dewasa. Tapi sayangnya dia freak. Karena gw ga abis fikir. Ko ada laki-laki diusianya yang sudah kepala tiga alay. Oh God...! Itu tandanya dia menyalahi siklus pertumbuhan manusia yang dibilang sama Raditya Dika bahwa manusia itu tumbuh dari kecil, remaja, alay, lalu dewasa. Dengan kata lain alay adalah proses yang dilalui sebelum menjadi dewasa. Nah sekarang si Anton ini alay di usianya yang sudah kepala tiga. Mau dewasa umur berapa bang?
Singkat cerita Anton di sini sedang menjalani Long Distance Relationship dengan pacarnya yang di Indonesia, itu wajar dan sah-sah saja. Tapi yang gak wajarnya kenapa hubunganya harus dia kemas secara ovehwhelming. Contohnya suatu ketika pacarnya meng-add dia di facebook. Dan dia langsung kegirangan ga jelas, habis itu ngomong dengan suara lantang sampe sekamar pada denger dengan nada ala cewek alay,”wuaaah, si Dia nge-add di facebook, ko bisa ya?” perhatikan, pertanyaanya, “ko bisa ya?”. Aduh om, wajar kali, emang sekarang udah zamanya, dari yang tua sampe yang baru lahir udah pada punya facebook. Lah wong ada ko, bayi yang baru keluar dari rahim ibunya langsung nge-tweet,”akhirnya keluar juga, makasi @mama udh mau gendong aku Sembilan bulan”.  
Setelah selang beberapa menit, dia utak atik hape antiknya lalu dia bersuara lagi dan masih dengan aksen yang tadi,”wuaah, sekarang ibunya nge-add juga”. Dalam hati gw bilang, “apanya yang keren, itu sama aja lo bikin orang di sekeliling lw berfikir dan bertanya, sebenernya lo pacaran sama anaknya apa sama ibunya?”. Karena ga menutup kemungkinan sebelumnya terjadi percakapan antara anak sama ibunya,”nak, kamu kenal kan calon papa baru kamu yang di luar negri? Mama minta tolong dong cariin akun facebooknya trus kamu add, nanti klo bener itu punya dia baru mama add, soalnya mama ga tau cara nyarinya”.
Trus anaknya bilang,”iii…hh mama, kenapa ga langsung telfon atau sms aja sih, kan lebih simple dan langsung sampe tujuan?”
“Yaaa, biar lebih romantis dong. Kan sekarang jamanya sosial media. Lagian udah lama nih BB mama nganggur”, kata mamanya lagi.
“Lho, bukanya hape mama Nokia?”
“Owh iya… lupa…! Tapikan tetep bisa internetan”.
Dan hal ini, bikin gw berasumsi bahwa pesan yang pertama yang Anton bilang dari si Dia isinya begini,”Assalamu’alaikum, apa benar ini akunya om Anton. Klo benar tolong bales yaah!” Lalu setelah dia bales, baru mamanya nge-add. Makanya si Anton langsung bilang,”wuaah…ibunya nge-add juga”, padahal sebenarnya itu hanya untuk menutupi kata hatinya yang bilang, “akhirnya pujaan hatiku meng-add aku di facebook”.
Pernah juga, suatu ketika, anak sekamar lagi sibuk di depan laptopnya masing-masing. Lalu si Anton menegur Jepri, temen gw yang lain dan ini juga bukan nama aslinya.”Jep, emang di facebook gitu ya, klo ada pesan gak dibales dia bisa tau?” ini pertanyaan teraneh yang pernah gw denger. Karena pesankan ibarat kita ngobrol sama orang, klo kita ngobrol trus didiemin masa kita gak tau. Berhubung si Jepri sedang memakai earphone jadi tidak mendengar. Dan gw tau kalau Anton ngomong kayak gini langsung dari Jepri. Karena ternyata bukan hanya gw yang jijik melihat kelakuan Anton yang ga normal.
Merasa tidak direspon Anton mencoba menegur Jepri dan mengulang pertanyaanya. Tapi si sayang si Jepri hanya membuka earphonya sejenak, mendengarkan pertanyaan Anton, lalu menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepala.
Masih banyak, hal-hal aneh yang menurut gw sangat gak wajar untuk dilakukan lelaki seusianya. Terkadang Anton ketika buka hape suka ngeluh-ngeluh sendiri, ketawa sendiri, guling-gulingan ga jelas, yang mana kelakuan seperti itu dia lakukan hanya untuk menarik perhatian teman sekamar biar ada yang nanya,”lo kenapa sih Ton?” Tapi karena gw dan anak kamar lainya mungkin terlalu dewasa untuk bertanya pertanyaan yang gak penting seperti itu dan disamping gw udah terdidik untuk ga kepo sama masalah pribadi orang lain, kita sekamar lebih memilih diam dan membiarkan dia bête sendiri pada akhirnya. Soalnya orang seperti itu klo kita kasih respon atau kita kasih komentar yang keluar dari mulutnya cuma kalimat,”apaan sih lw, mau tau aja?” Lalu kita jadi kikuk dan serba salah. Dan lo harus tau, di situlah puncak kepuasaanya.    
