Monday, May 20, 2013

Sense Hike…



Mentari pagi ini muncul lebih awal dari biasanya. Padahal jika kuhitung tidurnya semalam kurang dari delapan jam. Entah semalam ia mimpi buruk sehingga terjaga tanpa bisa memejamkan matanya lagi, atau memang rutinitas di negeri ini menuntutnya untuk apel lebih awal dari di negeri lain. Padahal yang aku rasakan saat di siang hari sekalipun hanya sinarnya saja yang membelai tanpa menikmati panasnya. mungkin ini adalah alasan mengapa banyak wisatawan datang ke Indonesia hanya untuk berjemur.
Pagi ini awal kegiatanku di negri kincir angin. Belanda. Seperti biasa aku dan rekan-rekan yang lain satu kontingen peserta Jambore Nasional Belanda mengawali pagi kami dengan sarapan bersama, lalu dilanjutkan dengan pembagian tugas. Mungkin kami cukup beruntung, diantara jutaan pelajar indonesia yang lain. Kami dikirim sebagai utusan negara untuk mengikuti pesta penggalang di negara tersebut.
Hari itu kegiatan di camp adalah hiking, tapi bedanya, hiking di sini dibagi beberapa macam, dan kebetulan aku dan dua rekannku mendapatkan bagian sense hike, yaitu hiking yang mana petunjuk arahnya menuntut peserta untuk menggunakan panca indera dalam mencari jalan. Sekilas tedengar mudah, tapi tenyata bukan hanya reguku yang pulang dijemput dengan mobil panitia karena tersasar, tapi banyak juga dari regu lain yang bernasib sama.
Perjalananpun dimulai. Aku bukan hanya bertiga dalam satu regu, tapi kami digabung menjadi satu  bersama tiga orang Belanda lainya. Jadi jumlah kami menjadi enam orang. Dua laki-laki yaitu aku dan Kindy serta empat permpuan yang mana salah satunya adalah rekanku dari Indonesia Vicky.  
Selayaknya orang timur, aku beserta dua rekanku mencoba berinteraksi dengan kenalan baru kami peserta Jamboree dari Negara tuan rumah dengan menunjukkan sikap ramah ala timur yang kami biasa terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari membuka pembicaraan, bertanya walau sedikit agak kepo, memberikan perhatian, menawarkan makanan yang kami punya dan hal apa saja yang bisa kami lakukan yang sekiranya bisa mengambil hati mereka. Tapi ternyata semua itu sia-sia.
Di awal perjalanan, kami orang Indonesia membuka semua bekal makanan yang kami bawa. Karena yang ada di fikiran kami, hiking tidak akan lama, dan kurang dari tengah hari kami sudah bisa kembali ke camp dan menikmati istirahat siang. Atau paling tidak, kami membawa cukup uang untuk membeli makanan di jalan. Dan juga yang ada di fikiran kami, mungkin dengan menawarkan makanan, kita bisa lebih akrab, sebagaimana yang kita lakukan di Indonesia.
 Dengan ramah kami menawarkan makanan kami kepada orang-orang Belanda tersebut, tetapi mereka menolaknya dengan muka datar. Tidak apa, mungkin belum kenal. Kalimat tersebutlah yang terbesit dalam hatiku. Disela-sela perjalanan, aku mencoba mengajak bicara satu dua orang diantara mereka, sekaligus menguji kemampuan bahasa inggrisku di usiaku yang cukup belia. Tapi respon mereka lagi-lagi datar dan tanpa rasa. Mungkin bahasaku kurang bisa difahami. Hanya berfikiran positif yang bisa kulakukan saat itu.
Dan ternyata disanalah letak kesalahnya. Sudah merupakan kebiasaan orang Indonesia terlalu mudah menyamakan adat istiadat daerah lain dengan daerah asalnya. Sehingga kami berfikir akan mudah berbaur dengan budaya mereka. Atau kebalikanya, orang Indonesia terlalu mudah membawa budaya luar masuk kedalam dan itu diterima, sehingga ketika mereka membawa budaya mereka keluar, mereka berfikiran akan mudah di terima. Dan nyatanya tidak. Butuh waktu, proses dan cara tersendiri untuk bisa membaur, dan mengenalkan budaya kita ke orang luar.
Waktu istirahat tiba, berbeda dengan kebiasaan hiking atau lintas alam yang sering kita lakukan di Negara kita, dimana setiap beberapa meter perjalanan kita selalu dipantau. Dan setiap sekian meter, akan ada pos dimana kita harus melaporkan kelengkapan regu dan nota perjalanan. Di sini, semua bebas, kita hanya di beri selembar kertas petunjuk dan selebihnya kita di suruh menggunakan panca indera kita untuk mencari petunjuk yang ada di jalan. Hanya ada satu dua pos yang berjaga, dan itu setelah beberapa kilo meter.