Pernah juga, waktu itu kita lagi makan bareng. Seperti biasa, tradisi makan di sini layaknya orang Arab walaupun kita orang Indonesia. Senampan rame-rame. Berhubung kita semuanya laki-laki, wajarlah klo makan diam. Karena fokus kita saat itu hanya satu, bagaimana kita tidak kalah serangan dengan lawan dari samping, atau bagaimana wilayah kita tidak dijajah dari depan. Karena laki-laki kelaparan itu seranganya random. Lalu disela kehiningan mengunyah Anton pun membuka percakapan, “di Jakarta lagi ujan yaa”, dengan intonasi yang gak jelas, sehingga kita ga tau, dia itu bertanya atau memberi kabar. Dan ternyata terbukti bukan cuma gw yang berfikiran seperti itu, karena setelah itu langsung ada yang komentar, “lw nanya apa ngasih tau sih Ton?”.
“Enggak, tadi bini cerita, katanya di Jakarta lagi ujan”, hueeek! Nikah juga belom udah berani bilang bini. Lagi pula ga penting baget. Harusnya omongan kayak gitu ditelan sendiri aja, ini malah ngajak nelen rame-rame.
Karena gw orangnya ceplas-ceplos, secara spontan yang keluar dari mulut gw,”emang bini lw pawang ujan? Ko pake cerita ujan segala”. Sontak yang lagi makan waktu itu langsung ketawa semua. Dan  Anton hanya bisa tersenyum kalah.
Sejauh ini yang bisa gw buat pelajaran, jatuh cinta di usia tua itu bisa membuat manusia keluar dari masanya. Sebagaimana Anton, dia keluar dari masanya kembali ke masa abg alay pacaran.
Kasihan Anton. Memang sudah bukan waktunya dia capek-capek kuliah. Sudah seharusnya dia merasakan kehangatan berumah tangga. Memang sih menuntut ilmu ga ada batas umuran. Tapi melihat kondisi Anton yang semakin absurd. Menurut gw menikah itu lebih baik dari pada menjadi gila di akhirnya.
Dan pernah juga suatu hari Anton lagi jalan kaki lalu berpapasan dengan Jepri dan dia bilang, “Jep, doain yaaa, biar langgeng?” hadooh… mungkin Jepri dalam hatinya bilang,”salah kali bang, aturan sih bilangnya, doain ya biar jadi”. Yang lebih freak lagi dia ngomong ke Jepri,”Jep, klo nanti pas ujian, ingetin ana ya, bilang ke ana, “Ton, jangan mikirin bini terus, inget ujian, oke Jep”. Jepri yang otaknya cerdas, langsung bego seketika denger omongan Anton seperti itu. Setelah itu amnesia dan teriak-teriak berkata, “MANA AYAM KU, AYAMKU MANA?”
Pernah juga dia curhat sama teman sekamarku yang lainya, Akbar, masih bukan nama yang sebenarnya,”Bar, ko pesan gw ga debales-bales nih sama bini?” Akbar cuma ketawa dan bilang,”haha…calon bini! kan belom jadi”. Dan anton dalam hati,”heemm… seteng sama aje lw!”
Tapi untungnya dia gak pernah curhat ala cewek alay ke gw. Mungkin dia udah tau, klo curhat ke gw resikonya cuma dua, pertama ga gw tanggepin. Ke dua gw tanggepin tapi plus serangan balik yang pasti bikin dia kesal plus malu. Habis itu ngambek, ngambil mie instan, trus masak deh kedapur. Aneh.
Anton sekarang juga jadi sering lupa. Masak air, sampe airnya habis karena dia lupa kalau dia lagi masak air. Lalu dia masak lagi airnya, dan lupa kembali untuk yang kesekian kalinya. Dia juga pernah makan padahal udah abis, tapi masih masukin nasi ke mulut lalu mengunyah dengan lahapnya. Kasihan kasihan. Ini yang salah, jatuh cintanya, LDR-nya, apa emang dia yang aneh?