Pada saat istirahat, orang-orang Belanda baru mengeluarkan bekal mereka. Berbeda dengan adat kita, mereka dengan asik menikmati bekal mereka sendiri tanpa ada basa-basi sedikitpun. Spontan kami orang Indonesia hanya bisa diam, saling melihat satu sama lain dan mencoba menertawakan kebodohan kita, karena bekal kami sudah habis di awal perjalanan. Ingin rasanya membeli makanan cepat saji, tapi tidak bisa, karena yang ada disekeliling kami hanya padang rumput.  Okelah dalam hatiku, karena kami muslim, kami sudah terbiasa puasa. Jadi anggaplah kali itu kami sedang berpuasa.
Ditengah sejuknya angin padang rumput, di dukung cuaca yang tidak terlalu panas dan di tambah jauhnya jarak yang sudah kami tempuh, timbul keinginanku untuk buang air kecil. Baru aku merasa kebingungan. Akhirnya aku tegur Kindy,”ndi, mau kencing nih, masa kencing di sini?”
“Wah, ga tau Fik, kita kan sama-sama orang baru di sini”, jawabnya. Lalu kutanya temanku yang lain si Vicky,”Vick, gimana nih?” Dia hanya menjawab,”yaaah…mana aku tau”.
Dengan terpaksa, dan agak sedikit malu, ku sapa Caroline yang sedang menikmati santap siangnya. Sebenarnya bukan Caroline namanya, tapi karena wajahnya yang cantik, kurasa nama itu pantas untuknya.
“hey Caroline, am I disturb you?” tanyaku malu-malu.
“Oh… no! just say it”, jawabnya singkat, sambil menuntaskan kunyahanya.
“Ehmm… I wanna pee,” kataku kepadanya. Tapi dia langsung bertanya balik kepadaku seakan kaget,”what?”. Langsung perjelas lagi maksudku,”no… no… I mean, I want to have pee!”. Tetapi dia masih saja tidak faham,”What?”. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, apa aku salah menggunakan kosakata, atau memang benar-benar dia tidak faham.
Untung di Ponpes aku ikut ekskul teater, bagian pantomim. Spontan saja kuperagakan gerakan membuka celana seperti orang yang akan buang air kecil. Dan bravo, dia langsung faham. Lalu dia berkata,”Ok, but I’m sorry I can’t accompany you. I have to finish my lunch. It’s my friend, you may go with her, and she will show you the place, but she doesn’t speak English”.
“Ok… never mind, thank you!” jawabku.
Baru dari situ aku tahu. Ternyata tidak semua orang di sini suka berbahasa Inggris. Bahkan ada sebagian dari masyarakatnya yang memang anti Inggris. Tidak mau berbahasa Inggris, apalagi memakai produk buatan Inggris. Andai masyarakat Indonesia ada yang berani melakukan tindakan seperti tersebut. Mencintai dan menghargai segala yang berbau Indonesia mungkin kita sudah menjadi Negara maju saat ini.
Setelah menuntaskan keperluanku. Regu kami kembali berjalan. Dengan kondisi perut yang sangat butuh masukkan, kupaksakan kaki untuk terus melangkah. Sampai akhirnya kita sampai pada posisi dimana kita sudah tidak menemukan petunjuk sama sekali. Ku coba memperhatikan sekelilingku, barang kali ada tanda di pohon atau  di tanah. Tapi ternyata tidak ada.
Diam-diam kumencuri pandang ke wajah Caroline yang mulai memerah karena sengatan matahari. Dari air mukanya ia terlihat sedikit agak panik, sembari mencoba berdiskusi dengan beberapa temanya untuk mencari jalan keluar. Sementara kami, orang Indonesia hanya bisa mendengarkan omongan mereka yang mayoritas aksen suaranya keluar dari tenggorokkan. Ya, itulah ciri khas bahasa Belanda.
Tak lama kemudan, salah satu diantara mereka ada yang mengeluarkan hanphone dari dalam tasnya. Lalu percakapan pun terjadi. Entah apa yang dibicarakan pastinya itu isyarat untuk meminta pertolongan.
Setelah itu, aku dan rekan-rekan lainya hanya bisa menuggu di tengah luasnya padang rumput. Menikmati sepoi angin yang sudah dari tadi merayu untuk aku masuk ke alam mimpi. Aku jadi berkhayal, andai saja, sikap Caroline tidak sedingin itu. Mungkin aku akan berfikiran untuk menjadikanya teman dekatku. Haha.
Dari kejauhan terdengar suara mobil datang, dan benar itu mobil panitia yang sengaja datang menjemput kami. Akhirnya kebosanan yang entah dari kapan tertidur dijiwaku pun enyah seketika. Sudah tidak sabar rasanya ingin kembali ke camp. Menikmati istirahat siang sambil memulihkan kembali tenaga yang terkuras karena hiking aneh hari ini.

SIM (Surat Izin Mengemudi)




Di ulang tahunku yang ke-17 belas aku mendapatkan kado yang bagiku sangat berarti. Mungkin anak konglomerat, di usia tersebut dihadiahi mobil baru oleh orang tua mereka. Tapi berhubung aku bukan bagian dari mereka, orang tuaku menghadiahiku SIM nya saja. Terus terang, diperbolehkan membuat SIM merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku, karena memang sudah dari kecil aku hobi nyertir. Mulai dari TK, aku senang duduk dipangkuan supir jika sepupu atau pamanku yang mengemudikan mobilnya. Tidak ayahku pastinya, karena ia punya phobia nyetir mobil. Hingga akhirnya pada saat SD kelas 5 aku sudah bisa mengemudikan mobil sendiri, walaupun yang terlihat ketika aku mengemudi hanya mobil berjalan tanpa ada supirnya.
Nenekku sempat kaget,”piiii…!, calia’ ko ha, Zebra bajalan sandiyi”. Dengan bahasa Padang yang khas, mencoba memanggil ibuku. Ibuku anak paling kecil, sehingga di keluarga ia dipanggil Upi, panggilan khas orang Padang untuk anak perempuan paling kecil. Mendengar nenekku berteriak, ibuku langsung keluar dari rumah dan memastikan apa yang diucapkan nenekku barusan.”Oh… itu sih si Fiki Mi,” kata ibuku ke nenekku, yang memanggil nenekku dengan panggilan Mami. Dan mulai kelas 5 SD juga hiburanku sepulang sekolah adalah main mobil, karena di rumah tidak ada video game atau permainan anak seusiaku yang lebih menarik. Walaupun hanya di dalam komplek, itu sudah cukup membuatku mahir dari hari-kehari.
“Fiki…! Sini nak”, ibuku memanggilku.”Iya, ma…”, jawabku dari kamarku di atas. Lalu aku turun kebawah menemui ibuku.
“Ini KTP udah jadi, mumpung di rumah bikin SIM deh, jadi mama tenang kalau Fiki bawa mobil kemana-mana udah punya SIM. Mama tadi udah ngomong sama pak Marwi, papanya Aziz temen Fiki yang polisi itu. Katanya temen dia ada yang mau bikin SIM juga, jadi biar bareng aja, kan lebih gampang klo bareng polisi, trus Fiki perginya ajak bang Ade. Mama denger bang Ade mau sekalian perpanjang SIMnya. Nah, terus sekarang Fiki siap-siap, karena Pak Marwi sama temenya sebentar lagi datang”, kata ibuku panjang lebar. Mendengar itu hatiku langsung berbunga, ibarat pilot yang akan memulai jam terbang pertamanya. Yang ada di fikiranku saat itu, sebentar lagi aku bebas bawa mobil kemana-mana selagi di rumah. Karena bulan depanya setelah Idul Fitri aku harus balik ke pondok.
Waktu menunjukkan pukul 11.00, aku bang Ade, dan dua orang polisi lainyapun berangkat dari rumahku menuju Daan Mogot, tempat pembuatan sim untuk daerah Jakarta. Ketika itu, aku yang mengemudi. Dengan dua orang polisi di dalam, sudah barang tentu polisi di luar tidak berani menilang. Kalaupun diberhentikan paling hanya bilang,”mari pak”. Lalu dijawab,”mari”.
Adzan zhuhur berkumandang, tepat ketika aku sudah sampai di tempat pembuatan SIM. Karena waktu itu bulan Ramadhan, semangat untuk menjalankan ibadahpun meningkat 10 kail lipat. Maka kami memutuskan untuk menunaikan sholat zuhur terlebih dahulu. Karena perkiraanku, dengan dua orang polisi, proses pembuatan SIM tidak akan jauh berbeda dengan foto copy KTP. Tidak akan memakan waktu lama.