 

Fiki kecil




Tumbuh dan berkembang merupakan ciri mahluk hidup. Sebagai mahluk hidup aku mencoba untuk menyesuaikan diri agar tetap eksis, walaupun dalam proses tumbuh banyak hal-hal aneh yang aku lakukan dan orang tuaku atau orang dewasa lainya menganggap itu hal lumrah karena aku masih dalam proses pembelajaran.
Aku teringat ketika aku belajar buka kancing. Secara perlahan ibuku menuntunku,”gini Ki caranya!” Pelan-pelan ibuku memperlihatkan bagaimana ia memasukkan dan mengeluarkan kancing. Akupun dengan seksama memperhatikan. Karena membuka kancing adalah jalan untuk aku meraih prestasi baru di umurku yang masih balita. Jadi ketika ada keluarga atau tetangga yang datang ibuku akan bilang,”eh liat deh… si Fiki udah bisa buka kancing!” Lalu aku keluar dari kamar dengan menggunakan baju kemeja yang sudah terkancing kemudian aku mempertunjukkan kebolehanku membuka kancing. Andai saja ketika itu aku sudah mengerti uang, maka di depan rumah akan aku taruh sebuah kaleng lalu kutulis “Pertunjukkan Membuka Kancing. Per orang Rp 100”.
Setelah belajar sekian lama, ternyata aku gagal dalam pelajaran membuka kancing. Kegagalan ku terbukti pada suatu hari, ketika itu kami sekeluarga baru pulang dari pesta perkawinan. Dan aku ketika itu memakai kemeja andalanku waktu kecil, yang mana pastinya saat itu bukan aku yang memasang kancingnya, karena tidak etis kami terlambat datang kepesta hanya karena menungguku memasang kancing.  Dengan warnanya yang tidak jelas dan coraknyapun tidak beraturan aku tetap pede memakai kemeja tersebut. Bisa dibilang abstrak.
Lalu dengan suara lantang aku memanggil ibuku,”ma… mama… sini ma! Fiki dah bisa buka kancing”. Ibuku langsung menghampiriku seraya melihat lalu berkata,”itu sih bukan buka namanya, tapi nyopotin”. Karena yang kulakukan waktu itu yaitu menarik ujung baju kuat-kuat dengan tangan kanan dan kiriku layaknya Superman yang akan berubah wujud.
“Tapi ini kebuka lho ma bajunya, liat deh”, celotehku lagi karena ingin perbuatanku dibenarkan oleh ibuku. “Iya…iya…”, sambil ibuku memunguti satu persatu biji kancing yang berserakan.
Aku juga teringat ketika aku tersengat phobia takut terhadap ledakan balon. Jadi setiap ada balon diledakkan aku langsung menangis sekencang-kencangnya. Mungkin bisa jadi sebenarnya ketika itu aku terlalu menghayati lagu nasional anak kecil yang berjudul ‘balonku’, tepatnya pada bait,”meletus balon hijau Dorr! Hatiku sangat kacau”. Dan sangking kacaunya aku jadi menangis tersedu-sedu. Seharusnya lagu itu tidak diajarkan.
Tapi sudah tahu keadaanku seperti itu, masih saja setiap perayaan ulang tahun harus ada ritual meledakkan balon. Mungkin di era ini sudah tidak lagi. Tapi di era 90-an meledakkan balon merupakan ritual wajib bahkan bisa menjadi inti setelah meniup lilin. Karena buktinya aku harus menjalani ritual tersebut setiap kali ulang tahunku dirayakan. Dan konsepnya adalah, yang meledakkan balonya harus orang yang  berulang tahun dan tidak bisa diwakilkan. Maka yang terjadi setiap kali, ulang tahunku dirayakan aku akan membuka kado setelah selesai menangis.
  Aku juga teringat ketika aku paling susah disuruh mandi. Apalagi hari minggu. Karena menurutku saat itu, mandi adalah sesuatu yang merusak suasana. Maka ketika kecil, aku tidak akan mandi kecuali momenya benar-benar penting.
Ibuku sering stress  dengan kelakuanku yang susah disuruh mandi. Sudah tampilan tidak karuan, badan kotor, baju kotor, bau lagi. Lengkap sudah. Bisa dibilang keadaanku sangat the kill and the kummel. Tapi istilah yang paling sering dilontarkan ibuku ketika menyuruhku mandi,”Fiki… ayo mandi! Ih…baunya dah tujuh rupa!” Dalam hati,”itu tujuh lupa bau apa aja ma???”
Sangking malesnya mandi, aku bisa nangis sekencang-kenjangnya bila dipaksa mandi. Suatu ketika aku sedang main pasir, karena hari sudah sore, maka ibuku seperti biasanya harus teriak-teriak dulu menyuruhku mandi, “Fiki… udah sore, ayo mandi!” kata ibuku.”Bental lagi ma, telowonganya belom jadi”, celotehku.