Seusai sholat, aku langsung menjalani proses, mengisi formulir dan sebagainya. Setelah semua selesai aku bertanya ke salah satu polisi,”mas, kita ga perlu ujian kan?” Lalu dijawab, “owh ujian dek, saya saja ujian. Sekarang kita tunggu giliran untuk ujian tulis”. Oh Tuhan, perasaanku langsung tidak enak. Pasti ini akan berjalan di luar rencana. Karena tidak ada yang namanya ujian SIM itu lulus, walaupun otaknya secerdas Habibie dan kemampuan mengemudinya melebihi Ananda Nicola, tetap saja klo tidak pake uang tidak akan lulus. Sudah menjadi rahasia umum birokrasi di Indonesia memang mental sogok, tidak lebih.
Ujian tulispun berjalan. Dan ketika itu pun aku berfikir. Kalau seandainya aku tidak lulus, tandanya orang tuaku salah menyekolahkan aku. Karena yang setelah aku perhatikan, soal ujianya tidak lebih susah dari soal ujian anak SLB. Sungguh formalitas yang di resmikan.
“Saudara Muhammad Fikry Yazid, Mengulang Ujian bulan depan”, tepatnya pasti tidak seperti itu, karena aku lupa tanggalnya. Ya, itu adalah hasil pengumuman ujian tulis. Aku tidak lulus dan harus mengulang. Dan apa yang aku prediksikan sebelumnya ternyata benar.
Dua polisi yang tadi bersamaku, mereka sedang mengikuti ujian praktek. Dan wujud mereka bersamaku, tidak lebih hanya seperti penumpang di pinggir jalan yang mencari tumpangan gratis. Bodoh dan tidak membantu sama sekali.
Sebenarnya hati nuraniku ingin mengikuti peraturan yang ada. Mengikuti ujian lalu mendapatkan SIM dengan cara yang lazim. Tapi mental pejabat kita yang mengatas namakan dirinya pengayom masyarakat hanya mental kecoa yang tidak pantas dihormati sama sekali, membuat aku atau kebanyakan masyarakat lainya berbuat seperti itu. Mencari jalan pintas yang lebih sedikit memakan biaya. Tetapi mungkin nasibku kurang beruntung, orang yang pergi bersamaku ternyata sama-sama kecoa yang yang ingin terlihat sebagai orang yang disiplin dengan mengajakku menuruti kemauan kecoa. Toh nanti di akhir aku harus memutuskan untuk terjerumus dalam perangkap kecoa-kecoa tersebut.
Banyak logika-logika bodoh yang aku temukan dalam birokarasi kepolisian di Indonesia. Dengan posisiku sebagai masyarakat yang butuh ayoman dan perlindungan, sudah seharusnya aku mempelajari sedikit tata cara mengadu dan menuntut hak sebagai warga Negara Indonesia.
Singkat cerita pada suatu ketika, aku bersama ibuku, pergi ke salah satu polsek di bilangan Jakarta, untuk melaporkan keadaan kami yang saat itu sedang dalam keadaan mencekam. Karena komplek pribadi tempat kami tinggal, didatangi enam belas preman dari salah satu ormas besar di Indonesia, yang mana mereka sengaja disewa untuk mengkudeta dan merebut paksa tempat kami.
Ibukupun menyampaikan laporanya, aku disampingnya hanya mendengarkan dengan seksama, dan memperhatikan gerak-gerik pak polisi yang sedang melakukan adegan mengetik layaknya di sinetron. “Terima kasih ibu, atas laporanya, sekarang ibu bisa kembali pulang, kita sejauh ini tidak bisa melakukan apa-apa sebelum ada tindak kriminal”. Oh God, ternyata hanya itu yang keluar dari mulut polisi tersebut setelah laporan panjang lebar dan keresahan yang kita rasakan. Jadi mereka baru bisa bertindak, kalau kami sudah teraniaya, atau terbunuh sekalipun. Dan sebelum ada kejadian, mereka tidak bisa memberi fasilitas perlindungan, walapun itu dibayar. Logika bodoh dari mana yang mereka pelajari.  
Itu baru sebagian, dan masih banyak lagi logika-logika bodoh yang aku sendiri tidak mengerti mengapa logika tersebut bisa terpatri kuat dalam sanubari mereka para polisi. Ada lagi yang mengatakan, “hilang ayam, lapor polisi jadi hilang kambing, atau dengan analogi lain hilang motor lapor polisi jadi hilang mobil”. Tidak heran kalau bangsa ini tidak maju-maju.
Waktupun semakin sore, bang Ade, sepupuku datang menghampiriku. “Gimana ki? Dah selesai?”
“Ga lulus bang?”, sambil kutunjukkan hasil ujian kepadanya.
“Lho, trus polisi yang tadi mana?” tanyanya lagi.
“Ga tau tuh, dah pulang kali”, jawabku lesu.
Lalu dengan sigap, sepupuku langsung mencari jalan. Kurasa dia lebih berpengalaman dari dua polisi bodoh yang menumpang di mobilku. Kami berdua langsung menuju ruangan tempat foto dan pencetakan SIM. “Bisa dibantu mba?” kata sepupuku ke salah satu petugas. Yang aku nilai dandananya agak kurang lazim bagi seorang polwan.
“Berapa SIM?” tanyanya.
“Dua mba, SIM A sama SIM C?”
“Berani berapa?”
“250 ribu deh mba 1 SIM”.
“Wah, udah sore nih, naikin lagilah”.
“Yaudah deh mba, 300 gimana?
“Ok deal, mari ikut saya”. Lalu kami beranjak menuju tempat seleksi hasil ujian. Berkas ujianku yang tadinya bertuliskan “tidak lulus” langsung diubah seketika menjadi “lulus”. Di sinilah aku terperangkap dalam jebakan kecoa.
“Dah, sekarang tinggal ke petugas ujian praktek, kasih aja 15 ribu nanti saya tunggu di kantor”, kata si nona polwan yang aku taksir baru berumur sekitar 30 an. Ternyata untuk kecoa yang mengawasi ujian praktek bisa dibeli hanya dengan 15 ribu.
Setelah semuanya beres, aku dan sepupuku kembali ke kantor polwan tersebut dan dengan atas nama keluarga entah aku menjadi siapanya akupun tidak tahu yang jelas akhirnya aku difoto, SIM di print dan taraaaa!! SIM A dan SIM C sudah bertengger di dompetku. 
Setelah itu, aku keluar kantor, dan bertemu dengan dua polisi bodoh yang ternyata mereka menuggu untuk menumpang kembali di mobilku. “Bagaimana dek?” Tanya salah satu dari mereka basa basi.
“Udah kelar, 300 ribu, dua SIM jadi 1jt sama formuilrnya” jawabku ketus. Memang sudah begitu tabiatku. Aku tidak akan peduli berbicara dengan siapa, selama boroknya sudah jelas dimataku. Ingin rasanya menyuruh mereka pulang sendiri, tapi  sudahlah, hal tersebut hanya akan membuat mereka terlihat lebih bodoh dari wujud aslinya.
Bagi polisi atau keluarga polisi manapun yang membaca tulisan ini. Tidak perlu tersinggung. Karena ini hanya suara hati masyarakat yang menuntut keadilan untuk kebaikan bangsa ini. Bekerjalah secara professional. Kita sudah memilih bidang kita masing-masing, gunakanlah sebaik-baiknya untuk kemajuan bangsa. Kalaupun Anda tidak terima, ketahuilah sebaik-baiknya pencitraan adalah dengan perbuatan. Benahi diri Anda dan jadilah yang terbaik untuk masyarakat. Marah-marah karena tulisan ini hanya akan membuat diri Anda kecil atau masalah ini menjadi besar.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa diantara polisi ada mereka-mereka yang disiplin, jujur, idealis, dan benar-benar mengayomi masyarakat. Tapi kebanyakan wajah yang tampil dimasyarakat ya wajah-wajah seperti dalam cerita di atas. Dan terakhir tulisan ini ada bukan karena kita benci polisi dari dalam hati tapi karena kita semua cinta Indonesia dan ingin ada perubahan yang mendorong bangsa ini untuk maju. Dimulai dari diri sendiri dan dari bidangnya masing-masing mari kita angkat martabat bangsa ini.