“Mandi dulu nanti main lagi”, ibuku tidak putus asa. Yang penting aku mandi dulu, nanti mau kotor-kotoran lagi urusan belakangan. Sekilas mungkin teorinya salah. Karena, kalau ibu biasa, dia lebih memilih membiarkan anaknya main sampe puas. Dan setelah kotor semua baru dia memandikanya, jadi tidak kerja dua kali. Berhubung ibuku luar biasa, maka dia punya teori sendiri. Dan itu mematikan.
“Ga mau ma… masih tanggung”, biasa lah anak kecil selalu menjawab dan keras kepala.
Akhirnya ketika aku sedang fokus terhadap terowongan pasirku, saat itulah aku lengah. Aku pikir ibuku sudah meridhoiku untuk terus bermain. Ternyata tidak. Dengan sigap ia menggendongku dari belakang tanpa sepengetahuanku. Lalu dibawanya aku ke kamar mandi dan tanpa basa basi lansung diguyur, byurr! Spontan aku langsung menangis berbarengan dengan guyuran air,”huaaa…huaaa…huaaa…m-m-masih m-m-mau…m-m-main pasiiii…l”, celotehku mencoba terus berbicara di tengah derasnya tangis.
“Iya… habis ini boleh ko main lagi”, kata ibuku coba menenangkanku sambil mengosok-gosok badanku dengan sabun. Dan benar saja setelah selesai mandi dan bedakan, aku diperbolehkan main pasir lagi.  
Di saat aku menyentuh pasir kembali. Pyeess! Rasanya setelah mandi jauh berbeda dengan sebelum mandi. Hambar, tidak ada rasa dan kurang menggairahkan. Memang benar, mandi itu sangat merusak suasana. Mungkin ibuku lebih tahu teori itu. Dan itulah yang membuatnya menjadi luar biasa. I love you mom.
Dan bagi yang tidak percaya, silahkan coba teori tersebut. Insya Allah ampuh.
Yang aku ingat lagi saat balita, aku paling takut cukur rambut. Entah kenapa, setiap kali dicukur, aku pasti menangis lagi tersedu-sedu. Tapi mungkin sebenarnya aku berani, karena ketika ayahku mengajak,”Fiki…cukur rambut bareng papa yuk!”.
“Ayuk!” jawabku.
“Berani ga?” Tanya ayahku.
“Belani lah pa”, celotehku.
Sampailah di tukang cukur. Ketika duduk diatas papan tambahan, dan aku mengaca aku masih biasa. Tapi ketika gunting cukur menghantam rambutku, itulah peluit start untuk aku mulai menangis,”huaa…huaa…huaaa…”. Tapi anehnya ketika itu aku tidak punya inisiatif turun atau kabur dari kursi cukur. Posisi tetap tegak, kepala tidak bergoyang, tapi menangis.
Wuah… masa kecil memang penuh kenangan. Karena dimasa itu kita baru mengenal dunia, meraba serta  mencari arti wujud kita yang sebenarnya. Dan yang tidak terlupakan juga, aku paling sering bertengkar dengan adikku. Cakar, cakaran, lempar-lemparan bantal, main guling-gulingan di kasur dan apa saja yang bisa kami jadikan sarana untuk bertengkar kami lakukan. Lalu setelah salah satu merasa dirugikan dia akan menangis dan mengadu. Dan baru setelah lelah menangis kami tertidur, dan bangun dengan saling bermaafan kembali.
Indah, lucu, dan penuh kenangan. Begitu mudah kami untuk bertengkar, tapi mudah pula untuk kembali bermaafan. Seakan tidak pernah ada beban. Karena dari kecil yang ditanamkan kedua orang tuaku adalah, kita ini bersaudara. Aku kakak, dan Fira adik. Karena kami hanya dua bersaudara, jika salah satu diantara kami hilang maka tidak ada gantinya.
Miris rasanya melihat banyak orang sekarang yang sudah tidak peduli dengan hubungan darah.
Lho…ko jadi seperti sinetron akhirnya… Mungkin ini pengaruh “Bayi yang tertukar”. Semua orang jadi mendramatisir setiap kejadian. Haha.
Dan terakhir yang aneh dari masa kecilku yang masih bisa kuingat. Entah mengapa gigi seriku tumbuhnya tidak berwarna putih? Tapi hitam. Begitu juga dengan adikku. Bedanya gigiku yang hitam 4 dan adikku 3. Mungkin karena aku kakak dan dia adik maka jumlah gigi hitamku lebih banyak. Sungguh Tuhan Maha adil. Maka jadilah kita sepasang kakak adik yang bergigi susu hitam.