Disalip Itu




Terlahir ke dunia merupakan anugerah terindah bagi setiap manusia. Begitu pula bagiku, karena aku juga termasuk golongan manusia. Tapi ketika kelahiran dikaitkan dengan tempatnya, itu baru masalah bagiku terutama dimasa kecilku, dimana aku dan sepupuku yang lainya saling membanggakan tempat dimana ia dilahirkan. Sebenarnya memang bukan masalah kita dilahirkan dimana, tapi dilingkungan keluargaku, dilahirkan di rumah sakit itu lebih keren dari pada dilahirkan di bidan atau di dukun beranak. Memang sekilas terdengar aneh, tapi itulah faktanya, dan aku harus rela menjadi korban fakta aneh tersebut. 
Adjie, dia sepupuku yg paling akrab denganku. Tapi sayang dia sudah pergi lebih dulu. Sewaktu kecil kita saling olok mengolok tentang masalah yang barusan aku bahas. Dan sudah bisa dipastikan dia yg menang. Yaah...pertama karena dia dilahirkan di rumah sakit sedangkan aku di bidan, dan yang kedua dia tau karena sebab apa aku dilahirkan di bidan dan itu memalukan.
Jadi ketika sore hari, ibuku yang saat itu sudah mencapai usia 9 bulan mengandungku, merasakan sakit di perutnya. Karena melihat usia kandungan yang memang sudah waktunya, ayahku sebagai suami SIAGA (siap antar jaga) langsung mengambil langkah seribu untuk membawa ibuku ke rumah sakit yang ketika itu nenekku tercinta juga ikut mengantar, karena ibuku anak paling kecil.
Sesampainya di rumah sakit, ibuku langsung mengambil mengambil posisi dengan disertai rintihan ala ibu yang akan melahirkan. Di samping kirinya ada ayahku tak henti memberi semangat sambil terus berdoa. Dan proses itu pun dimulai.
Tukang parkir kamar bersalin mulai memberi aba-aba, yang pastinya tidak menggunakan peluit, "ayo ibu, tarik nafas dari hidung, keluarkan dari mulut. Tairk nafas dari hidung, keluarkan dari mulut", dan begitu seterus nya. Sepertinya isyarat tersebut sudah universal. Karena dari yang akan melahirkan betulan sampai anak kecil yang main papa-mama menggunakan isyarat tersebut. Mendengar aba-aba tesebut ibukupun menjadi lebih semangat sembari beharap aku cepat keluar.
Dan selang beberapa menit, "hiyaat.....ciyaaah.....heh...eheh..eheh.Hiyaat....ciyaaah....heh...eheh..eheh", mungkin kurang pas klo aksen suara dianalogikan ke dalam tulisan, yaah selebihnya agar lebih pas Anda dipersilahkan untuk berimprovisasi.
Proses itupun berlanjut, hingga akhirnya keluarlah... Preet!! Brobot...brobot!! Dan yang ini juga kurang pas, jadi sekali lagi silahkan berimprovisasi. Yaaah...ternyata setelah rasa sakit yang amat. Aku yang ditunggu masih tertidur nyenyak di dalam sehingga benda itu menyalip kehadiranku dan mengotori seprei rumah sakit. Tapi aku bersykur, ia tidak mengambil jalurku, karena ia masih keluar lewat jalur takdirnya. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau jalurku ikut diambil. Mungkin cerita ini akan menjadi tidak jauh berbeda dengan cerita bus malam yg ugal-ugalan.
Dan setelah semuanya rapi, kedua orang tuaku dan nenekku kembali pulang diringi lambaian tangan suster-suster dan dokter yg tadi ada dikamar bersalin. Mungkin mereka terlihat tersenyum ramah, tapi aku bisa pastikan dalam hati mereka bekata,"duuuuh si ibu, klo mau itukan kita bisa pinjemin toilet...!".
Setelah sampai di rumah, mungkin terjadi percakapan, tapi tidak perlulah dibahas disini karena sudah harga mati itu lebih memalukan dari yang sebelumnya.
Selang beberapa waktu kemudian,"bang tolong bang perutku sakit lagi", kata ibuku kepada ayahku. Tapi karena ayahku lelaki sejati, ia tidak mau terjerumus ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Disamping jarak rumah sakit yang jauh, menjadi buah bibir suster serumah sakit sudah cukup menjadi pelajaran baginya.
 Akhirnya dibawanyalah ibuku ke bidan terdekat. Bidan Sri namanya. Sengaja aku tuliskan nama bidan tersebut, karena sewaktu aku balita, setiap melewati rumah bidan tersebut aku selalu tiba-tiba bahagia tidak jelas sambil berteriak ke ibuku,"ma, itu lumahnya bidan Sli ma, liat ma itu lumahnya bidan Sli! Lalu ibuku menjawab dengan penuh kasih sayang,"yang mana?".
Lalu kusambut lagi,"yang itu ma yang walna putih".
"Owh iya...dulu Fiki lahir di situ ya?" kata ibuku menanggapi celoteh ku.
"Iya ma", celotehku lagi. Parahnya, sampai saat ini yang aku tau dari bidan Sri hanya bangunan rumah betingkat berwarna putih yang di depanya dipasang plang bertuliskan "Bidan Ny. Sri" tanpa tau orangnya. Sebenarnya ada nama panjangnya, tapi lupa.
Selang beberapa lama sesampainya di bidan..."e..e..ea..ea...ea.. E..e..ea..ea..ea! Untuk aksen yang ini sudah bisa kupastikan 85% pas dengan aslinya, walaupun agak lebih mirip bahasa alay. Tapi nanti dulu, sebenarnya bukan suara bayi yang mirip bahasa alay, tapi bahasa alay yang meniru suara bayi. Secara tidak langsung bisa dibilang alay itu bayi yang terkurung dalam tubuh dewasanya.
Dan akhirnya setelah melewati penantian panjang, lahirlah Aku dengan selamat. Mungkin saat itu sebenarnya aku tertawa, dan tangis yang timbul hanya karena aku menjalankan titahku sebagai bayi. Kalau boleh jujur, kisah gagalnya aku dilahirkan di rumah sakit masih kontroversi, apakah itu benar terjadi, atau hanya bualan sepupuku untuk membuli aku. Tapi kalau keotentikan kelahiranku di bidan itu 100% original.  Yaaah ......biar sajalah. Toh akhirnya aku lahir dengan selamat. Dan kisah ini biar saja terukir dalam bentuknya yang aneh...

Friday, July 29, 2011

The Great Family

Sebuah keluarga besar yang rukun, saling menyayangi dan menghormati merupakan dambaan setiap manusia, apa lagi jika keluarga tersebut melukiskan kehidupan islami yang penuh cinta. Di dalamnya ada ayah yang bijaksana, ibu yang penuh kasih, adik yang selalu menghibur, kakak yang selalu memberi arahan, kakek nenek yang karismatik, serta paman, bibi, kakak ipar, menantu dan semua sanak keluarga yang selalu menjaga silaturahim antara satu dengan yang lainya. Sungguh betapa indahnya corak lukisan keluarga tersebut.

Walaupun di pagi hari masing-masing di sibukkan oleh urusan pribadi, baik yang mecari nafkah, bersekolah, atau mengurus pekerjaan rumah tangga, tapi ketika di malam hari adalah waktu untuk bercengkrama dan menebar senyum dan tawa di tengah-tengah hangatnya sebuah keluarga besar. Setiap kepala menceritakan satu hari yang penuh liku dan masalah, tapi ketika semua di lontarkan di tengah keluarga, seakan masalah dan masalah bukan menjadi masalah. Semua penat tercurah dan leleh dalam sekejap oleh kehangatan sentuhan kasih keluarga......

Aaahh........!!!
Seungguh indah membayangkan wujud sebuah keluarga yang seperti itu dalam sebuah khayalan.

Sebagai manusia yang di beri memori untuk berangan, rasanya sah-sah saja aku mendambakan sebuah keluarga besar yang demikian. Jangankan aku, orang yang tidak punya keluarga sekalipun sangat di perbolehkan untuk bermimpi mempunyai keluarga besar yang rukun dan akur.

Tapi sungguh di sayangkan, dan ingin rasanya hati ini terus merintih ketika harus berhadapan dengan realita kehidupan yang terjadi di sekeliling kita.

Ternyata lukisan keluarga yang terpampang di atas hanya bisa di wujudkan di dalam angan, dan sangat sulit untuk di bawa ke dunia nyata tempat di mana kita semua menghirup nafas.

Di zaman yang kita jalani sekarang keluarga sudah seperti bukan keluarga. Sudah terlalu banyak kakak yang tidak menganggap adiknya, ayah mengabaikan anaknya, paman mencerca ponakanya dan masih banyak lagi fenomena nyata tentang sebuah keluarga berantakan yang terjadi di sekeliling kita.

Mungkin saat kita mempunyai tubuh keluarga besar yang utuh, kita bisa bertanya-tanya "mengapa keluarga si A bisa tidak akur ya?" Atau pertanyaan lain yang bentuknya sama, "mengapa Paman si C tega menjebloskan ponakanya sendiri ke penjara?" Atau bahkan yang lebih dari itu, "ko bisa ya, Si M mendurhakai ibunya sendiri?", semua pertanyaan itu sangat sah untuk terlontar ketika keutuhan masih terjaga dalam keluarga kita. Tapi ketika suatu saat, hal yang sama atau sejenisnya terjadi kepada kita. Toh kita hanya bisa diam, dan baru menyadari, bahwa kehancuran sebuah keluarga bukan hanya milik si A, si C, atau si M, tapi yang demikian pun bisa kita miliki. Dan ketika itu kita baru akan benar-benar menyadari, bahwa manusia yang hidup di zaman ini sudah semakin dikit yang memiliki nurani dan akal sehat. Mereka lebih mengedepankan nafsu dan emosi sebagai solusi permasalahan. Dan sudah jelas, ketika nafsu dan emosi bebicara, bukan problem solving yang menjadi ending-nya, tapi masalah baru yang muncul akan lebih memperkeruh suasana.

Boleh manusia merasa dirinya benar. Tapi ketika kebenaran tidak datang dari nurani dan akal sehat, yang ada hanya egoisme dan usaha untuk menang, benar atau salah. Dengan alasan harga diri sang paman enggan meminta maaf ketika ia berbuat salah kepada ponakanya. Dengan alasan nama baik sang bapak menutupi kesalahan anaknya yang jelas salah, bahkan tidak sedikit bapak yang berani membenarkan kesalahan anaknya. Dan dengan berbagai alasan satu sama lain antara keluarga menutupi keboborokan hubungan kekeluargaanya tanpa adanya upaya menuju sebuah perbaikan.

Yaaah............!!! seperti inilah potret masyarakan kita. Di zaman sepertih ini tangan tak mampu berbuat banyak, mulut enggan berkata-kata, dan akhirnya hanya hati yang berani mengumbar isyarat bahwa itu SALAH. Lalu berakhir tanpa ada solusi untuk berubah menjadi baik.

Tiada lagi tempat untuk mengadu antara sesama, tiada lagi tempat untuk mendapat perlindungan agar aman. Dan tiada lagi tempat untuk sekedar meringangkan sedikit beban yang sudah sejak lama membebani pundak kehidupan.

Dan Sebagai hamba yang lemah, hanya kepada Allah lah tempat kita mengadu dan memohon pertolongan, agar kita semua di beri kekuatan untuk menjadi hamba yang tau diri dan tau malu. Lalu dengan begitu kita mampu utuk berbuat lebih baik, yang pastinya tidak hanya untuk kita, tapi juga untuk keluarga besar kita tercinta. Amin.

Sunday, July 3, 2011

Kisi-kisi 1

Ada sebuah kisah menakjubkan di balik sosok Hasan Al-Bashri salah satu sahabat Rosulullah SAW. Di ceritakan bahwasanya beliau selalu menangis tersedu-sedu selama 50 th setiap kali bermunajat kepada Rabb-Nya.
Lalu pada suatu ketika beliau ditanya,"mengapa engkau selalu menangis tersedu-sedu seperti itu?" lalu beliau menjawab, "aku telah melakukan sebuah dosa". Lalu ditanya kembali," dosa apa yang telah engkau lakukan sehingga membuatmu menangis tersedu-sedu selama 50 th..?" maka beliau pun bercerita.
"Jadi pada suatu hari, aku kedatangan seorang tamu, kemudian aku hendak menyuguhkan tamu itu sebuah makanan dari dalam rumahku. Tapi sayangnya makanan itu masih basah, dan rasanya kurang pantas jika aku menyuguhkanya dalam keadaan basah. Ketika aku hendak mengeringkan makanan tersebut, aku mengambil potongan tanah dari rumah tetanggaku untuk mengeringkan makanan tersebut. Dan perbuatan itulah yang membuatku menangis tersedu-sedu selama 50 th".
Kemudian beliau ditanya lagi," bukankah engkau bisa meminta maaf kepada tetanggamu, agar ia mau memaafkanmu dan mengikhlaskan sepotong tanah yang telah kau ambil dan dengan begitu akan membuat-mu lega?"
"Ya, aku sudah meminta maaf kepadanya, dan ia juga sudah memaafkanku serta mengikhlaskan sepotong tanah yang kuambil itu", jawabnya.
"Lalu apa yang membuatmu mengangis seperti itu?" beliau ditanya kembali.
Beliau pun menjawab," aku takut, ketika aku nanti berhadapan dengan Rabb-ku yang telah meciptakanku, lalu Rabb-ku bertanya kepadaku, wahai hamba-ku, dimana kau taruh pengelihatanku atas mu, ketika kau ulurkan tangan-mu mengambil sesuatu yang bukan hak-mu. Dan setiap kali aku membayangkan hal itu, aku selalu menangis tersedu-sedu".

Wahai aku yang selalu lalai dan selalu lupa........
Tidakkah cukup kisah tersebuk kau jadikan pelajaran. Sudah siapkah engkau menghadapi hari ketika kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu di dunia......
Robbi ighfirlii wa tub 'alayya..........